menulis wartamerta bahasa?

12 November, 2009 | Edisi: | Kategori: Ragam, Tulisan Musiman
menulis wartamerta bahasa?

menulis wartamerta bahasa?

Pengantar Redaksi: Pembaca yang berbahagia, tulisan berikut adalah sebuah catatan yang dipasang seorang rekan di akun-nya di situs-jejaring facebook.com. Atas izinnya, LIDAHIBU menggubahnya menjadi sebuah artikel untuk dimuat di edisi #8 ini. Tulisan ini adalah catatan rekan tersebut dari kuliah umum Prof. David Crystal yang diikutinya. Jadi, mayoritas isi tulisan adalah pemikiran-pemikiran yang disampaikan Crystal pada kuliah itu. Selamat membaca.

Salam saya untuk para pembaca LIDAHIBU.

Selasa 20 Oktober 2009 lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah kuliah umum yang diselenggarakan oleh American University. Kuliah menarik dan penuh ilham yang bertema Language Death: Writing the Obituary of Languages? itu diampu oleh Prof. David Crystal, yang juga penulis buku bernada sama: Language Death. Berikut adalah beberapa catatan yang bisa saya himpun dari kuliah tersebut.
Ada sebuah pertanyaan yang menarik muncul dalam kuliah itu: apa penanda bahwa sebuah bahasa dapat dikategorikan sebagai bahasa yang sudah mati? Ada dua pendapat yang mencoba menjawab pertanyaan ini. Yang pertama, bahasa disebut mati ketika penutur terakhir dari bahasa tersebut telah tiada. Yang kedua, bahasa disebut mati ketika penutur kedua terakhir dari bahasa tersebut telah masuk liang lahat. Lho, mengapa yang kedua terakhir? Ternyata, hal itu karena ada kemungkinan bahwa penutur terakhir adalah seorang linguis yang sedang mencoba mendokumentasikan bahasa tersebut.
Lalu, bagaimana kematian bahasa terjadi? Jawabannya: ya, terjadi saja. Hal yang membuat kita gundah-gulana adalah bahwa kelihatannya hampir tak ada yang peduli dengan proses matinya sebuah bahasa. Contohnya, berapa banyak sih dari kita yang tahu bahwa tanggal 4 November 1995 adalah hari terakhir bahasa Kasave hidup, karena hari berikutnya, 5 November 1995 adalah hari terakhir penutur terakhirnya? Pada 6 November 1995, bahasa Kasave telah berpulang entah ke haribaan siapa.
Sampai sekarang, tidak bisa dipastikan ada berapa banyak penutur terakhir di muka bumi. Tapi, tetap ada statistik yang bisa kita ketahui: 20% dari bahasa-bahasa di dunia akan mati dan 80% lainnya sedang dalam bahaya. Reratanya, setiap dua minggu, satu bahasa tumpas; dan kebanyakan belum sempat terdokumentasikan dalam bentuk tulisan.
Apa yang menyebabkan bahasa-bahasa mati? Ada beberapa alasan. Pertama, tandasnya jumlah masyarakat penutur. Hal ini dapat disebabkan oleh bencana alam, seperti Tsunami. Ada satu contoh: di tahun 1998, Tsunami menghantam sebuah pulau (sayang saya lupa nama pulaunya) yang menjadi tempat tinggal dari para penutur 4 dialek sebuah bahasa. Walaupun keempat dialek itu termasuk dalam satu bahasa, tapi keempatnya saling berbeda dan punya cirinya masing-masing. Tsunami menewaskan seluruh masyarakat penutur 4 dialek tersebut. Bersamaan dengan itu, tewas pulalah 4 dialek mereka.
Kedua, alasan politik. Biasanya terjadi karena ada konflik politik. Contohnya, yang terjadi di Spanyol. Fransisco Franco Bahamonde (1892-1975), penguasa Spanyol berdarah Catalan, membuat peraturan yang melarang etnis minoritas Basque untuk menggunakan bahasa mereka. Alasannya, Franco berniat meredam gerakan separatis etnis Basque.
Ketiga, globalisasi. Globalisasi adalah alasan utama dan paling terlihat sebagai penyebab kematian bahasa-bahasa. Globalisasi menawarkan bahasa ‘baru’ yang dilafalkan oleh masyarakat penguasa. Globalisasi membuat kita menyangka bahwa kalau kita tidak berbicara dalam bahasa ‘baru’ itu, kita akan menemui kesukaran dalam memperoleh mata-pencaharian; bahwa berbicara dalam bahasa (kita) yang kuno tidaklah sekeren berbicara bahasa ‘baru’; bahwa bahasa ‘baru’ akan mendorong kita untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Pemikiran-

pemikiran inilah yang mempercepat kepunahan bahasa-bahasa.
Adakah bahasa yang disebut bahasa global? Pembaca pasti sudah bisa menebak. Ya! Bahasa Inggris. Bahasa Inggris memang telah menjadi bahasa global. Tapi, di lain pihak, bahasa global ini mengakibatkan bahasa-bahasa lain menuju makamnya. Begitupun, tetap ada bahasa yang bisa bertahan dari terpaan ini. Bahasa Welsh, contohnya. Ketika taraf hidup masyarakat Welsh meningkat, ternyata kesetiaan untuk menggunakan bahasa Welsh pun menguat.
Lalu, pentingkah kiranya kita melestarikan bahasa-bahasa dunia? Bagi orang-orang apatis, mungkin hal ini tiada pentingnya. Mungkin juga, hal ini tiada bermakna bagi orang-orang yang masih menganggap bahwa multilingualisme adalah sebuah kutukan (orang-orang macam ini dipengaruhi oleh kisah yang tertera di Kitab Suci: kisah tentang Menara Babel). Bagi pembaca LIDAHIBU? Tentunya penting, ya.
Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan? Dokumentasi dan revitalisasi adalah jawabnya. Bagaimana caranya kita membuat orang-orang tertarik untuk melestarikan bahasa-bahasa lokal yang sekarat? Sebuah kerjasama harus dilakukan dengan pemerintah dan masyarakat lokal dan internasional. Misalnya, dengan kesepakatan untuk menetapkan hari bahasa lokal di suatu daerah. Untungnya, PBB dan UNESCO sangat mendukung hal ini. Contohnya saja, PBB menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu sedunia. Kita tinggal melanjutkan usaha-usaha ini. Percayalah, sebagian besar orang ingin bahasanya tetap ada. Usaha-usaha linguistik juga harus dilakukan. Melestarikan bahasa itu bukan tugas gampang. Kita harus bisa mendeskripsikan gramatika, fonologi, dlsb. dari bahasa yang hendak dilestarikan itu. Ada lagi? Ada! Lewat seni (termasuk sastra). Sudah jadi pengetahuan umum bahwa karya-karya seni punya pengaruh yang sangat signifikan untuk pelestarian bahasa. Bahasa Spanyol tidak akan cukup kuat bila tanpa Frederico Garcia Lorca; bahasa Inggris tidak akan cukup kuat tanpa William Shakespeare; bahasa Indonesia tidak akan cukup kuat tanpa Chairil Anwar; dan seterusnya. Jadi, pembaca, tulislah puisi, buatlah karya seni, tulislah lirik lagi, tulislah naskah drama, dengan menggunakan bahasa(-bahasa) Anda. Dengan demikian, akan banyak wartamerta (obituari) bahasa yang batal untuk ditulis!

Siegfrieda Alberti Mursita Putri
Alumnus Jurusan Kajian Bahasa Inggris,
Program Pascasarjana, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar