Kerbau (dan) SBY

24 Februari, 2010 | Edisi: | Kategori: Berita Gejala

kebo (dan) sby

kebo (dan) sby

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting

Di Kodya Tebing Tinggi, Sumatera Utara, ada sebuah gedung cukup megah yang terletak di Jalan Sutomo, persis berada di samping SMPN 1 Tebing Tinggi, dan hanya berjarak satu atau dua lemparan batu dari rumah dinas walikota dan Tanah Lapang Merdeka (lapangan umum di kota kecil itu). Bangunan itu punya atap-depan yang unik, berwarna gelap seperti ijuk, dan di pucuk kerucutnya tertancap satu ornamen berupa kepala kerbau. Dulu, gedung itu digunakan sebagai kantor Bank Bumi Daya. Krisis moneter tahun 1998 menyebabkan Bank Bumi Daya, bersama beberapa bank lain, harus melebur ke dalam satu bank baru bernama Mandiri. Gedung itu pun menjadi kantor Bank Mandiri. Gedung dipugar disolek sana-sini, seperti hendak menghapus jejak ingatan akan krisis keuangan yang menyesakkan dada. Sampai sekarang ini, kepala kerbau itu masih tertancap di sana.

***

Bundaran Jakarta, 28 Januari 2010. Hari itu tepat 100 hari masa kerja pemerintahan jilid dua Susilo Bambang Yudhoyono. Di hari itu pula demonstrasi terjadi di Jakarta, Makassar, Yogyakarta, Medan, dan beberapa daerah lainnya. Demonstrasi di Bundaran Jakarta punya cerita khusus. Seekor kerbau menginjak nadi Jakarta, sejenak memacetkan aliran darahnya yang sibuk, mencuri perhatian para penghuninya. Kerbau tersebut tidak tampil polos. Di perutnya ada coretan cat-semprot putih, terbaca ‘SiBuYa’. Di bokongnya tertempel kertas putih bergambar wajah pria berpeci hitam, berjas biru, sedang tersenyum lebar. Di atas peci hitamnya itu, berteriak sebuah tulisan: ‘TURUN!!!!’

Kecuali warga negara Republik Indonesia yang bermukim di pulau-pulau terluar negara-bangsa ini (mereka yang masih mengira presiden Indonesia adalah Gus Dur atau Megawati karena keterbatasan fasilitas informasi), warga Indonesia pasti dengan mudah bisa mengenali gambar pria berpeci hitam tersebut, sama mudahnya seperti mengenali inisial ikonik dari kata-rekaan ‘SiBuYa’ yang terpampang di perut kerbau Bundaran Jakarta itu. Ya, gambar itu adalah gambar presiden Indonesia masa-kerja 2009-2014: Susilo Bambang Yudhoyono.

Sontak penghuni Istana Negara itu terhenyak. Selasa pagi, 02 Februari 2010, saat membuka rapat kerja pemerintah dengan seluruh menteri dan para gubernur se-Indonesia di Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat, SBY tak tahan bila tak melontarkan komentar khasnya, tentang unjuk rasa yang terjadi di Indonesia belakangan ini. SBY ternyata mengusulkan agar masalah unjuk rasa dibahas dalam rapat kerja pemerintah.

“Kita bahas juga, misalkan, unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini,” usulnya. Unjuk rasa yang seperti apa? Menurut SBY, yang seperti ini: “Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,” itu lengkapnya. Seperti apa hasil pembahasan masalah ‘unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila’ itu? Sampai sekarang tidak ada kabar tentangnya.

***

Apa yang membuat LIDAHIBU tertarik dengan peristiwa ini? Coba perhatikan perkataan SBY yang satu ini: “Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau.” Perhatikan cara dia memberi tekanan pada simile ‘kerbau’ sebagai ‘SBY malas, badannya besar’. Dari mana asosiasi ini berasal? Di jagad makna kata kerbau, dalam konteks demonstrasi, inilah ketertarikan LIDAHIBU berpusat. Bersama, kita akan coba periksa apakah di negeri Pancasila ini kerbau memang ‘berbadan besar’ dan ‘malas’. Atau, adakah tautan makna yang lain?

Mari kita tengok cara Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-4 mengartikan lema kerbau. Kerbau (kata benda) adalah ‘1 binatang memamah biak yang biasa diternakkan untuk diambil dagingnya atau untuk dipekerjakan (membajak, menarik pedati), rupanya seperti lembu dan agak besar, tanduknya panjang, suka berkubang, umumnya berbulu kelabu kehitam-hitaman; Bos bubalus; 2 (kiasan) orang bodoh.’

Sekarang, mari cerna berbagai peribahasa yang menggunakan kerbau, masih dengan acuan KBBI ed. ke-4: kerbau menanduk anak, ‘hanya pura-pura saja’; ‘tidak dengan sungguh-sungguh’; – punya susu, sapi punya nama, ’seseorang yg berbuat kebaikan atau bersusah-payah, tetapi orang lain yang mendapat pujian’; – runcing tanduk, ‘orang yang telah terkenal kejahatannya’; – seratus dapat digembalakan, manusia seorang tiada terkawal, menjaga seorang perempuan [sic!] lebih sukar daripada menjaga binatang yang banyak’; membeli — di padang, ‘membeli sesuatu dengan tidak melihat barang yang akan dibelinya’; menghambat — berlabuh, ‘mencegah sesuatu yang akan mendatangkan keuntungan atau kesenangan kepada orang; seperti — dicocok hidung, ‘menurut saja’.

Peribahasa yang tercantum di KBBI ed. ke-4 menunjukkan bahwa kata kerbau dapat dipakai untuk mengumpamakan sesuatu yang baik maupun buruk. Lihat peribahasa kerbau punya susu, sapi punya nama dan menghambat kerbau berlabuh. Kedua peribahasa itu menyiratkan bahwa kerbau dipakai untuk mengumpamakan hal-hal yang baik. Namun, lihat juga peribahasa kerbau runcing tanduk dan membeli kerbau di padang. Dalam dua peribahasa itu, kerbau digunakan untuk menjelaskan perihal yang tidak baik.

Yang menarik adalah cara KBBI ed. ke-4 memberi makna kiasan untuk lema kerbau: ‘orang bodoh’. Dari mana makna kiasan ini berasal? Apakah mungkin dari peribahasa seperti kerbau dicocok hidung, yang menyiratkan sebuah keadaan ‘takluk, menurut, kehilangan kemampuan untuk kritis, tak berdaya apa-apa lagi’ - maka: ‘bodoh’? Sebelum menjawab pertanyaan ini, baiknya kita tilik dulu seperti apa suku-suku di Nusantara ini memaknai kerbau.

***

Kita berlabuh di Sumatera. Setidaknya, ada dua suku besar di Sumatera yang memberi penghargaan tinggi pada kerbau. Sebutlah Batak dan Minang. Di Sumatera Utara, kerbau (Toba: horbo) menjadi entitas penting bagi masyarakat Batak Toba, Simalungun, dan Karo. Bagi masyarakat Simalungun, kerbau, disebut Pinar Uluni Horbou, dipakai sebagai hiasan rumah adat. Tidak berhenti sebagai ornamen saja, kerbau diambil sebagai sebuah lambang atas keberanian dan kesabaran; bahkan, kerbau juga dianggap sebagai penangkal roh jahat. Peletakan kepala kerbau (sebenarnya hanya bagian tanduknya saja yang asli, bentuk kepala dibuat dari anyaman ijuk) di pucuk atap rumah adat, sebagai hiasan, juga terdapat pada masyarakat Karo (disebut ayo-ayo) dan Toba (disebut ulu palung). Sebagai simbol sebuah nilai, kedua masyarakat adat itu menggunakan kerbau untuk melambangkan keperkasaan dan keselamatan.

Di tanah Minang, Sumatera Barat, kerbau juga memainkan peranan penting, contohnya pada upacara pengangkatan penghulu dan saat seseorang sedang mencari (melamar) menantu. Masyarakat suku Dayak Ngaju (Kalimantan), Toraja (Sulawesi Selatan), dan Sumba (Nusa Tenggara Barat) juga menempatkan kerbau sebagai bagian dari kehidupan adat mereka. Bahkan, bagi manusia Toraja, kerbau menjadi penanda bagi tingkat status sosial seseorang. Hal ini sangat kentara pada upacara kematian rambu solo. Dalam upacara itu, kerbau, yang suka berkubang dan ‘menurut saja setelah dicocok hidungnya’ itu, punya harga yang sangat tinggi - sampai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Bagaimana dengan kerbau di pulau Jawa? Penuturan Bramantyo Prijosusilo (seorang kolumnis dan petani), seperti yang dikutip LIDAHIBU dari situs-web bbcindonesia.com, dapat dijadikan bahan rujukan. Ia menyatakan bahwa pada abad ke-19, kerajaan-kerajaan Jawa memiliki budaya rampogan, sebuah perhelatan adu-kuat yang diisi pertarungan seekor kerbau dengan 6 ekor harimau. Dan kerapkali yang tetap bertahan hidup adalah sang kerbau. Ia melanjutkan bahwa dalam sejarah Jawa sosok kerbau digunakan untuk melambangkan kebudayaan Jawa, sementara harimau jadi perlambang penjajah.

Melihat cara masyarakat Nusantara menaruh makna pada sosok kerbau, kita seharusnya bertanya: lalu, dari mana datangnya fitur makna-kias ‘orang malas’, seperti yang dicatat KBBI ed. ke-4 itu? Bila pembaca merupakan pemerhati sastra Indonesia, mungkin pembaca tidak asing dengan sebuah prosa karya Djamil Soeherman yang berjudul Sakerah (1985), hikayat seorang pendekar Madura di masa penjajahan Belanda. Dalam Sakerah, Djamil Soeherman menggambarkan beberapa dialog yang terjadi antara seorang Belanda pemilik perkebunan tebu dengan buruh-buruh bumiputera yang bekerja padanya. Di situ, pembaca akan menemukan kata kerbau muncul beberapa kali, terucap dari mulut tokoh tuan tanah yang Belanda itu sebagai makian yang menggambarkan buruh bumiputera sebagai ‘orang bodoh, lamban, dan pemalas’, sama seperti ‘kerbau’. Makian-makian seperti ini banyak tercatat dalam karya-karya sastra Indonesia, yang mengambil latar waktu masa penjajahan Belanda. Dari sumber ini, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa makian tersebut memang muncul pada zaman itu.

Nama-nama hewan memang kerap digunakan sebagai bahasa kiasan, baik dalam bentuk metafora maupun simile, untuk memaki seseorang. Indonesia memiliki sederet panjang nama hewan yang acapkali dipakai untuk memaki: dari anjing sampai bangsat alias kutu busuk. (Tentang hal ini, baca artikel Sitok Srengenge yang berjudul “Binatang”, di Majalah Tempo edisi 8-14 Februari 2010)

Makian adalah bentuk tutur kasar yang menohok, maka mudah lekat pada ingatan, dan akan lebih mudah bertahan dalam perbendaharaan kata sebuah bahasa. Jika sudah begitu, usahlah kita heran kalau kerbau sekarang justru lebih tenar dimengerti sebagai makian, yang bermakna ‘bodoh, lamban, malas’, seperti yang dikira SBY ditujukan padanya itu.

Sementara itu, Yosep Rizal, sang ‘gembala’ yang membawa Kerbau SiBuYa ikut demonstrasi di Bundaran Jakarta itu, menanggapi keluhan SBY dengan santai. Seperti yang dikutip LIDAHIBU dari voa-islam.com, Yosep malah menantang balik SBY. “Kalau dia tidak merasa (gendut dan lamban), jangan tersinggung dong,” ujarnya.

Kita, sebagai hadirin yang menonton ‘lakon’ Kerbau SiBuYa pada unjuk rasa tanggal 28 Januari 2010 lalu, tidak harus bertungkus-lumus dengan motif makna yang dibawa oleh pengunjuk rasa yang mengajak kerbau untuk mendobrak pintu besi angkuh yang membentengi kota Jakarta. Yang justru harus kita curigai adalah cara SBY dalam menanggapi kejadian itu. Kita harus mempertanyakan wawasan kebudayaan nusantara yang dimiliki SBY, yang pernah diberi gelar elegan The Thinking General ini. Tidakkah SBY memahami makna-makna liyan kerbau yang berserakan di masyarakat adat Indonesia? Mengapa dia justru menanggapi simbol kerbau sebagai sebuah makian, yang dulunya diproduksi (diatur makna kiasannya) oleh para Meneer atau Tuan Sep Belanda itu? Tidakkah SBY, sebagai seorang Jawa saja setidaknya, memahami bahwa masyarakat adat Jawa sendiri punya cara positif memaknai kerbau? Tidakkah dia memahami peran kerbau dalam jagad pertanian Indonesia? Atau dia telah kehilangan ingatan tentang hal itu karena sekarang traktor sudah berseliweran di sawah para petani Indonesia? Malaskah kerbau, yang telah membantu banyak petani Indonesia menggarap lahan tani mereka?

kebo pulang kampung

kebo pulang kampung

Masuknya kerbau ke Jakarta memang membawa segudang makna. Kerbau, sebagai simbol pertanian tradisional nusantara, dibawa ke pusat nadi hidup ibu kota (Bundaran Jakarta); tentunya ini bukanlah sebuah aksi-sok-aksi tanpa alasan yang yahud punya. Beberapa makna dapat kita catat, di sini LIDAHIBU hadirkan dua saja: (1) kerbau tersebut diibaratkan sebagai SBY, yang memang harus menjadi ‘kerbau’-nya Indonesia, meniti langkah-demi-langkah menggarap pekerjaan di ’sawah’ nusantara; dan (2) sebagai sebuah kritik pedas, kerbau tersebut diibaratkan sebagai ‘rakyat Indonesia’, yang diperas tenaga dan kantongnya oleh pemerintahan tak tahu diri yang menggunakan rakyatnya untuk membajak ’sawah pribadinya sendiri’. Tidakkah memaknai simbol dengan cara ini lebih indah, lebih cerdas, dan lebih thinking daripada harus mengeluh-kesah tidak jelas, mengajukan tabiat ‘unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini’ dalam agenda pembahasan di sebuah rapat kerja pemerintah?

***

Anda penggemar musik reggae? Bila ya, Anda pasti sangat mengenal sebuah garapan musik yang dicipta oleh Bob Marley ini: Buffalo Soldier. Bob Marley, seniman dari Jamaika itu, menyadari semangat dan kerja-keras yang dimiliki dan diperbuat oleh sosok kerbau. Maka itu, ia menamai ‘prajurit’ yang dibayangkannya dalam lagu itu sebagai ‘prajurit kerbau’, yang ‘dicuri dari Afrika, dibawa ke inti-jantung Amerika’. Bagi Bob Marley, budak-budak Afrika, yang dibawa oleh para penjajah kulit putih untuk ‘dicocok hidungnya’ dan dipekerjakan di lahan-lahan perkebunan di Amerika itu, adalah para ‘prajurit’, yang melakukan pertempurannya langsung di kandang musuh. Mereka bukan ‘kerbau’ (dalam pemahaman SBY), walau tenaganya diperas, walau kebebasannya dan hak-hidupnya dipasung, walau nyawanya rentan terhadap maut.

Harusnya SBY mendengarkan lagu tersebut, terutama pada lirik yang ini:

If you know your history,

Then you would know where you coming from,

Then you wouldn’t have to ask me,

Who the ‘eck do I think I am.

Ah, mungkin angan-angan itu berlebihan, presiden RI masa-kerja 2009-2014 kita ini lebih senang menciptakan lagu-lagu bernada pop berlirik elegan-normatif, yang dinyanyikan biduan-biduan pop. Dia juga lebih suka terharu-tersedu, disorot media, menitikkan air mata saat menoton film pop seperti Ayat-ayat Cinta. Apakah dia menitikkan air mata saat melihat kondisi para petani miskin dan anak buruh yang tak sekolah? Alamak!

***

Kepala dan tanduk kerbau di gedung Bank Mandiri di Kodya Tebing Tinggi itu sampai kini masih tertancap di pucuk atap gedung itu. Semakin lama dilihat, rupanya semakin mirip dengan salah satu gambar-lambang yang tertera di dada Garuda Pancasila; gambar yang melambangkan sila ke-4 ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan, perwakilan’; gambar yang sampai sekarang masih kita sangka sebagai gambar ‘banteng’. Hah? Banteng? Apaan?!

Kalau kepala kerbau ada di dada Garuda Pancasila, maka akan sangat lucu sekali bila SBY mengeluh-kesah tentang para pengunjuk rasa di negeri Pancasila yang menggunakan kerbau sebagai bahasa simbolik dalam aksi kritiknya.

  • Share/Save/Bookmark
(1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Satu komentar
Berikan komentar »

  1. Ini semua tak terlepas dari sifat manusia, semoga saja negara ini dengan antek anteknya ( pemerintahan ), yang ‘katanya’ banyak perbedaan tapi tetap satu, terombak dari segala keterpurukan sifat, semoga saja

    Egi Ginting ratings for this post: Egi Ginting gives a rating of 5Egi Ginting gives a rating of 5Egi Ginting gives a rating of 5Egi Ginting gives a rating of 5Egi Ginting gives a rating of 5

Berikan Komentar