presiden satu word per menit

12 November, 2009 | Edisi: | Kategori: Liputan Khusus
presiden satu word per menit

presiden satu word per menit

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

(LI/Nusantara) Ketika menggelar sidang paripurna Kabinet Indonesia Bersatu II (23/10/09), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperkenalkan tiga semboyan (SBY menyebutnya tagline) pemerintahannya: ‘Change and Continuity’, ‘De-bottlenecking, Acceleration, and Enhancement’, dan ‘Unity, Together We Can’. Di Kompas (Sabtu, 24/10/09), versi Bahasa Indonesia dari tiga semboyan ini diikut-sertakan, dengan tanda kurung dan ditulis dalam huruf kecil: (perubahan dan keberlanjutan), (penguraian hambatan, percepatan, dan peningkatan), dan (bersatu, bersama kita bisa). Disamping keanehan penerjemahan kata unity menjadi ‘bersatu’, kita musti bertanya, apa pentingnya seorang presiden sebuah negara bernama Indonesia, yang bahasa nasionalnya adalah Bahasa Indonesia, membuat semboyan untuk menjadi panduan kerja para menterinya (yang semuanya orang Indonesia) dalam bahasa Inggris?
SBY memang seorang sosok yang paradoksikal. Awal April lalu, saat akan memberikan pidato di KTT G-20, SBY mengutarakan niatnya untuk melafalkan pidatonya itu dalam Bahasa Indonesia.
Seorang pengamat marketing politik dari Universitas Indonesia, Firmanzah, menyebut niat SBY itu sebagai sebuah politik pencitraan: agar SBY tidak dianggap sebagai seorang presiden yang kebarat-baratan.
Ini kutipan langsung kata-kata Firmanzah menanggapi hal tersebut, yang LIDAHIBU pungut dari inilah.com: “Itu (pidato) cari simpati. Ia ingin dianggap sebagai tokoh nasionalis, tidak dianggap sebagai pemimpin yang kebarat-baratan. Ini strategi yang diambil saat kampanye untuk meraih dukungan.”
Sikap linguistik SBY yang paradoksikal itu kemudian terlihat kental di sidang kabinet paripurna pertama lalu. Semboyan yang dituliskan dalam bahasa Inggris itu adalah bukti bahwa niat SBY untuk menggunakan Bahasa Indonesia saat berpidato di KTT G-20 hanyalah sebuah tindakan cari-muka di mata dunia. Bila saja sikap itu tulus, tentunya SBY akan konsisten menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dia pakai di luar lingkup ruang pribadinya.
Seperti yang diungkapkan pada rubrik Berita Gejala LIDAHIBU edisi #8 ini, penggunaan kata-kata bahasa Inggris untuk menamai konsep-konsep besar, dan Bahasa Indonesia untuk menerangkan konsep-konsep besar itu, menunjukkan bahwa SBY menempatkan Bahasa Indonesia pada posisi dibawah bahasa Inggris. Dalam konteks ajakan SBY bagi bangsa Indonesia untuk terus menegakkan jati diri Indonesia, seperti yang diungkapkannya dalam pidato pelantikannya, sikap linguistik ini dengan terang-jelas telah membuat SBY menjilat ludahnya sendiri. Penegakan Bahasa Indonesia adalah salah satu syarat utama untuk menegakkan jati diri bangsa Indonesia.
Ada cerita menarik lainnya tentang plin-plannya SBY dalam berbahasa. Saat membuka sebuah perhelatan akbar bertajuk ‘National Summit 2009 di Ballroom Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis 29/10/09 lalu, SBY, dalam pidatonya, lebih memilih untuk melafalkan versi Bahasa Indonesia dari tajuk acara yang diikuti tidak kurang dari 1500 peserta dari seluruh penjuru negeri itu: ‘Temu Nasional 2009′. SBY tetap konsisten dalam menggunakan istilah ‘Temu Nasional’, walau dibelakang mimbar tempatnya berpidato tertera jelas tulisan ‘National Summit 2009′. Di satu sisi, tindakan ini terlihat positif. Tapi, coba perhatikan data yang LIDAHIBU kutip dari www.tribun-timur.com ini: dalam pidato pembukaannya yang berdurasi 65 menit itu, SBY menyelipkan 73 kosakata bahasa Inggris dengan fasihnya.
Kata-kata semacam global imbalances, pro-poor, pro-job, partnership, dan inter state trade berpadu-ria, menari gembira, meliuk bebas di antara wicara SBY.
Jika sikap SBY yang lebih memilih untuk menggunakan ‘Temu Nasional’ alih-alih ‘National Summit’ dianggap sebagai ‘usaha nyata’ untuk mempromosikan Bahasa Indonesia, lalu kata-kata bahasa Inggris yang tetap saja tak terelakkan untuk dilafalkan dalam pidatonya itu harus disebut apa?
73 kosa kata bahasa Inggris dalam 65 menit: reratanya 1 kata per menit. SBY menunjukkan dua wajah linguistiknya sekaligus dalam satu kesempatan. Bahasa Indonesia hanya digunakan SBY sebagai dari bagian kampanye pencitraan dirinya saja, seperti yang dilakukannya di KTT G-20. Maka, ajakan SBY agar bangsa Indonesia menegakkan jati diri Indonesia adalah sebuah omong kosong. Inilah SBY: sang presiden satu word per menit.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar