Metafora Cicak Melawan Buaya
26 Desember, 2009 | | Kategori: Berita Gejala, KomikOleh Wahmuji
Metafora CICAK MELAWAN BUAYA telah merebak jadi pembicaraan hampir di semua media. Metafora yang kali pertama dipakai Komjen Susno Duaji, yang ketika mengucapkannya masih menjabat sebagai Kabareskrim Mabes Polri, telah menjadi jargon dan hadir dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pejelasannya di Rapat Kerja Komisi III DPR dan Kapolri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (6/11/2009), Susno Duaji mengatakan bahwa yang dimaksudkannya dengan perbandingan cicak-buaya adalah perbandingan alat penyadap KPK dan alat penyadap Kepolisian. Menurutnya, Kepolisian memiliki alat yang bisa menyadap sekaligus mendeteksi penyadapan. Sedangkan KPK mungkin tidak punya. Dalam klarifikasinya, Susno Duaji juga mengatakan bahwa dalam hal kekuasaan, KPK adalah buaya dan Kepolisian adalah cicak. Alasannya? “Karena (KPK) kalau menangkap orang nggak pakai izin,” katanya. Klarifikasi yang dibuatnya itu dilakukan di saat pencarian di google.com untuk cicak vs buaya telah mencapai lebih dari 200.000. Artinya, wacana perbandingan yang dilontarkannya telah mendapat tanggapan yang cepat dan banyak dari masyarakat. Wacana itu telah sampai pada pendikotomian antara KPK dan Kepolisian menjadi, misalnya: KPK adalah badan anti korupsi sedangkan Kepolisian badan yang pro korupsi.
Apa yang menarik dari metafora itu?
Beberapa pemerhati bahasa telah ikut andil dalam menganalisisnya. Salah satunya dilakukan oleh Salomo Simanungkalit. Ia menyatakan bahwa dalam KBBI semua edisi dan Kamus Umum ‘Mas Poer’, cecak diperlakukan sebagai varian baku dan cicak sebagai varian tak baku. Ini berbeda dengan pekamus John M Echols dan Hassan Shadily yang memutuskan cicak sebagai lema baku. Bagi Salomo Simanungkalit, atas nama proses ablaut dalam linguistik, cicak dan cecak tidak ada bedanya. Namun, ia menambahkan, bagi yang berketat-ketat dengan kebakuan, ia menyarankan untuk meringankan beban makna cicak menjadi hanya: binatang merayap, biasa hidup di rumah (pada langit-langit, di dekat lampu), makanannya binatang kecil (nyamuk dsb), sering berbunyi ‘cek, cek’. Apa maksudnya meringankan beban makna? Dalam KBBI, lema cecak memiliki tiga arti. Yang pertama adalah yang cicak, yaitu binatang tadi. Yang kedua adalah sebagai kata kerja dan berasal dari Minangkabau yang berarti cubit. Yang ketiga berpangkat kata benda dengan arti bintik-bintik atau belang-belang kecil.
Tulisan kebahasaan lain yang membahas CICAK MELAWAN BUAYA adalah karya Antyo Rentjoko dalam blognya (http://blogombal.org/2009/11/06/permainan-bahasa-dalam-cicak-vs-buaya/). Menurutnya, ada pola menarik dalam pengucapan metafora itu. Susno Duaji, polisi yang mengucapkannya, mengatakan cicak dahulu baru buaya. Ia tidak mengatakan BUAYA MELAWAN CICAK. Menurut Antyo Rentjoko, jika merujuk pada bahasa dan kelaziman, memang lebih enak untuk mengatakan ‘si kecil melawan si besar’. Lebih enak mengatakan ‘Daud lawan Goliath’. Sedangkan jika yang besar disebutkan di awal, kata yang cocok untuk jadi penghubungnya bukan melawan, melainkan menindas. Antyo Rentjoko juga menyinggung penyederhanaan yang dilakukan dengan memakai metafora, yaitu, ‘penyederhanaan kalimat adalah cara untuk mempermudah penyampaian pesan’. Apa yang dimaksudkannya dengan ‘penyederhanaan kalimat’ bukanlah ‘menyederhanakan kalimat yang rumit’, tetapi sebenarnya merujuk pada ‘penyederhanaan realitas menjadi sebuah kalimat yang sederhana’. Ia melanjutkan bahwa di dalam penyederhanaan ini, sebagai konsekuensinya, bisa timbul penyederhanaan masalah, bahkan pelencengan makna. Dalam kasus metafora CICAK MELAWAN BUAYA, Antyo Rentjoko bertanya apakah ‘persoalannya (hanya) membela KPK dan kedua komisionernya, atau membela spirit untuk memberantas korupsi’. Ia sendiri tidak menjawab atau menjabarkan lagi apa yang dipertanyakannya.
Salah satu pembahasan yang lain ditulis oleh Gunawan Muhammad (GM). GM mengawali eseinya dengan kalimat khas, ‘dan metafor pun menang’. Kalimat ini merujuk pada keliaran kata atau kalimat atau tuturan tertentu yang ketika diucapkan, ia bebas berkeliaran menciptakan makna yang bahkan ‘lepas dari keinginan sang pemakai pemula’. Dalam eseinya, GM menjabarkan beberapa hal, misalnya perbedaan simbol dan metafora, asal-muasal bahasa, dan beberapa poin lainnya. GM mengatakan bahwa metafora CICAK MELAWAN BUAYA, seperti halnya metafora pada umumnya, tidak berperan sebagai ornamen. Orang yang menganggap metafora cuma sekedar hiasan, menurutnya, tidak tahu bahwa bahasa dimulai dari ide. ‘Bahasa bermula dari tubuh. Bahasa berpangkal dari proses inderawi’.
Menurut GM, ada perbedaan fundamental antara simbol dan metafora: simbol dipilih dengan rencana yang sadar, metafor lahir lebih spontan; metafora lebih bergerak ke arah asosiasi ketimbang ke arah konsep. Ia beranggapan bahwa metafora lahir dari imaji. Berangkat dari pemahaman inilah, GM berkesimpulan bahwa metafora CICAK MELAWAN BUAYA ramai digunakan ‘mungkin karena imaji yang muncul dari dunia hewan itu mengasyikkan seperti sebuah fabel’. Berhubungan dengan fabel itu, GM menutup eseinya dengan pertanyaan, ‘tapi bukankah dongeng yang kita sukai bisa bercerita tentang hasrat dan cemas kita yang tersembunyi?’
***
Fokus Berita Gejala ini adalah melihat secara singkat CICAK MELAWAN BUAYA sebagai sebuah metafora. Untuk mampu memahami bentukan metafora, secara implisit kita akan memakai beberapa hipotesis yang dibuat oleh Olaf Jäkel dalam eseinya berjudul Hypotheses Revisited: The Cognitive Theory of metaphor Applied to Religious Text. Untuk memahami lebih rinci hipotesis ini, silahkan baca Olaf Jäkel (1993): ‘Economic Growth’ versus ‘Pushing up the GNP’: Metaphors of Quantity from the Economic Domain atau buku-buku lain yang berbicara mengenai teori metafora kontemporer, khususnya yang ditulis oleh Mark Turner dan George Lakoff.
Metafora ada dimana-mana. Orang Jawa sering bilang urip ki ming mampir ngombe (hidup itu cuma mampir minum). Makna yang sepintas hadir adalah bahwa hidup itu singkat. Namun, jika kita membandingkan dengan sebuah ungkapan yang akrab dalam bahasa Inggris, my life is stuck, misalnya, kita akan mengerti bahwa ada perbedaan besar di antara keduanya. Yang pertama membawa makna bahwa kehidupan di dunia itu singkat, dan kita, sebagai manusia, harus mempersiapkan diri untuk kehidupan selanjutnya, yaitu kehidupan akhirat. Yang kedua mengandaikan kehidupan dunia sepenuhnya. Yang pertama melihat kehidupan dunia sebagai bagian dari tiga alam yang harus dilewati manusia, yaitu alam rahim, alam fana, alam baka; yang kedua melihat kehidupan di dunia sebagai satu-satunya perjalanan yang memiliki tujuan, dan tujuan itu juga bersifat duniawi. Budaya yang berbeda melahirkan ungkapan yang berbeda, melahirkan metafora yang berbeda. Namun, yang pasti, metafora selalu hadir di kehidupan dan tidak hanya muncul dari karya sastra sebagai bentuk kreativitas puitis.
Metafora selalu lahir dari sebuah kondisi, yang dalam teori metafora kontemporer disebut sebagai domain sumber. Ungkapan yang disebut sebagai metafora merupakan domain sasarannya. Sekarang, mari kita lihat metafora CICAK MELAWAN BUAYA.
CICAK MELAWAN BUAYA adalah pengandaian dari konflik KPK MELAWAN KEPOLISIAN. Konflik yang terjadi itu dipahami dengan mengambil pengalaman dari domain lain, yaitu dunia hewan, cicak dan buaya. Fokus hubungan yang diambil antara dua domain itu, yaitu dunia hewan dan konflik KPK-KEPOLISIAN adalah soal kekuatan, soal kecil dan besar. KPK merupakan lembaga kecil, sedangkan KEPOLISIAN dianggap lembaga besar. Pemetaan metaforis ini bertentangan dengan apa yang sudah diklarifikasi oleh Susno Duaji bahwa pengandaian cicak dan buaya adalah pengandaian atas ALAT PENYADAP KPK dan ALAT PENYADAP KEPOLISIAN. Anehnya, metafora CICAK MELAWAN BUAYA tetap diasosiasikan dengan lembaga KPK MELAWAN KEPOLISIAN, bukan alat penyadapnya saja. Hal ini bisa terjadi karena apa yang dikatakan oleh Susno Duaji dalam klarifikasinya tidak mengena inti permasalahan yang sudah ada, yaitu fakta-fakta konflik yang terjadi selama ini antar kedua lembaga - kondisi yang mencipta metafora CICAK MELAWAN BUAYA, seperti, misalnya, rekayasa kasus Sigit-Chandra. Maka, ungkapan metaforis dan asosiasinya berkembang di jalur yang tidak diinginkan oleh penutur mulanya.
Jika ditarik lagi, ‘kriminalisasi’ terhadap KPK akan terkait dengan dugaan korupsi PT Masaro Radiokom dan kasus Bank Century. Membicarakan Bank Century, kita akan bertemu masalah lain lagi, yaitu penyelamatan Bank Century oleh Negara, khususnya oleh Boediono yang saat itu adalah Gubernur Bank Indonesia dan Sri Mulyani yang merupakan Menteri Keuangan. Membicarakan dana Bank Century, kita akan bertemu dengan fakta lain, yaitu pembiayaan kampanye SBY (Fajar Makassar, Jumat, 06-11-09). Realitas yang kompleks inilah yang kemudian disederhanakan dan dikonsepkan menjadi sebuah metafora yang menentukan cara pandang komunitas yang menggunakan dan mendengarnya. Memang benar bahwa metafora CICAK MELAWAN BUAYA lahir dengan spontan dan meminjam kata-kata GM, ‘yang berperan bukan konsep yang dipikirkan.’ Namun, apa yang dikatakan GM itu hanya benar jika dikaitkan dengan pengucapan metafora itu untuk kali pertama oleh Susno Duaji. Perkembangan pemakaiannya oleh masyarakat tidak bisa dipandang demikian. Juga, kita musti mempertanyakan juga klarifikasi Susno Duaji: apakah perkataannya jujur atau hanya untuk meredam konflik yang sudah berkembang? Artinya, kita harus melihat lagi, apakah ‘anasir dari bawah sadar yang bekerja’ di kepala Susno Duaji memang hanya masalah alat penyadap, bukan arogansinya atas besarnya lembaga kepolisian.
Metafora adalah permainan imaji, yaitu, sekali lagi, mentransformasikan sesuatu yang abstrak ke dalam sesuatu yang indrawi. Kembali lagi ke esei yang saya rangkum di awal tulisan ini, yaitu esei dari GM, imaji atas hewan bernama cicak dan buaya memang menarik untuk diambil sebagai sebuah ungkapan atas konflik yang terjadi. Namun, secara keseluruhan, esei GM cenderung mengabaikan realitas (konflik) yang telah terjadi itu - yaitu konflik KPK dan Kepolisian (dan Kejaksaan). GM hanya fokus pada penjabaran tentang binatang cicak dan buaya. Selain itu, dengan membandingkan metafora dan simbol secara sepintas, GM malah bermain-main dengan imaji atas pengandaian-pengandaian yang dihadirkannya, misalnya pungguk merindukan bulan (yang juga patut dipertanyakan keabsahannya). GM luput melihat adanya skema citra prakonseptual yang memberikan ‘landasan mengalam’ (experiential grounding) atas kerumitan konflik antara KPK dan Kepolisian. Maka, esei GM tidak mampu menghadirkan pembahasan metafora secara lengkap. Melihat metafora adalah melihat hubungan antara sebuah domain dengan domain lain. Hubungan yang dimaksud adalah hubungan yang tidak mengubah struktur dasar sebuah domain. Lembaga KPK dengan seperangkat jabatan di dalamnya tidak akan sebesar kepolisian. Hasilnya, binatang yang kecil melawan binatang yang besar. KPK dan Kepolisian ada di sebuah organisasi yang lebih luas, yaitu organisasi pemerintahan yang bergerak di bidang pemberantasan kejahatan. Begitu pun cicak dan buaya: keduanya berada dalam satu keluarga, yaitu hewan melata.
Kenapa metafora CICAK MELAWAN BUAYA begitu tersohor, dicomot oleh banyak orang, dan memakai (lagi) kata-kata GM, ‘lepas dari keinginan sang pemakai pemula’? Alasannya terkait erat dengan pengejawantahan sesuatu ke dalam sesuatu yang lain, seperti yang telah kita bahas. Orang butuh paham akan sesuatu. Orang ingin memahami konsep-konsep abstrak, konstruksi teoritis, dan skenario konspirasi yang rumit. Tidak seperti pendapat GM bahwa ‘kemenangan’ metafora ‘mungkin karena imaji yang muncul dari dunia hewan itu mengasyikkan seperti sebuah fabel’, Kebutuhan memahami-lah yang menjadi sebab utama ketersohoran metafora CICAK MELAWAN BUAYA. Metafora CICAK MELAWAN BUAYA hadir sebagai penolong atau jalan untuk menjelaskan hal-hal abstrak itu. Memang dimungkinkan, seperti yang diungkapkan oleh Antyo Rentjoko, penyederhanaan itu bisa menyederhanakan masalah yang ada, bahkan melencengkan makna. Namun, hadirnya sebuah metafora tidak musti dilihat dengan ketakutan akan kesederhanaan semacam itu. Persepsi inderawi justru akan menjadi jembatan untuk memahami kerumitan. Metafora justru menghadirkan landasan kognitif yang memberikan koherensi dan kesatuan pengalaman untuk melacak apa yang telah dan sedang terjadi.
***
Membicarakan sebuah metafora, dalam beberapa hipotesis yang secara implisit telah dijabarkan di atas, berarti membicarakan ungkapan metaforis sebagai cara pandang masyarakat penutur bahasa dalam melihat konsep-konsep abstrak, melihat tumpukan realitas - singkatnya melihat dunia. Kepopuleran CICAK MELAWAN BUAYA merupakan dampak dari kebutuhan masyarakat untuk memahami konflik rumit yang terjadi di kalangan elit KPK dan Kepolisian di Indonesia. Metafora adalah jalan pemahaman itu.


(1 votes, average: 4,00 out of 5)