Stilistika 2
24 Februari, 2010 | | Kategori: KultukalHola! Merindukan gaya tulisan encik dosen tamu? Hampir setengah mati encik menulis, dan tak ada satu pun yang merindukannya? Sempurna! Berarti memang encik harus menganalisis lagi ekspresi khusus yang encik gunakan dan mendeskripsikan lagi tujuan dan dampaknya bagi pembaca. Iya, kan? (Bukankah itu definisi Stilistika?)
Baiklah, encik dosen tamu kali ini dapat giliran menyambung bahasan sejarah Stilistika pada edisi sebelumnya dengan sesuatu yang lebih bergaya. Mari, pasang mata pasang telinga!
- Analisis stilistika begitu setia memberikan penjelasan yang objektif dan ilmiah, berdasar pada data yang dapat dihitung, dan yang bermetode yang serba sistematis.
- Stilistika lebih menekankan hubungan antara bahasa sastrawi dengan bahasa sehari-hari (pandangan ini berbenturan dengan pandangan lain yang meyakini bahwa bahasa sastrawi berbeda dengan bahasa sehari-hari, dan berusaha memisahkan teks sastra dan menganggapnya secara murni sebagai objek seni yang bahasanya mempunyai aturan-aturan tersendiri).
- Stilistika menggunakan istilah-istilah teknis dan konsep khusus yang berasal dari linguistik, misalnya kolokasi (asosiasi tetap antara kata dan kata lain di lingkungan yang sama; contohnya, jika saya menyebut ‘hitam …’, Anda mungkin akan menambahkan kata lain yang lazim menjadi sandingannya [mungkin saja kata manis]) dan kohesi (keterikatan antarunsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana yang antara lain ditandai dengan konjungsi, pengulangan, penyulihan, dan pelesapan [contohnya, Budi tetap masuk sekolah, meskipun sakit]).
- Para kritikus berpaham stilistika akan mendeskripsikan aspek teknis dari bahasa dalam sebuah teks, misalnya struktur tata bahasa, dan memakainya sebagai data dalam interpretasinya.
- Adakalanya, interpretasi tersebut bertujuan untuk menyediakan data linguistik objektif yang mendukung pembacaan atau pemahaman yang sudah ada mengenai karya sastra.
- Seperti yang telah disinggung sebelumnya, stilistika tidak membatasi analisisnya hanya pada sastra, namun sering menyejajarkan karya sastra dengan wacana jenis lain, misalnya, membandingkan unsur-unsur bahasa yang digunakan dalam puisi dengan unsur yang ada dalam iklan.
- Stilistika terbang melampaui ‘tata bahasa kalimat’ dan mendarat pada ‘tata bahasa teks’, mempertimbangkan cara sebuah teks utuh mencapai tujuannya dan menyelidiki unsur linguistik yang berperan dalam proses tersebut.
Ayo, siapa yang lebih gaya sekarang?
Sumber: Barry, Peter. 2002. Beginning Theory. Manchester: Manchester University Press.
