Stilistika (1)
30 Januari, 2010 | | Kategori: KultukalOleh Norie Paramitha dan Wahmuji
Kita mungkin berkata,”gaya rambut terbarunya menarik perhatian”, atau “aku tidak suka gaya kepemimpinannya”, atau “rumah itu bergaya modern”, dan “gaya tulisannya begitu menghanyutkan”. Semua kalimat itu memakai kata ‘gaya’ yang dalam bahasa Inggris disebut ’style’. Nah, di topik ‘gaya’ itulah Kultukal kali ini akan bergumul: Stilistika. Berikut penjelasannya:
1. Stilistika (Stylistics) berasal dari kata style yang berarti ‘gaya’ dan linguistics yang berarti ‘ilmu bahasa’; maka stilistika dapat diartikan sebagai ilmu kebahasaan yang mempelajari gaya, atau ilmu mengenai gaya bahasa.
2. Akar Stilistika adalah Retorika, atau ilmu berpidato, yang pada abad pertengahan digunakan gereja, diplomat, dan pelaku politik untuk membuat pola tulisan, mempelajari seni berbicara, dan menyusun argumen untuk mendapatkan pengaruh yang kuat.
3. Setelah bercerai dengan tujuan-tujuan kejuruan dalam gereja, ilmu ini menjadi studi mekanis mengenai permukaan bahasa dan memasuki abad ke-19, ilmu ini berubah menjadi filologi, yaitu ilmu yang mempelajari evolusi bahasa, hubungan antar bahasa, dan berspekulasi tentang keaslian bahasa.
4. Pada abad ke-20, ilmu evolusi ini berubah fokus menjadi studi mengenai bagaimana bahasa sebagai sebuah sistem terstruktur, mengamati bagaimana makna dibangun, dan pilihan-pilihan yang ada dalam menyusun kalimat.
5. Pada titik inilah, unsur retorika lahir kembali, yaitu penekanan pada gaya tulisan dan efek yang ditimbulkannya, yang terlihat pada karya kaum formalis Rusia dan ahli bahasa dari Ceko, Roman Jakobson, pemimpin Prague Linguistic Circle.
6. Stilistika mengklaim objektivitas dalam kajian bahasa dan cenderung menguatkan pemisahan antara ilmu ’sastra’ dan ‘bahasa’.
7. Pada era 1980an, sebagai perlawanan terhadap ‘Stilistika Lama’, muncul apa yang disebut sebagai ‘Stilistika Baru’, yaitu ilmu yang tidak lagi mengklaim bahwa ilmu Stilistika, tanpa sumbangan dari penemuan-penemuan ilmu lain (feminisme, strukturalisme, pasca-strukturalisme, dan yang lainnya), mampu mempelajari sastra dengan objektif.
Nah, sejarah singkat Stilistika telah LIDAHIBU hadirkan. Semoga sejarah singkat itu mampu membantu kita memahami akar-akar Stilistika yang telah berkembang hingga saat ini, juga mampu membuat kita tergelitik untuk membaca lebih lanjut. Sampai jumpa di pembahasan lanjut mengenai Stilistika pada edisi selanjutnya.
Sumber: Peter Barry, Beginning Theory, 1995.
