Pragmatik 3

26 Desember, 2009 | Edisi: | Kategori: Kultukal

Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan

Dalam memo yang saya dapatkan dari pemimpin redaksi, tertulis dengan jelas bahwa sasaran kolom ini adalah ini dan itu. Dengan kata lain, pembaca akan dapat melakukan ini dan itu setelah membaca kolom ini. Lalu, mengapa encik dosen menggunakan ini dan itu? Apakah ini dan itu merujuk sesuatu? Ayo, berpetualang bersama encik dosen tamu lagi!

1.Tanpa menyebut nama, jika saya menyebut atap merah, mungkin lawan bicara saya akan merujuk istilah yang saya gunakan pada sebuah tempat makan yang secara harfiah memang beratap merah, dengan masakan yang serba Italia (tahu, kan? Kapan-kapan kita ke sana!)

2.Dengan kata lain, saya sudah membuat referen, sebuah tindakan dengan penutur, pembicara, atau penulis yang menggunakan sebuah unsur linguistik untuk membuat pendengar, pembacanya, lawan bicaranya mampu mengidentifikasi sesuatu yang disampaikan.

3.Nah, unsur linguistik yang disebut ‘pernyataan acuan’ bisa berupa kata benda, seperti Budi, buaya, piring, bakso, sang pengarang, pulau, cicak, seorang wanita, sebuah buku yang menarik, dan juga kata ganti (pronomina), seperti dia, itu, mereka (pernyataan tersebut bisa langsung digunakah tanpa tambahan unsur penjelas, misalnya Lihat itu!, Lihat dia!; atau dengan tambahan unsur penjelas, misalnya Lihat pria yang memakai kemeja biru itu!).

4.Oleh karena itu, keberhasilan penggunaan referen sangat berkaitan erat dengan tujuan dari penutur (misalnya, untuk mengidentifikasi sesuatu) dan keyakinan dari lawan bicara (bisa-atau-tidaknya lawan bicara mengetahui sesuatu yang disampaikan).

5.Selain itu, keberhasilan referen juga ditentukan oleh peran inferen (kesimpulan) karena, dengan tidak adanya hubungan langsung antara kata dan entitas (sesuatu yang berwujud), lawan bicara mempunyai tugas untuk menyimpulkan secara benar mengenai entitas manakah yang dimaksudkan oleh penutur dengan ‘pernyataan acuan’-nya itu.

6.Jangan berpikir bahwa semua referen akan mempunyai rujukan benda fisik yang nyata, referen juga bisa kita gunakan untuk sesuatu yang dianggap ada, tetapi tidak terlalu jelas, atau sesuatu yang kita ketahui tidak ada.

7.Nah, uraian nomor 6 berkaitan dengan ‘penggunaan atributif’ yang berarti ‘apa pun atau siapa pun yang sesuai dengan deskripsi’, misalnya peri gigi atau sinterklas (sesuatu yang tidak nyata, tapi berhasil diidentifikasi oleh lawan bicara).

Sudah kenyang? Sudah bisa ini dan itu?

Buku rujukan: Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar