Noam Chomsky

30 Januari, 2010 | Edisi: | Kategori: Tokoh Bahasa

Noam Chomsky

Noam Chomsky

Oleh Maria Anindita

Noam Chomsky, seorang profesor linguistik dari Institut Teknologi Massachusetts, adalah salah satu tokoh yang paling kritis terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Keahliannya dalam bidang Linguistik membawanya dalam pembelajaran politik. Namanya sempat masuk dalam daftar musuh Gedung Putih pada masa pemerintahan Richard Nixon karena gagasan-gagasannya yang radikal mengenai berbagai kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia pun pernah ditangkap dan diinterogasi petugas keamanan karena gagasan-gagasannya itu, yang kemudian membuatnya bertanya-tanya, apakah ia tinggal di Amerika Serikat atau di negeri lainnya.

Tulisan, artikel, dan pendapatnya sering berbeda dengan pandangan umum dan memberikan arti baru dalam berbagai istilah dan peristiwa. Hal tersebut kemudian mengundang serangan dari kalangan tertentu dan pemahaman baru terhadap hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya. Lewat pandangan atau buku-bukunya, Chomsky memberikan pencerahan, pemahaman, dan pembukaan tabir ragam problematika politik dunia yang dikendalikan AS. Buku Pirates and Emperors: International Terrorism in the Real World (1986) yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Menguak Tabir Terorisme Internasional (Mizan, 1991), misalnya, sangat membantu kita untuk memahami isu terorisme yang saat ini sedang berkembang. Dalam buku itu, ia juga membahas sejumlah istilah yang terkait dengan terorisme yang maknanya telah disimpangkan di panggung politik internasional.

Chomsky lahir di tengah keluarga yang berpendidikan tinggi. Ayahnya dikenal sebagai ahli gramatika bahasa Ibrani yang menulis sejumlah karya gramatika bahasa itu. Selain memperkenalkan bahasa dan warisan budaya leluhurnya, Yahudi, ayah Chomsky juga mengenalkan tradisi intelektual. Sementara itu, ibunya, yang memiliki kecenderungan kekiri-kirian, menekankan pentingnya keseimbangan untuk bertindak sebagai pemikir yang sekaligus aktivis.

Pamannya pun ikut andil dalam mempengaruhi arah watak intelektual Chomsky dengan mengenalkannya pada tokoh-tokoh pemikir terkemuka, seperti Sigmund Freud dan berbagai aliran komunis, seperti Marxisme, Stalinisme, Trotskisme, Leninisme, dan lain-lain. Toko pamannya, yang menjual berbagai koran dan majalah di New York, menjadi tempat berkumpulnya para intelektual Yahudi di New York. “Kelas pekerja Yahudi di New York memang berbeda. Intelektualitas mereka sangat tinggi, sekalipun sangat miskin. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki pekerjan. Tapi, mereka hidup di tengah lingkungan yang kaya secara intelektual. Saya pikir ini merupakan masa yang paling berpengaruh di masa remaja saya,” kenang Chomsky.

Selama lima dasawarsa ini, Chomsky telah menjalin kontrak secara langsung dengan lebih dari 60 penerbit di seluruh dunia dan sudah menulis lebih dari 30 buku bertema politik. Dan baris-baris kalimat dalam tulisannya muncul di lebih dari 100 buku, mulai dari karya ilmiah tentang linguistik, politik hingga kumpulan kuliah, wawancara, dan esai.

Tidak banyak barangkali sosok penulis buku laris yang bersikap seperti seperti Noam Chomsky. Baginya, menulis buku adalah perpanjangan dari aktivitas politiknya. Jika sebagian besar penulis menghabiskan energinya untuk mencemaskan promosi dan penjualan buku mereka, Chomsky tidaklah demikian. Pengkritik yang aktif mengomentari kebijakan politik luar negeri AS ini selalu menolak melakukan tur standar untuk mempromosikan bukunya. Chomsky bahkan tidak begitu peduli dengan urusan uang muka royalti, pasal-pasal dalam kontrak, dan hak-hak yang diberikan penerbit.

Itulah sekilas tentang kehidupan Chomsky. Sekarang kita masuk ke pencapaian linguistiknya. Ulasan yang enak dibaca mengenai prestasi Chomsky dapat ditilik dari tulisan John R. Sealle berjudul Chomsky’s Revolution in Linguistics. Berikut penjelasan singkatnya.

Chomsky menemukan bahwa metode linguistik struktural yang berhasil dipakai untuk menjelaskan fonem dan morfem, ternyata tidak terlalu berhasil dipakai pada kalimat. Tiap bahasa memiliki jumlah fonem dan morfem yang terbatas dan daftar atasnya mungkin untuk dibuat. Namun, jumlah kalimat pada, misalnya, bahasa Inggris atau bahasa Prancis bisa dikatakan tidak terbatas. Tidak ada batasan pada jumlah kalimat yang bisa dibuat dan tiap kalimat itu, tidak peduli seberapa panjangnya, selalu mempunyai kemungkinan untuk memunculkan kalimat yang lebih panjang lagi. Di dalam asumsi para strukturalis, untuk menjelaskan bahwa bahasa memiliki jumlah kalimat yang tidak terbatas itu tidak gampang.

Metode pengklasifikasian oleh para strukturalis juga tidak mampu menjelaskan semua relasi yang ada di dalam maupun di luar kalimat. Ini terlihat pada dua kalimat “John is easy to please” dan “John is eager to please“. Keduanya memiliki struktur tata bahasa yang sama tetapi tata bahasa kedua kalimat ini sebenarnya berbeda. Arti kalimat pertama adalah “John mudah dibuat senang”, sementara arti dari kalimat kedua adalah “John ingin membuat orang senang”. Tidak ada cara yang mudah dan natural untuk menjelaskan fakta-fakta seperti ini di dalam asumsi para strukturalis.

Fakta sintaktis lain yang tidak mampu ditangani oleh para strukturalis adalah keberadaan kalimat-kalimat taksa yang ketaksaannya tidak disebabkan oleh kata melainkan oleh struktur kalimat. Agar kening tidak berkerut terus, kita lihat fenomena ini pada contoh kalimat “I like her cooking“. Walaupun kalimat ini tidak mengandung kata yang ambigu dan struktur kalimatnya juga sederhana, kalimat ini tetap ambigu. Kalimat ini bisa berarti “Aku menyukai apa yang dia masak”, “Aku menyukai caranya memasak”, atau “Aku menyukai fakta bahwa dia memasak”.

Salah satu jasa Chomsky adalah dia memunculkan permasalahan yang selama ini diabaikan oleh orang-orang, yaitu fakta-fakta yang sudah sangat familiar sehingga kita merasa tidak memerlukan adanya suatu penjelasan atas fakta tersebut: fakta-fakta yang selama ini diabaikan oleh para strukturalis bahasa.

Ketidakmampuan para strukturalis dalam menjelaskan fakta-fakta sintaktis itu membuat Chomsky menantang tidak hanya metode, tetapi juga tujuan dan definisi pokok persoalan dari Linguistik yang diberikan oleh para ahli bahasa strukturalis. Alih-alih mengklasifikasikan elemen dengan menunjukkan serangkaian eksploitasi pada bahan pengucapan, Chomsky berargumen bahwa seharusnya tujuan dari pendeskripsian linguistik adalah untuk menggagas teori yang akan menerangkan jumlah tak terbatas atas kalimat-kalimat dari bahasa yang alami. Teori seperti itu akan menunjukkan jalinan kata mana yang merupakan kalimat dan mana yang bukan, dan akan menyediakan pendeskripsian struktur tata bahasa dari tiap kalimat.

Pendeskripsian semacam itu akan mampu menerangkan fakta-fakta seperti relasi internal tata bahasa dan keambiguan yang dideskripsikan di atas. Pendeskripsian dari tata bahasa akan menjadi teori deduktif formal yang berisi serangkaian aturan ketata-bahasaan yang bisa menghasilkan rangkaian tak terbatas kalimat-kalimat dari bahasa, akan menghasilkan sesuatu yang bukan merupakan kalimat, dan akan menyediakan pendeskripsian struktur tata bahasa dari tiap kalimat. Teori seperti itu disebut generative grammar karena dimaksudkan untuk menggagas suatu alat yang akan menghasilkan kalimat-kalimat dari suatu bahasa.

Gambaran dari tujuan linguistik ini kemudian mengubah pula pengertian dari metode dan pokok persoalannya. Chomsky berargumen bahwa objek pembelajaran yang tepat adalah pengetahuan mendasar akan bahasa dan kompetensi linguistik si penutur, yang membuatnya mampu memproduksi dan mengerti kalimat yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Metode yang diusung adalah prosedur evaluasi.

Penyebaran revolusi Chomsky adalah contoh penemuan dari fenomena Turk Muda (Young Turk) di kehidupan akademis Amerika. Para murid yang sudah lulus menjadi penganut generative grammar meskipun mereka berada di departemen yang memiliki fakultas penganut aliran tradisional. Saat itu, pandangan Chomsky telah menjadi kebijaksanaan yang sudah biasa, dan sementara Chomsky dan para muridnya menjadi Turk Tua (Old Turk), generasi baru dari Turk Muda (diantaranya adalah murid-murid terbaik Chomsky) bangkit dan menantang pandangan Chomsky dengan teori baru ‘Generative Semantics’.

Demikianlah deskripsi singkat tentang pencapaian-pencapaian Chomsky. Dari linguistik, ia merambah ke wilayah yang lebih luas dan praktis. Faedahnya tentu jadi lebih terasa.

  • Share/Save/Bookmark
(Berikan Rating)
Loading ... Loading ...

Berikan Komentar