Hari Jadi Pertama LIDAHIBU
28 Januari, 2010 | | Kategori: Liputan Khusus(LI/YGY) Senin, 30 November 2009, lalu LIDAHIBU merayakan hari jadinya yang pertama; sebuah perayaan hari jadi yang tertunda, mengingat genap satu tahunnya LIDAHIBU adalah 23 September 2009. Masa penantian selama dua bulan itu pun akhirnya terbayar lewat perayaan yang dilakukan dengan bersahaja ini.
Bertempat di gedung Multiculture Campus Realino, Mrican, Yogyakarta, sekitar pukul 17.30 WIB, acara pun dimulai. Regu Penyelenggara Perayaan Hari Jadi LIDAHIBU menggarap sebuah konsep perayaan hari jadi yang tak biasa, berbeda dengan konsep perayaan hari jadi yang kebanyakan orang pikirkan. LIDAHIBU membuat sebuah perayaan hari jadi yang mampu mewakili identitas sesuatu yang sedang berhari jadi itu: sebuah surat kabar bahasa. Ya, LIDAHIBU membuat sebuah perayaan bahasa. Hal itulah yang menjadi konsep yang diusung dalam perayaan hari jadi pertama LIDAHIBU.
Seperti apa saja wujudnya? Apa saja menu suguhannya? Di masa pra-awal acara, hadirin dipersilakan untuk menikmati suguhan, yaitu pemroduksian ulang sejumlah komik dan ilustrasi yang pernah dimuat di LIDAHIBU. Kemudian, para hadirin, yang jumlahnya sekitar 30 orang itu, diajak untuk menonton sebuah presentasi foto-foto hasil jepretan para juru foto LIDAHIBU, yang sengaja menyediakan waktu khusus untuk berburu foto-foto terbaru yang mewakili gejala berbahasa mutakhir lewat baliho, spanduk, gambar di dinding gedung kota, dlsb. Sebuah suguhan menarik lainnya juga telah menanti. Pertunjukan pantomim yang diusung untuk mengejawantahkan ide tentang perjalanan kebahasaan seorang penutur pun disajikan. Setelah itu? Ada film pendek. Film yang diberi judul Pollung ini (pollung adalah sebuah kata dari khazanah kata bahasa Batak Toba yang ditawarkan oleh Salomo Simanungkalit untuk menjadi padanan istilah talk show) digarap oleh LIDAHIBU sebagai sebuah persembahan khusus di hari perayaan hari jadi LIDAHIBU ini. Film itu bercerita tentang sekelompok muda-mudi yang berasal dari berbagai daerah, dengan bahasa daerahnya masing-masing. Mereka diceritakan dapat berkomunikasi dengan fasih, walaupun masing-masing menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Sambutan terhadap film ini ternyata cukup meriah. Setelah itu, barulah hadir puncak acara: ritual potong tumpeng sebagai penanda simbolik perayaan hari jadi LIDAHIBU. Seluruh kerabat kerja LIDAHIBU, kecuali Norie Paramitha (penggambar Ilustrasi) yang berhalangan hadir karena sedang tidak berada di Yogyakarta, maju ke hadapan para hadirin, pembaca setia LIDAHIBU, untuk mengumandangkan usia satu tahun mereka, dan betapa mereka berterimakasih pada para pembacanya, masyarakat yang terus memompa nafas untuk kelanjutan hidup surat kabar bahasa ini. Lalu, acara dilanjutkan dengan hiburan musik dan makan kudapan bersama. Lagu-lagu yang dilantunkan dengan merdu oleh biduan pun bukan lagu-lagu biasa, melainkan lagu-lagu yang mewakili keragaman bahasa Nusantara, serta bahasa yang pernah dan masih hinggap di Indonesia. Itulah acara pemungkas yang sekaligus menutup perayaan hari jadi LIDAHIBU 30 November yang lalu.
Apa yang bisa ditarik dari bentuk-bentuk acara tersebut? Untuk mengejawantahkan konsep perayaan bahasa, LIDAHIBU mencoba merangkum konsep itu dalam sebuah tajuk: “Lihat-Dengar Bahasa: Sebuah Pameran”. Ya, semua yang ditampilkan dalam acara kemarin itu adalah sebuah pameran bahasa. Lalu, apa maksudnya kata majemuk lihat-dengar? Kalau pembaca perhatikan, seluruh bentuk acara yang digarap LIDAHIBU di hari perayaan hari jadinya adalah acara yang memanjakan indera lihat dan dengar. Pameran bahasa yang diusung LIDAHIBU memang dibuat untuk menghadirkan gejala berbahasa di Indonesia lewat bentuk-bentuk netra dan rungu (audio dan visual). Menurut para konseptornya, pola ini dirumuskan lewat pembacaan terhadap tabiat manusia penutur masa kini yang lebih cenderung tertarik pada rangsangan-rangsangan netra dan rungu. Penghadiran wacana linguistik dan kebahasaan lewat unsur-unsur netra dan rungu ini merupakan sebuah ranah yang jarang dijamah dan didayagunakan. Maka, LIDAHIBU merasa tertantang untuk men-sangkilmangkus-kannya dan mewujudkannya. Hasilnya, sebuah perayaan bahasa dalam bentuk pameran dengan bentuk-bentuk acara seperti yang sudah digambarkan sebelumnya tadi.
Perayaan ulang tahun ini juga digunakan LIDAHIBU sebagai ajang untuk mempertemukan pembaca LIDAHIBU dengan pembaca LIDAHIBU lainnya; juga sebagai ruang untuk bercengkrama, bertemu dengan orang-orang yang berada di balik meja redaksi, yang melakukan seluruh kerja penulisan, penataletakan, pencetakan, sampai penyebaran surat kabar LIDAHIBU. Singkatnya, mempertemukan LIDAHBU dengan pembacanya secara ragawi.
Ditemani kudapan kecil, berupa jajanan pasar khas Nusantara, segelas teh hangat, petikan gitar dan lantunan merdu suara biduan yang menyanyikan lagu-lagu yang memanjakan telinga lewat lirik serta nadanya, tembok-tembok yang membatasi dengan tegas ruang tertutup tempat acara dilangsungkan seakan-akan runtuh; para hadirin dan kerabat kerja LIDAHIBU mencair melebur dalam sebuah ruang baru yang bebas batas. Luar biasa sekali rasanya.
