Aq 4L4Y — QM Maw Ap4h?!
30 Juli, 2010 | | Kategori: Berita GejalaIstilah alay mungkin tidak lagi asing di telinga Anda. Tapi, sedikit orang yang berani mendefinisikan alay lewat sebuah perumusan makna yang bernas dan cerdas. Pernah ada dua cendikiawan Indonesia yang mencoba meletakkan arti dari istilah ini; definisi dari kedua ahli tersebut kerap sekali dikutip oleh orang-orang, khususnya di media maya. Berikut saya kutipkan definisi yang mereka buat:
Koentjara Ningrat: “Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya. Diharapkan sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.”
Selo Soemaridjan: “Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu.”
Saya menangguhkan diri untuk menyebut kedua definisi ini sebagai perumusan makna alay yang bernas dan cerdas. Pertama-tama, kedua definisi tersebut tidak menelusuri terlebih dahulu asal-muasal istilah alay. Kedua definisi di atas langsung bertolak dari klaim, yang mungkin sebenarnya tidak dibuat oleh Koentjara Ningrat dan Selo Soemaridjan; klaim tersebut lebih merujuk pada perasaan para pembenci orang-orang alay. Definisi tersebut memang menunjukkan ciri-ciri alay, seperti: “mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan” dan “membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain”. Tapi, dalam pencirian itu tidak jelas perubahan apa yang terjadi pada diri seorang alay. Juga, tidak terang bukti bahwa seorang alay akan merasa keren, cantik, dan hebat di antara orang lain. Koentjara Ningrat dan Selo Soemaridjan juga terjebak pada pandangan yang sangat tergesa-gesa dalam menilai alay. Definisi mereka mengikutsertakan penghakiman yang sebenarnya tak dapat mereka buktikan; perhatikan klaim-klaim seperti “diharapkan sifat ini segera hilang”, “mengganggu masyarakat sekitar”, dan “bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia”.
Saya bertanya-tanya: mengapa Koentjara Ningrat tidak tertarik untuk mengkaji mengapa “masyarakat sekitar” merasa “terganggu” dengan “gejala (alay) yang dialami pemuda-pemudi Indonesia” itu? “Masyarakat sekitar” macam apa yang merasa terganggu itu? Juga, untuk Selo Soemaridjan, mengapa ia tidak menjelaskan mengapa perilaku alay “bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia”? “Rakyat Indonesia” yang mana yang sedang diacunya ini? Mengapa pula “merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain” bertentangan dengan “sopan, santun, dan ramah”? Kekurangtelitian macam inilah yang membuat saya merasa bahwa definisi mereka atas alay tidak bernas dan cerdas; cenderung culas dan malas, malah.
84ha5a 4L4Y
Satu hal yang sangat khas dari pelaku alay adalah gaya bahasanya. Istilah “gaya bahasa” sebenarnya terlalu luas untuk ini. Mungkin, lebih tepat kalau saya katakan “gaya tulis” atau “gaya eja”. Ya, gaya eja kaum alay memang unik, dibanding dengan gaya eja formal yang kita anut dalam Bahasa Indonesia baku. Saya rasa cara saya menulis judul dan subjudul artikel ini sudah menjelaskan contoh keunikan tersebut: penggunaan huruf besar dan kecil sekaligus dalam satu kata, pemanfaatan tanda bilangan yang secara grafis menyerupai rupa huruf, dan penggunaan huruf alternatif yang berbunyi mirip dengan bunyi huruf yang dimaksudkan. Pertanyaan yang seharusnya kita pikirkan: mengapa kaum alay menyatakan keunikan mereka tidak hanya lewat cara berpakaian dan berdandan, tapi juga lewat bahasa? Tentu saja! Bahasa adalah juga alat ekspresi identitas. Penyair mengekspresikan identitasnya lewat bahasa puitis; seorang pelaku politik mengekspresikan identitasnya lewat bahasa khas dunia politik; seorang pelawak mengekspresikan identitasnya dengan bahasa humor - begitu seterusnya.
Banyak sekali narasi yang saya temukan, khususnya di dunia maya, yang menyatakan bahwa bahasa (gaya eja) alay itu sangat mengganggu, rusak-rusakan, egosentris, tidak mempedulikan kenyamanan komunikasi, atau bahkan membunuh tata bahasa Indonesia. Sepintas, gaya eja alay memang terlihat tidak beraturan. Untuk menuliskan kamu saja, ada begitu banyak tawaran ejaan yang terdapat dalam gaya alay, contohnya: kamuh, kammo, kamoh, kamuwh, kamyu, qamu, dsb. Atau, untuk mengeja kangen,deh, tampilannya bisa seperti ini: K4Ng3nZ dWEcChh. Tapi, bila kita mau lebih jeli lagi memperhatikan perwujudan gaya eja alay, sebenarnya sudah ada pola yang mulai terbentuk dari ‘ketakberaturan’ itu. Misalnya saja: kerap kita paham bahwa ‘3′ dimengerti sebagai ‘e’, ‘q’ sebagai ‘ku’ atau ‘k’, ‘x’ sebagai ‘nya’, ‘6′ sebagai ‘g’, ‘4′ sebagai ‘a’, ‘5′ sebagai ’s’, dan ‘8′ sebagai ‘b’.
Sampai di titik ciri ini, pembaca LIDAHIBU mungkin akan teringat dengan artikel Berita Gejala di edisi #14 lalu, yang berjudul “Lupus = Lucu (tapi) Pusing”. Artikel tersebut membahas gaya bahasa khas ‘belakang truk’. Memang banyak kemiripan yang bisa diperiksa antara kedua (gaya) bahasa ini. Keduanya sama-sama gemar menggunakan tanda bilangan dan huruf alternatif yang berbunyi mirip dengan huruf yang dimaksud. Begitu pun, jika gaya eja belakang truk cenderung mengacu pada unsur hiburan, gaya eja alay lebih mengacu pada identitas seseorang sebagai alay.
Anasir kekreatifan juga kerap menjadi perdebatan dalam diskusi tentang gaya eja alay. Dalam sebuah seminar bertajuk Language in the Online and Offline World, seorang pakar linguistik dari Universitas Kristen Petra Surabaya, Prof. Dr. Esther Kuntjara, melontarkan kalimat ini saat membicarakan ‘kekreatifan’ penutur bahasa di dunia maya: “Penutur bahasa dalam dunia maya memang kreatif, tapi kalau rusak-rusakan namanya bukan kreatif,” (Radar Lampung, 05/06/10). Di artikel yang menjadi sumber kutipan saya itu, sebelumnya dituliskan juga pendapat sang pakar tentang bahasa alay: “Yang jelas, bahasa alay itu mencampur aduk antara tulisan, lisan, dan gambar. Sehingga semuanya menjadi kacau.” Jelaslah bahwa yang diacu oleh Kuntjara sebagai “rusak-rusakan” adalah bahasa alay, yang juga dianggapnya sebagai (bahasa yang) “kacau” karena “mencampur aduk antara tulisan, lisan, dan gambar”. Lebih lagi, saat berpendapat tentang cara-tutur pengguna internet, Kuntjara mengatakan, “Misalnya kalau menyatakan tertawa keras ditulis dengan LOL. Padahal mungkin saja, penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga semuanya menjadi kacau atau rumit.”
Jujur, saya merasa kasihan dengan pakar linguistik ini. Mengapa pula ia menilai sesuatu yang ‘rumit’ sebagai yang ‘rusak’? Saya tidak tahu Kuntjara sudah pernah membaca karangan David Crystal, Language and the Internet, atau belum (sebagai seorang pakar linguistik, seharusnya sudah). Di buku itu, Crystal malah menganggap ‘kerumitan’, atau yang disebut Kuntjara sebagai ‘rusak-rusakan’, dalam bahasa di internet sebagai suatu gejala linguistik yang begitu menarik karena dibentuk oleh ciri lisan sekaligus tulisan (2006: 31). Perhatikan, contohnya, pernyataan Kuntjara tentang ‘tertawa keras’ (LOL: Laugh out Loud). Kuntjara menganggap hal ini sebagai peletakan emosi seenaknya dan tidak tepat karena “mungkin saja, penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga semuanya menjadi kacau dan rumit.” Bah!? Bukankah ‘kekacauan’ dan ‘kerumitan’ macam itu memang hadir dalam komunikasi manusia? Anda pastinya pernah melakukannya: saat Anda berbicara pada orang yang sangat Anda benci, Anda memaksakan diri tersenyum manis (entah dengan alasan apa) walau mendongkol dalam hati. Lalu, mengapa pula Kuntjara menganggap orang yang menulis LOL padahal sedang marah atau kecewa sebagai sebuah keanehan? Pengejawantahan emosi dalam dunia bahasa di internet, yang diwujudkan dalam bentuk singkatan semacam LOL, sebenarnya adalah apa yang dimaksud Crystal sebagai ciri lisan sekaligus tulisan. Apa yang salah, atau ‘rumit’, ‘rusak’, dan ‘kacau’, tentang hal itu?
Tuduhan lain yang sering sekali ditimpakan pada bahasa (gaya eja) alay adalah bahwa ia merusak, atau bahkan membunuh, tata bahasa Indonesia. Saya bingung dengan orang-orang yang berkata demikian. Apa buktinya tata bahasa Indonesia dibunuh oleh bahasa (gaya eja) alay? Tuduhan tuna-bukti ini, menurut saya, terlalu berlebihan dan justru menunjukkan ketidakpahaman penuduh itu tentang tata bahasa Indonesia. Lebih lagi, tuduhan ini adalah sebuah tuduhan pengecut karena hanya berani menyerang orang-orang semacam kaum alay yang tidak punya kuasa atau otoritas bahasa dan politik di Indonesia ini. Coba pikir, kalau memang perubahan ejaan radikal yang dilakukan kaum alay itu patut dimaki, mengapa para penuduh itu tidak sekalian memaki Ejaan yang Disempurnakan (EYD)? Bukankah EYD, yang secara simbolis diresmikan Suharto lewat Pidato Kenegaraan di depan Sidang Dewan Perwakilan Rakyat pada 16 Agustus 1972 lalu, sudah jelas-jelas mengubah dasar ejaan Bahasa Indonesia? Bukankah hal itu membuat ‘kekacauan’ karena seluruh rakyat Indonesia harus turut belajar ejaan baru dan seluruh perusahaan percetakan mungkin harus memperbaharui buku-buku yang sedianya dicetak dengan ejaan lama? Bukankah EYD juga turut mempromosikan, meminjam istilah Ben Anderson, amnesia nasional karena generasi muda Indonesia lupa pada sejarah-bukan-versi-orde-baru yang tercetak dalam buku-buku dengan ejaan lama karena mereka mungkin jadi malas membacanya sebab ‘rumit’ dan ‘kacau’? Mengapa perubahan radikal ini tidak disebut ‘kacau’ juga oleh para penuduh itu? Kalau yang menuduh gaya eja alay sebagai perusak tata bahasa Indonesia itu adalah orang awam, bolehlah saya pikir bahwa mereka mungkin tidak tahu atau kekurangan informasi tentang hal ini. Tapi, kalau yang menuduh itu adalah seseorang yang mengaku ‘pakar linguistik’, bergelar Prof. Dr. pula, saya akan nilai ia sebagai pengecut karena garang melawan yang alay tapi memble melawan kekuasaan!
Orang-orang yang menulis atau menggubah cara eja alay berpikir mereka kreatif karena mereka memang kreatif. Dan gaya eja itu, menurut saya, menunjukkan kompetensi penuh atas ortografi Bahasa Indonesia. Gaya eja alay bekerja pada tataran linguistik bahasa. Perhatikan saja: bukankah gaya eja itu menggunakan anasir-anasir serupa homofon, atau bahkan semiotika? Gaya eja alay memperlakukan abjad, tanda baca, dan bilangan sebagai simbol yang memanifestasikan bunyi atau huruf tertentu. Saya sendiri menikmati kekreatifan linguistik semacam ini. Gaya eja alay justru menyemangati saya untuk memecahkan sandi yang digunakan dalam penulisan. Ya, saya menganggap tulisan alay sebagai sandi, dan hanya butuh sedikit kesabaran dan waktu untuk terbiasa dengannya dan untuk mampu memecahkannya.
Pengguna gaya eja alay pun telah mempraktikkan gaya ejanya di tempat yang semestinya. Mereka berbahasa alay bukan dalam laporan ilmiah atau pidato resmi. Mereka berbahasa alay dalam ruang-ruang bahasa yang sifatnya lebih santai seperti di situs jejaring sosial, obrolan pribadi, dan pesan singkat.
***
Sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar sarkasme tak bertanggung jawab dapat dilakukan dalam mengkaji fenomena ini. Coba Anda bayangkan, sebegitu bencinya orang-orang anti-alay sampai mereka mengekspresikannya dalam kata-kata emosional semacam ‘cuma cari sensasi’, ‘merusak’, ‘harus dimusnahkan’, dlsb. Di situs jejaring sosial semacam Facebook sendiri telah lama terbentuk Grup Anti Alay. Dan tindakan-tindakan ‘anti’ semacam ini telah berujung pada tindakan aniaya-karakter terhadap seorang siswa SMU di Banyuwangi sana, bernama-maya Ophi A. Bubu, yang dirujuk sebagai Ratu Alay. Bukankah jauh lebih berharga bila kita mencurahkan energi kita untuk berbuat sesuatu terhadap gejala tindakan fasis seperti ini, dan bukan cuma dengan gagap dan latah mengatakan bahwa bahasa alay merusak bahasa nasional kita?

