<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Lidahibu.com</title>
	<atom:link href="http://www.lidahibu.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lidahibu.com</link>
	<description>Linguistik Berfaedah dan HIBURAN</description>
	<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 11:51:03 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Akibat Sama Bahasa</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/akibat-sama-bahasa/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/akibat-sama-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 11:46:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<category><![CDATA[#15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=927</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Armando Soriano
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/armando-soriano/"><em>Oleh Armando Soriano</em></a></p>
<div id="attachment_930" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/panel-12.jpg"><img class="size-large wp-image-930" title="panel-1" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/panel-12-500x355.jpg" alt="panel 1" width="500" height="355" /></a><p class="wp-caption-text">panel 1</p></div>
<div id="attachment_932" class="wp-caption alignleft" style="width: 509px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/panel-21.jpg"><img class="size-large wp-image-932" title="panel-2" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/panel-21-499x397.jpg" alt="panel 2" width="499" height="397" /></a><p class="wp-caption-text">panel 2</p></div>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Akibat%20Sama%20Bahasa&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F07%2F30%2Fakibat-sama-bahasa%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/akibat-sama-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>M.A.K. Halliday</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/mak-halliday/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/mak-halliday/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 11:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tokoh Bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[#15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Wahmuji
Pelajaran yang paling disukai dan dinikmatinya di SMA adalah Bahasa Inggris, khususnya sastra (berbahasa) Inggris. Ia mulai merasa tidak nyambung dengan pelajaran saat guru berbicara mengenai bahasa di dalam sastra. Pengamatan bahasa dalam sastra yang diberikan padanya adalah, misalnya, studi fonetik dalam dongeng atau posisi Barbara Horvath dalam observasinya mengenai bahasa Inggris Australia - [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/wahmuji/"><em></em></a></p>
<div id="attachment_923" class="wp-caption alignleft" style="width: 287px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/mak-halliday.jpg"><em><em><img class="size-medium wp-image-923" title="mak-halliday" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/mak-halliday-277x205.jpg" alt="M.A.K. Halliday" width="277" height="205" /></em></em></a><p class="wp-caption-text">M.A.K. Halliday</p></div>
<p><em>Oleh Wahmuji</em></p>
<p>Pelajaran yang paling disukai dan dinikmatinya di SMA adalah Bahasa Inggris, khususnya sastra (berbahasa) Inggris. Ia mulai merasa tidak <em>nyambung</em> dengan pelajaran saat guru berbicara mengenai bahasa di dalam sastra. Pengamatan bahasa dalam sastra yang diberikan padanya adalah, misalnya, studi fonetik dalam dongeng atau posisi Barbara Horvath dalam observasinya mengenai bahasa Inggris Australia - misalnya, bahwa penutur Australia bersuara nasal. Ia bertanya pada diri sendiri, apa yang tersedia dalam linguistik? Jawabannya adalah: tidak ada.</p>
<p>Tapi tidak sedini itu kecemerlangan pengetahuannya dalam bahasa. Yang ia rasakan <em>hanyalah </em>bahwa ada sesuatu yang lain - cara lain untuk membicarakan sastra. Ia merasa ada yang lebih dari yang sedang ia dengarkan. Itulah awal &#8216;konfliknya&#8217; dengan bahasa dan sastra. Sampai pada puncak karir linguistiknya, ia tetap merasa bahwa sastra dibuat dari bahasa sehingga sangat mungkin untuk membicarakan bahasa (dalam) sastra.</p>
<p>Sebelum menjelajah dunia linguistik dan mengembangkan tata bahasa fungsional sistemik (<em>systemic functional grammar</em>)<em> </em>yang tersohor itu<em>, </em>awalnya ia belajar bahasa Cina. Ia belajar di bawah bimbingan Luo Changpei di Universtitas Peking dan kemudian di bawah bimbingan Wang Li di Universitas Lingnan. Di Universitas Peking, ia menjadi pelajar di departemen Bahasa Cina dan mengajar di departemen Bahasa Inggris. Di bawah bimbingan Wang Li, seorang ahli fonetik bahasa Perancis dan ahli dialek Cina, ia mendapat semua pengetahuan mengenai  fonetik, fonologi, dan sosiolinguistik - gagasan keseluruhan bahasa di dalam konteks sosial dan budaya. Semua pengetahuan awal itu, katanya dalam sebuah wawancara dengan G. Kress, R. Hasan and J. R. Martin, adalah kontribusi dari Wang Li. Di bawah bimbingan Wang Li ini juga ia mulai membaca beberapa karya Firth dan tertarik dengan Linguistik Praha.</p>
<p>Penelitian yang ia lakukan dengan Wang Li, yaitu tentang dialek Mandarin dan Kanton, sedianya akan ia pergunakan untuk mendapatkan gelar Ph.D. di bawah bimbingan Firth sementara ia masih mengajar di departemen Bahasa Cina di SOAS (<em>School of Oriental and African Studies</em>), Universitas London. Namun, semuanya berantakan. Itu karena ia menolak untuk berjanji bahwa ia tidak akan menjadi anggota partai komunis - waktu itu (1950) adalah puncak McCarthyisme (sebuah tindakan politik berupa tuduhan tanpa bukti atas ketidaksetiaan, penghianatan, subversi. Istilah ini dikhususkan pada era 40an-50an di Amerika, masa meningginya ketakutan akan pengaruh komunisme di Institusi Amerika. Isme ini juga berpengaruh sampai ke Inggris, terutama SOAS yang mendidik para diplomat luar negeri). Bagaimanapun, ia telah memperoleh beasiswa sehingga mereka mengirimnya ke Cambridge.</p>
<p>Ia merasa beruntung di Cambridge karena universitas itu cukup subversif terhadap usaha McCartyisme. Namun, ia tetap harus kompromi, terutama dengan materi kajiannya. Sebagai wujud kompromi, atas ide Hallam, pembimbingnya, ia mempelajari Sejarah Rahasia Mongol. Ia membujuk Hallam agar ia bisa berkonsultasi dengan Firth di Universitas London, Universitas yang melemparnya ke Cambridge. Usul itu disetujui. Dan mendadak Hallam meninggal dunia. Maka jadilah Firth sebagai pengawas penuhnya.</p>
<p>Persentuhannya dengan Firth inilah yang menjadi awal karir intelektualnya.  Seperti disebutkan di awal, ia sudah tertarik dengan Firth sejak ia berada di bawah bimbingan Wang Li. Ia ingin mengeksplorasi ide Firth lebih jauh lagi. Ia ingin belajar dari Firth. Tentu saja, setelah jadi murid Firth, ia belajar banyak mengenai latar belakang filsafat dan wawasan mengenai bahasa. Namun ia tidak mendapatkan model tata bahasa karena Firth sendiri tertarik pada fonologi, semantik, dan konteks. Masalah yang ia hadapi kemudian adalah bahwa ia harus mengembangkan teori sistem/struktur sehingga teori itu menjadi jalan untuk membicarakan bahasa Sejarah Rahasia. Empat tahun ia belajar di Cambridge. Ada satu cerita menarik dari Halliday saat belajar di universitas itu. Ternyata Halliday membutuhkan izin perpanjangan waktu untuk pengerjaan tesisnya. Lucunya, tesis itu diselesaikan Halliday pada jam empat sore (satu jam sebelum kantor universitas tutup) di hari terakhir setelah perpanjangan terakhir, 31 Desember 1954.</p>
<p>Pengembangan atas teori Firth ke dalam tata bahasa adalah jalan untuk dasar linguistik fungsional sistemik. Pada tahun 1973, ia mengeluarkan karya pertamanya yang berjudul <em>Explorations in the </em><em>F</em><em>unctions of </em><em>L</em><em>anguage</em>. Karya keduanya, <em>Learning </em><em>H</em><em>ow to </em><em>M</em><em>ean</em>, diterbitkan pada tahun 1975. Melalui kedua buku itu, ia mulai dikenal publik dengan &#8220;Linguistik Instrumental&#8221;-nya - yaitu, singkatnya, kajian bahasa untuk memahami sesuatu yang lain, misalnya, sistem sosial. Namun, puncak pencapaiannya yang paling dikenal hingga kini adalah publikasi bukunya <em>An Introduction to Functional Grammar. </em>Karya inilah yang menjadi jalan masuk kajian linguistik kritis dan semiotik sosial Fowler dan Birch; dan analisis wacana kritis Fairclough dan van Dijk, untuk menyebut beberapa nama tersohor.</p>
<p>Banyak sekali jejak pemikirannya di dalam Analisis Wacana Kritis yang mengemuka sesudah <em>An Introduction to Functional Grammar </em>terbit. Secara umum, sumbangsihnya yang sangat berharga adalah jalan yang dibukanya untuk linguistik, yaitu jalan fungsional: pendekatan mengenai penggunaan bahasa yang praktis dan kontekstual sebagai kebalikan dari tata bahasa formal yang fokus pada semantik, sintaksis, dan kelas-kelas kata seperti kata benda dan kata kerja. Atas landasan yang dibangunnyalah kajian linguistik jadi lebih luas, dekat dengan gerak kehidupan masyarakat, dan politis. Selayaknya kita mengucapkan terimakasih atas segala usaha teoretisnya.</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=M.A.K.%20Halliday&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F07%2F30%2Fmak-halliday%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/mak-halliday/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Usul Bahasa dan Bangsa Nusantara</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/asal-usul-bahasa-dan-bangsa-nusantara/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/asal-usul-bahasa-dan-bangsa-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 11:32:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pustaka Gokil]]></category>

		<category><![CDATA[#15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=920</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Wahyu Adi Putra Ginting
Penulis: Prof. Dr. Slametmuljana. Penerbit: Balai Pustaka. Tahun terbit: 1982. Kota terbit: Jakarta. Cetakan: Ketiga. Tebal: 115 halaman.
Ulasan
Perkara rumpun bahasa adalah salah satu bahasan yang menjadi pusat perhatian para ahli atau peminat bahasa. Rumpun bahasa adalah sebuah abstraksi dari konsep hubungan kekerabatan manusia. Rumpun bahasa adalah sebuah metafora; makna yang dipanggulnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/wahyu-adi-putra-ginting/"><em>Oleh Wahyu Adi Putra Ginting</em></a></p>
<p>Penulis: Prof. Dr. Slametmuljana. Penerbit: Balai Pustaka. Tahun terbit: 1982. Kota terbit: Jakarta. Cetakan: Ketiga. Tebal: 115 halaman.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Ulasan</span></p>
<p>Perkara rumpun bahasa adalah salah satu bahasan yang menjadi pusat perhatian para ahli atau peminat bahasa. Rumpun bahasa adalah sebuah abstraksi dari konsep hubungan kekerabatan manusia. Rumpun bahasa adalah sebuah metafora; makna yang dipanggulnya tidak sekedar ada untuk dirinya sendiri, tapi, juga, untuk sesuatu yang lain, yang lebih luas sifatnya: manusia. Secara hakiki, pengelompokan bahasa-bahasa ke dalam rumpun tertentu jugalah berarti pengelompokan manusia, atau, sebutlah, pengelompokan bangsa.</p>
<p>Perkara rumpun bahasa juga berarti perkara hubungan asal-usul bahasa-manusia dan manusia-bahasa. Hasrat untuk mengetahui asal-usul itu sendiri memang sudah menjadi tabiat hakiki dari manusia. Siapa berasal dari mana?; apa menurunkan apa?; siapa mempengaruhi atau dipengaruhi siapa?; dan beragam pertanyaan sejenis lainnya hadir sebagai layar yang wajib disibak untuk mengetahui apa yang tersembunyi di baliknya. Dalam usaha pengelompokan bahasa-bahasa tertentu dalam rumpun, pertanyaan semacam itu pun tak bisa dielakkan. Peneliti perbandingan bahasa pasti juga harus mempelajari perbandingan masyarakat penutur bahasa yang sedang ditelitinya: ia juga wajib mencari tahu dinamika saling-singgung yang terjadi di antara para manusia-bahasa tersebut. Maka itu, tidaklah mengherankan apabila &#8216;bangsa&#8217; dan &#8216;bahasa&#8217; lebur menjadi anasir yang sifatnya &#8217;sekaligus&#8217; dalam sebuah penelitian perbandingan bahasa. Tidaklah pula mengherankan bahwa pustaka yang saya ulas kali ini harus menjuduli diri dengan nama <em>Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara</em>.</p>
<p align="center">***</p>
<p><em>Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara</em> ini adalah laporan dari hasil sebuah penelitian yang digarap oleh Prof. Dr. Slametmuljana, salah seorang yang menjadi bagian dari para pakar linguistik Indonesia generasi mula. Niat untuk melaksanakan penelitian yang mendasari pustaka ini muncul pada akhir tahun 1957, setelah Slametmuljana menyelesaikan penulisan buku <em>Kaidah Bahasa Indonesia I </em>dan <em>II</em>. Penelitian itu sendiri berupa usaha perbandingan bahasa Indonesia dengan beberapa bahasa di Asia Tenggara. Tujuannya, seperti yang diakui Slametmuljana dalam &#8216;Prakata&#8217; bukunya itu, adalah &#8220;untuk mencari penyelesaian beberapa persoalan bahasa Indonesia&#8221;.</p>
<p>Pustaka ini terdiri dari tiga bagian utama: (1) <em>Dari Forster sampai Heyerdahl</em>, (2) <em>Cukilan Penelitian</em>; dan (3) <em>Kesimpulan</em>. Di tiga paragraf &#8216;pengantar&#8217; menuju bagian pertama, Slametmuljana menyempatkan diri untuk memberi sekelumit penjelasan tentang penggunaan nama <em>Nusantara</em> dalam kaitannya dengan sebuah rumpun bahasa yang disebut oleh sarjana Jerman, Wilhelm von Humboldt, sebagai <em>Melayu-Polinesia</em> (rumpun bahasa-bahasa dari Semenanjung Melayu sampai Polinesia). Oleh sebab asal bahasa dan bangsa Melayu Polinesia ternyata masih menjadi persoalan, Slametmuljana kemudian &#8216;lebih suka&#8217; menggunakan nama <em>Nusantara</em> atau <em>Austronesia </em>(dua istilah yang dianggap sama arti oleh Slametmuljana) daripada <em>Melayu-Polinesia</em> untuk menyebut keserumpunan bahasa yang terdapat di Kepulauan Nusantara.</p>
<p>Setelah penjelasan ringkas tersebut, dimulailah bagian pertama pustaka ini. Rupa-rupanya, sebab penelitian perbandingan bahasa-bahasa Nusantara sudah dilakukan sejak pertengahan abad 18 oleh para sarjana Eropa, Slametmuljana merasa penting untuk mengulas dengan ringkas hasil penelitian pendahulu itu. Mula-mula adalah John Reinhold Foster, yang di tahun 1776, lewat karangannya <em>Voyage around the World</em>, menyebut bahwa &#8220;kesamaan bentuk kata antara bahasa Polinesia dan bahasa Melayu berasal dari bahasa yang lebih tua daripada kedua golongan bahasa tersebut.&#8221; Klaim ini kemudian menandai dimulainya tahun-tahun penuh sumbangan buah-pikir dari para sarjana Eropa lainnya terhadap perkara keserumpunan bahasa-bahasa Nusantara. Pendapat-pendapat yang dikemukakan memang sebagian besar berupa bantahan atau sangkalan atas pendapat terdahulu. Namun, semua pendapat itu diajukan lewat sebuah penelitian serius. Teknik penelitian perbandingan inilah yang menarik untuk kita baca dan perhatikan. Ribuan kosa-kata dasar dari belasan bahkan puluhan bahasa Nusantara diperbandingkan satu-sama lain, untuk menyaring persamaan dan perbedaannya. Uniknya, kuantitas perbedaan yang lebih besar dari persamaan belum tentu berujung pada kesimpulan bahwa bahasa-bahasa tersebut tidak serumpun. Kuncinya ada pada persamaan kosa-kata dasar, yang menjadi tolok-ukur keserumpunan.</p>
<p>Ulasan ringkas tentang penelitian pendahulu ini berhenti di ekspedisi-penelitian seorang sarjana antropologi budaya asal Norwegia, Thor Heyerdahl, yang berusaha untuk membuktikan bahwa tidak ada kesamaan antara budaya, dan juga bahasa, Polinesia dengan Nusantara; sebuah pendapat yang diketahui bertentangan dengan hasil penelitian perbandingan bahasa Polinesia dengan Nusantara sebelah barat.</p>
<p>Jujur, saya merasa agak jemu membaca bagian pertama ini; mungkin karena gaya penulisannya yang, menurut selera saya, agak kaku. Tapi, &#8216;penderitaan&#8217; yang saya dapat saat membaca bagian pertama buku ini dibayar lunas oleh rentetan pengetahuan yang ditawarkan Slametmuljana, lewat analisisnya, di bagian kedua. Di bagian yang diberi judul <em>Cukilan Penelitian</em> ini, Slametmuljana pertama-tama menerangkan apa yang ia maksud dengan istilah &#8216;kebudayaan asli&#8217; dan &#8216;bahasa Austornesia asli&#8217;. Dalam penelitiannya, kedua istilah ini adalah kunci yang, bila dipahat dengan tepat lewat pemaknaan yang jitu, akan dapat digunakan sebagai alat untuk membuka setiap ruang jawaban untuk pertanyaan dan permasalahan yang diajukan.</p>
<p>Bagian kedua juga menjelaskan metode yang dipakai Slametmuljana dalam kajiannya. Ini adalah salah satu informasi penting yang menunjukkan contoh praktis dalam melaksanakan kajian linguistik perbandingan. Tentang hasil penelitiannya sendiri, Slametmuljana menggunakan hampir tiga perempat jumlah halaman bukunya untuk menuturkan hasil temuannya. Slametmuljana membandingkan beberapa bahasa di Asia Tenggara dengan bahasa-bahasa yang dikenali berada di Indonesia. Ia berangkat dari kosakata dasar yang mencakup kata bilangan, kata ganti diri, kata penunjuk, kata tanya, kata kerja, dll. Lebih lanjut, ia juga membahas tentang tautan pengaruh bahasa-bahasa di Asia Tenggara terhadap bahasa-bahasa di Indonesia lewat tata bahasa.</p>
<p>Secara pribadi, saya merasa dimanjakan oleh deretan pengetahuan, khususnya tentang asal-usul kata berbagai bahasa di Indonesia. Lebih dari itu, seperti yang dapat diperiksa di bagian ketiga, <em>Kesimpulan</em>, Slametmuljana beranjak dari ranah bahasa ke ranah budaya - maka &#8216;bangsa&#8217;. Ia menceritakan bagaimana kedudukan sosial, pengaruh Tiongkok Selatan, perang antar suku, dan beberapa anasir sosial-budaya lainnya mempengaruhi persebaran bahasa di Nusantara (Austronesia) dan bagaimana gambaran persinggungan ini dapat menjadi lahan tempat kita melacak atau menelusuri <em>asal</em> dari bahasa dan bangsa di Nusantara.</p>
<p>Kalau pun ada catatan kritis saya untuk pustaka ini, saya merasa bahwa Slametmuljana kurang menjelajahi dengan lebih teperinci tentang kronologi saling pengaruh-mempengaruhi bahasa-bahasa yang dibicarakannya. Juga, di beberapa bagian, masih terbersit keraguan saya akan kebenaran klaim yang dibuatnya tentang pengaruh bahasa yang satu terhadap bahasa yang lainnya. Mungkin ini terjadi karena ia tidak begitu benderang menerangkan mengapa bisa, misalnya, bahasa Munda yang mempengaruhi bahasa Jawa dalam beberapa kosakata penunjuk, dan bukan sebaliknya. Apa sebenarnya yang terjadi sehingga bahasa Munda yang mempengaruhi bahasa Jawa? Kapan pengaruh itu melesap ke dalam bahasa Jawa? Saya tidak menemukan jawaban untuk keheranan saya ini. Saya juga merasa bahwa ketidaklengkapan ini terjadi karena Slametmuljana lebih memilih untuk menghadirkan &#8216;cukilan&#8217; dari penelitiannya; dan bukan keseluruhan hasil penelitian.</p>
<p>Begitupun, kalau kita masih menganggap kajian perbandingan bahasa itu penting, terlebih untuk merumuskan, misalnya, sebuah <em>sejarah Bahasa Indonesia </em>yang memadai, informasi yang dikandung oleh buku ini sangat pantas dijadikan acuan.</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Asal%20Usul%20Bahasa%20dan%20Bangsa%20Nusantara&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F07%2F30%2Fasal-usul-bahasa-dan-bangsa-nusantara%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/asal-usul-bahasa-dan-bangsa-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sosiolinguistik 2</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/sosiolinguistik-2/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/sosiolinguistik-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 11:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kultukal]]></category>

		<category><![CDATA[#15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=913</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan
Salam!
Sudah satu purnama berlalu, masihkah kuliah encik dosen tamu merajai benak murid-murid sekalian? Encik harap masih. Nah, sekarang siapkan telinga dan akal kalian karena, pada Kultukal edisi kali ini, encik dosen tamu masih ingin melanjutkan pembahasan Sosiolinguistik yang pada edisi lalu terpotong dengan indah. Topik kita kali ini adalah &#8220;dialek&#8221; alias &#8220;logat&#8221;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/nikodemus-wuri-kurniawan/"><em>Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan</em></a></p>
<p>Salam!</p>
<p>Sudah satu purnama berlalu, masihkah kuliah encik dosen tamu merajai benak murid-murid sekalian? Encik harap masih. Nah, sekarang siapkan telinga dan akal kalian karena, pada Kultukal edisi kali ini, encik dosen tamu masih ingin melanjutkan pembahasan Sosiolinguistik yang pada edisi lalu terpotong dengan indah. Topik kita kali ini adalah &#8220;dialek&#8221; alias &#8220;logat&#8221;. Langsung saja. Inilah tujuh kalimat buat kamu-kamu yang ingin lebih tahu dan tahu lebih tentang dialek dari sudut pandang Sosiolinguistik.</p>
<ol type="1">
<li>Dialek regional atau dialek geografis membedakan      bahasa yang digunakan di tempat yang satu dengan tempat yang lain.</li>
<li>Meskipun begitu, semua variasi tersebut membentuk      satu bahasa jua, misalnya saja: bahasa Kanton dan Mandarin adalah dialek      bahasa Cina; dialek Tegal, Banten, Banyumas, dan lain-lain, adalah bahasa      Jawa.</li>
<li>Kelompok sosial dalam masyarakat bahasa dengan      perbedaan stratum sosial, umur, pendidikan, kelamin, dan sebagainya      terkadang memiliki ciri bahasa tertentu.</li>
<li>Variasi sosiokultural yang demikian disebut dialek      sosial, misalnya saja: Bahasa Indonesia yang dipakai oleh para murid di      kelas membentuk satu dialek sosial yang berbeda dengan dialek sosial      petani di gunung atau dialek sosial nelayan di tepi pantai.</li>
<li>Contoh lain adalah bahasa Jepang yang mempunyai      ciri-ciri leksikal dan suprasegmental yang membedakan dialek sosial pria      dan dialek sosial wanita.</li>
<li>Sedangkan untuk dialek khusus, bahasa Kedaton yang      dipakai di kesultanan Yogyakarta dan bahasa Indonesia yang digunakan oleh      remaja di Jakarta dapat menjadi contoh.</li>
<li>Masing-masing bahasawan pasti memiliki ciri-ciri      bahasa yang berbeda dari ciri-ciri bahasa orang lain - variasi ini disebut      idiolek (jumlah idiolek setara dengan jumlah penutur suatu bahasa,      misalnya: 240 juta idiolek berarti ada 240 juta penutur bahasa).</li>
</ol>
<p>Ya, itu dia. Pembahasan tentang Sosiolinguistik tidak berhenti di sini. Di edisi depan, kita bertemu lagi, dengan topik yang lain tentunya. Sabarlah menanti; encik dosen tamu akan kembali.<strong><br />
</strong></p>
<p><em>Sumber: </em>Kridalaksana, Harimurti. 1985. <em>Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa</em>. Ende: Penerbit Nusa Indah.</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Sosiolinguistik%202&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F07%2F30%2Fsosiolinguistik-2%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/sosiolinguistik-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pramuhubung Tamu</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/pramuhubung-tamu/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/pramuhubung-tamu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 11:16:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Khazanah Kata Bahasa Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[#15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=910</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Desy Pramusiwi*
Halo! Senang rasanya saya dapat bersua kembali dengan para pembaca setia LIDAHIBU. Di rubrik Khazanah Kata Bahasa Indonesia (KKBI) LIDAHIBU edisi #13 lalu, dengan sebuah tulisan yang berjudul &#8220;Kantor Depan&#8221;, saya telah tawarkan beberapa padanan untuk istilah-istilah bahasa Inggris yang kerap digunakan di bidang Kantor Depan sebuah hotel. Nah, setelah habis kontrak dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<div id="attachment_916" class="wp-caption alignleft" style="width: 287px"><em><em><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/pramuhubung-tamu.jpg"><img class="size-medium wp-image-916" title="pramuhubung-tamu" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/pramuhubung-tamu-277x277.jpg" alt="Pramuhubung Tamu" width="277" height="277" /></a></em></em><p class="wp-caption-text">Pramuhubung Tamu</p></div>
<p><em>Oleh Desy Pramusiwi*</em></p>
<p>Halo! Senang rasanya saya dapat bersua kembali dengan para pembaca setia LIDAHIBU. Di rubrik Khazanah Kata Bahasa Indonesia (KKBI) LIDAHIBU edisi #13 lalu, dengan sebuah tulisan yang berjudul &#8220;Kantor Depan&#8221;, saya telah tawarkan beberapa padanan untuk istilah-istilah bahasa Inggris yang kerap digunakan di bidang Kantor Depan sebuah hotel. Nah, setelah habis kontrak dengan hotel yang lama, saya, dengan semangat yang tiada patah, kembali menjadi seorang pencari kerja. Belasan lamaran kembali saya umpankan. Walhasil, banyak panggilan menyapa saya. Setelah menjalani beberapa wawancara di beberapa tempat-kerja yang berbeda, akhirnya saya tetap berlabuh di industri ramah-tamah, bidang kerja yang sama dengan pekerjaan saya terdahulu. Bedanya, kali ini saya berprofesi sebagai seorang <em>Guest Relation Officer</em> (GRO). Apa itu? GRO merupakan salah satu posisi kerja di bawah naungan departemen Kantor Depan. Entah karena hotel tempat saya bekerja sekarang bertaraf internasional, atau memang karena industri hotel sengaja meng-internasional-kan dirinya, kembali saya dengan tanpa susah-payah menemukan istilah-istilah bahasa Inggris berseliweran dari mulut ke mulut, dari telinga ke telinga, dari satu papan tanda ke papan tanda lainnya. Inilah yang kemudian mengilhami saya untuk kembali menulis di rubrik KKBI. Di sini saya akan memberikan beberapa tawaran padanan Bahasa Indonesia untuk istilah-istilah bahasa Inggris yang menghiasi udara yang dihirup industri perhotelan Indonesia; khususnya di bidang profesi yang saya jalani sekarang: GRO.</p>
<p>1.      <em>guest relation officer</em>: pramuhubung tamu. Tugas utama seorang Pramuhubung Tamu adalah memberi pelayanan lebih kepada tamu-tamu istimewa; juga memberikan pelayanan serta informasi ke semua tamu. Dengan kata lain, Pramuhubung Tamu adalah seseorang yang menjadi penghubung antara pihak tamu dengan pihak hotel.</p>
<p>2.      <em>treatment</em>: perlakuan. Khususnya untuk tamu-tamu istimewa, ada perlakuan khusus yang didapatkan, misalnya: pemberian (cindera mata, buah, atau keik) serta proses registrasi yang berbeda dengan tamu-tamu.</p>
<p>3.      <em>escort</em>: antar.</p>
<p>4.      <em>hotel tour</em>: wisata hotel.</p>
<p>5.      <em>city tour</em>: wisata kota.</p>
<p>6.      <em>courtesy</em>: woro-ramah. Dalam konteks hotel, hal ini dilakukan khususnya untuk &#8220;memberitahukan&#8221; atau &#8220;mengumumkan&#8221; suatu hal pada tamu. Biasanya dilakukan lewat telepon dengan tuturan yang santun.</p>
<p>7.      <em>guest amenities</em>: fasilitas tamu.</p>
<p>8.      <em>very important person</em> (biasa disingkat VIP): tamu istimewa.</p>
<p>9.      <em>guest</em>: tamu.</p>
<p>10.  <em>airport drop</em>: antar/jemput bandara.</p>
<p>11.  <em>wake-up call</em>: panggilan pagi.</p>
<p>12.  <em>luggage up</em>: barang masuk.</p>
<p>13.  <em>luggage down</em>: barang turun.</p>
<p>14.  <em>welcome drink</em>: minuman penyambut.</p>
<p>15.  <em>chilly towel</em>: handuk dingin.</p>
<p>Yap, itulah padanan yang saya dapat saya tawarkan. Jujur saja, kecil sekali kemungkinan untuk melihat industri perhotelan Indonesia menggunakan istilah-istilah Bahasa Indonesia dalam menamai posisi/pangkat kerja, kegiatan kerja, atau apa pun itu dalam laju bisnisnya. Ini boleh jadi terdengar pesimis. Bagi saya klaim itu lebih bersifat realistis. Begitupun, tiada saya pernah menyesal atau mengasihani diri karena menulis artikel ini. Sekecil apa pun usaha ini, serenik apa pun pengaruhnya nanti, tiada akan menghalangi hasrat saya untuk menggunakan hak saya sebagai penutur Bahasa Indonesia untuk berpikir, mempertimbangkan, dan kemudian menawarkan padanan untuk istilah-istilah bahasa asing yang sebenarnya dapat diindonesiakan.</p>
<p><em>* Alumnus Jurusan Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma</em></p>
<p><em>(tinggal di Yogyakarta)</em></p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Pramuhubung%20Tamu&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F07%2F30%2Fpramuhubung-tamu%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/pramuhubung-tamu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aq 4L4Y &#8212; QM Maw Ap4h?!</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/aq-4l4y-qm-maw-ap4h/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/aq-4l4y-qm-maw-ap4h/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jul 2010 11:13:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Gejala]]></category>

		<category><![CDATA[#15]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Wahyu Adi Putra Ginting
Istilah alay mungkin tidak lagi asing di telinga Anda. Tapi, sedikit orang yang berani mendefinisikan alay lewat sebuah perumusan makna yang bernas dan cerdas. Pernah ada dua cendikiawan Indonesia yang mencoba meletakkan arti dari istilah ini; definisi dari kedua ahli tersebut kerap sekali dikutip oleh orang-orang, khususnya di media maya. Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_908" class="wp-caption alignleft" style="width: 239px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/alay.jpg"><img class="size-full wp-image-908" title="alay" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/07/alay.jpg" alt="http://hphotos-snc3.fbcdn.net" width="229" height="284" /></a><p class="wp-caption-text">http://hphotos-snc3.fbcdn.net</p></div>
<p><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/wahyu-adi-putra-ginting/"><em>Oleh Wahyu Adi Putra Ginting</em></a></p>
<p>Istilah <em>alay</em> mungkin tidak lagi asing di telinga Anda. Tapi, sedikit orang yang berani mendefinisikan <em>alay</em> lewat sebuah perumusan makna yang bernas dan cerdas. Pernah ada dua cendikiawan Indonesia yang mencoba meletakkan arti dari istilah ini; definisi dari kedua ahli tersebut kerap sekali dikutip oleh orang-orang, khususnya di media maya. Berikut saya kutipkan definisi yang mereka buat:</p>
<p>Koentjara Ningrat: &#8220;<em>Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya. Diharapkan sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.</em>&#8221;</p>
<p>Selo Soemaridjan: &#8220;<em>Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu.</em>&#8221;</p>
<p>Saya menangguhkan diri untuk menyebut kedua definisi ini sebagai perumusan makna <em>alay</em> yang bernas dan cerdas. Pertama-tama, kedua definisi tersebut tidak menelusuri terlebih dahulu asal-muasal istilah <em>alay</em>. Kedua definisi di atas langsung bertolak dari klaim, yang mungkin sebenarnya tidak dibuat oleh Koentjara Ningrat dan Selo Soemaridjan; klaim tersebut lebih merujuk pada perasaan para pembenci orang-orang alay. Definisi tersebut memang menunjukkan ciri-ciri <em>alay</em>, seperti: &#8220;mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan&#8221; dan &#8220;membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain&#8221;. Tapi, dalam pencirian itu tidak jelas perubahan apa yang terjadi pada diri seorang alay. Juga, tidak terang bukti bahwa seorang alay akan merasa keren, cantik, dan hebat di antara orang lain. Koentjara Ningrat dan Selo Soemaridjan juga terjebak pada pandangan yang sangat tergesa-gesa dalam menilai <em>alay</em>. Definisi mereka mengikutsertakan penghakiman yang sebenarnya tak dapat mereka buktikan; perhatikan klaim-klaim seperti &#8220;diharapkan sifat ini segera hilang&#8221;, &#8220;mengganggu masyarakat sekitar&#8221;, dan &#8220;bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia&#8221;.</p>
<p>Saya bertanya-tanya: mengapa Koentjara Ningrat tidak tertarik untuk mengkaji mengapa &#8220;masyarakat sekitar&#8221; merasa &#8220;terganggu&#8221; dengan &#8220;gejala (alay) yang dialami pemuda-pemudi Indonesia&#8221; itu? &#8220;Masyarakat sekitar&#8221; macam apa yang merasa terganggu itu? Juga, untuk Selo Soemaridjan, mengapa ia tidak menjelaskan mengapa perilaku alay &#8220;bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia&#8221;? &#8220;Rakyat Indonesia&#8221; yang mana yang sedang diacunya ini? Mengapa pula &#8220;merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain&#8221; bertentangan dengan &#8220;sopan, santun, dan ramah&#8221;? Kekurangtelitian macam inilah yang membuat saya merasa bahwa definisi mereka atas <em>alay</em> tidak bernas dan cerdas; cenderung culas dan malas, malah.</p>
<p><strong>84ha5a 4L4Y</strong></p>
<p>Satu hal yang sangat khas dari pelaku alay adalah gaya bahasanya. Istilah &#8220;gaya bahasa&#8221; sebenarnya terlalu luas untuk ini. Mungkin, lebih tepat kalau saya katakan &#8220;gaya tulis&#8221; atau &#8220;gaya eja&#8221;. Ya, gaya eja kaum alay memang unik, dibanding dengan gaya eja formal yang kita anut dalam Bahasa Indonesia baku. Saya rasa cara saya menulis judul dan subjudul artikel ini sudah menjelaskan contoh keunikan tersebut: penggunaan huruf besar dan kecil sekaligus dalam satu kata, pemanfaatan tanda bilangan yang secara grafis menyerupai rupa huruf, dan penggunaan huruf alternatif yang berbunyi mirip dengan bunyi huruf yang dimaksudkan. Pertanyaan yang seharusnya kita pikirkan: mengapa kaum alay menyatakan keunikan mereka tidak hanya lewat cara berpakaian dan berdandan, tapi juga lewat bahasa? Tentu saja! Bahasa adalah juga alat ekspresi identitas. Penyair mengekspresikan identitasnya lewat bahasa puitis; seorang pelaku politik mengekspresikan identitasnya lewat bahasa khas dunia politik; seorang pelawak mengekspresikan identitasnya dengan bahasa humor - begitu seterusnya.</p>
<p>Banyak sekali narasi yang saya temukan, khususnya di dunia maya, yang menyatakan bahwa bahasa (gaya eja) alay itu sangat mengganggu, rusak-rusakan, egosentris, tidak mempedulikan kenyamanan komunikasi, atau bahkan membunuh tata bahasa Indonesia. Sepintas, gaya eja alay memang terlihat tidak beraturan. Untuk menuliskan <em>kamu</em> saja, ada begitu banyak tawaran ejaan yang terdapat dalam gaya alay, contohnya: <em>kamuh, kammo, kamoh, kamuwh, kamyu, qamu</em>, dsb. Atau, untuk mengeja <em>kangen,deh</em>, tampilannya bisa seperti ini: <em>K4Ng3nZ dWEcChh</em>. Tapi, bila kita mau lebih jeli lagi memperhatikan perwujudan gaya eja alay, sebenarnya sudah ada pola yang mulai terbentuk dari &#8216;ketakberaturan&#8217; itu. Misalnya saja: kerap kita paham bahwa &#8216;3&#8242; dimengerti sebagai &#8216;e&#8217;, &#8216;q&#8217; sebagai &#8216;ku&#8217; atau &#8216;k&#8217;, &#8216;x&#8217; sebagai &#8216;nya&#8217;, &#8216;6&#8242; sebagai &#8216;g&#8217;, &#8216;4&#8242; sebagai &#8216;a&#8217;, &#8216;5&#8242; sebagai &#8217;s&#8217;, dan &#8216;8&#8242; sebagai &#8216;b&#8217;.</p>
<p>Sampai di titik ciri ini, pembaca LIDAHIBU mungkin akan teringat dengan artikel Berita Gejala di edisi #14 lalu, yang berjudul &#8220;Lupus = Lucu (tapi) Pusing&#8221;. Artikel tersebut membahas gaya bahasa khas &#8216;belakang truk&#8217;. Memang banyak kemiripan yang bisa diperiksa antara kedua (gaya) bahasa ini. Keduanya sama-sama gemar menggunakan tanda bilangan dan huruf alternatif yang berbunyi mirip dengan huruf yang dimaksud. Begitu pun, jika gaya eja belakang truk cenderung mengacu pada unsur hiburan, gaya eja alay lebih mengacu pada identitas seseorang sebagai alay.</p>
<p>Anasir kekreatifan juga kerap menjadi perdebatan dalam diskusi tentang gaya eja alay. Dalam sebuah seminar bertajuk <em>Language in the Online and Offline World</em>, seorang pakar linguistik dari Universitas Kristen Petra Surabaya, Prof. Dr. Esther Kuntjara, melontarkan kalimat ini saat membicarakan &#8216;kekreatifan&#8217; penutur bahasa di dunia maya: &#8220;Penutur bahasa dalam dunia maya memang kreatif, tapi kalau rusak-rusakan namanya bukan kreatif,&#8221; (Radar Lampung, 05/06/10). Di artikel yang menjadi sumber kutipan saya itu, sebelumnya dituliskan juga pendapat sang pakar tentang bahasa alay: &#8220;Yang jelas, bahasa alay itu mencampur aduk antara tulisan, lisan, dan gambar. Sehingga semuanya menjadi kacau.&#8221; Jelaslah bahwa yang diacu oleh Kuntjara sebagai &#8220;rusak-rusakan&#8221; adalah bahasa alay, yang juga dianggapnya sebagai (bahasa yang) &#8220;kacau&#8221; karena &#8220;mencampur aduk antara tulisan, lisan, dan gambar&#8221;. Lebih lagi, saat berpendapat tentang cara-tutur pengguna internet, Kuntjara mengatakan, &#8220;Misalnya kalau menyatakan tertawa keras ditulis dengan LOL. Padahal mungkin saja, penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga semuanya menjadi kacau atau rumit.&#8221;</p>
<p>Jujur, saya merasa kasihan dengan pakar linguistik ini. Mengapa pula ia menilai sesuatu yang &#8216;rumit&#8217; sebagai yang &#8216;rusak&#8217;? Saya tidak tahu Kuntjara sudah pernah membaca karangan David Crystal, <em>Language and the Internet</em>, atau belum (sebagai seorang pakar linguistik, seharusnya sudah). Di buku itu, Crystal malah menganggap &#8216;kerumitan&#8217;, atau yang disebut Kuntjara sebagai &#8216;rusak-rusakan&#8217;, dalam bahasa di internet sebagai suatu gejala linguistik yang begitu menarik karena dibentuk oleh ciri lisan sekaligus tulisan (2006: 31). Perhatikan, contohnya, pernyataan Kuntjara tentang &#8216;tertawa keras&#8217; (LOL: <em>Laugh out Loud</em>). Kuntjara menganggap hal ini sebagai peletakan emosi seenaknya dan tidak tepat karena &#8220;mungkin saja, penulis itu justru sedang marah, bukan tertawa, sehingga semuanya menjadi kacau dan rumit.&#8221; Bah!? Bukankah &#8216;kekacauan&#8217; dan &#8216;kerumitan&#8217; macam itu memang hadir dalam komunikasi manusia? Anda pastinya pernah melakukannya: saat Anda berbicara pada orang yang sangat Anda benci, Anda memaksakan diri tersenyum manis (entah dengan alasan apa) walau mendongkol dalam hati. Lalu, mengapa pula Kuntjara menganggap orang yang menulis LOL padahal sedang marah atau kecewa sebagai sebuah keanehan? Pengejawantahan emosi dalam dunia bahasa di internet, yang diwujudkan dalam bentuk singkatan semacam LOL, sebenarnya adalah apa yang dimaksud Crystal sebagai ciri lisan sekaligus tulisan. Apa yang salah, atau &#8216;rumit&#8217;, &#8216;rusak&#8217;, dan &#8216;kacau&#8217;, tentang hal itu?</p>
<p>Tuduhan lain yang sering sekali ditimpakan pada bahasa (gaya eja) alay adalah bahwa ia merusak, atau bahkan membunuh, tata bahasa Indonesia. Saya bingung dengan orang-orang yang berkata demikian. Apa buktinya tata bahasa Indonesia dibunuh oleh bahasa (gaya eja) alay? Tuduhan tuna-bukti ini, menurut saya, terlalu berlebihan dan justru menunjukkan ketidakpahaman penuduh itu tentang tata bahasa Indonesia. Lebih lagi, tuduhan ini adalah sebuah tuduhan pengecut karena hanya berani menyerang orang-orang semacam kaum alay yang tidak punya kuasa atau otoritas bahasa dan politik di Indonesia ini. Coba pikir, kalau memang perubahan ejaan radikal yang dilakukan kaum alay itu patut dimaki, mengapa para penuduh itu tidak sekalian memaki Ejaan yang Disempurnakan (EYD)? Bukankah EYD, yang secara simbolis diresmikan Suharto lewat Pidato Kenegaraan di depan Sidang Dewan Perwakilan Rakyat pada 16 Agustus 1972 lalu, sudah jelas-jelas mengubah dasar ejaan Bahasa Indonesia? Bukankah hal itu membuat &#8216;kekacauan&#8217; karena seluruh rakyat Indonesia harus turut belajar ejaan baru dan seluruh perusahaan percetakan mungkin harus memperbaharui buku-buku yang sedianya dicetak dengan ejaan lama? Bukankah EYD juga turut mempromosikan, meminjam istilah Ben Anderson, amnesia nasional karena generasi muda Indonesia <em>lupa</em> pada sejarah-bukan-versi-orde-baru yang tercetak dalam buku-buku dengan ejaan lama karena mereka mungkin jadi malas membacanya sebab &#8216;rumit&#8217; dan &#8216;kacau&#8217;? Mengapa perubahan radikal ini tidak disebut &#8216;kacau&#8217; juga oleh para penuduh itu? Kalau yang menuduh gaya eja alay sebagai perusak tata bahasa Indonesia itu adalah orang awam, bolehlah saya pikir bahwa mereka mungkin tidak tahu atau kekurangan informasi tentang hal ini. Tapi, kalau yang menuduh itu adalah seseorang yang mengaku &#8216;pakar linguistik&#8217;, bergelar Prof. Dr. pula, saya akan nilai ia sebagai pengecut karena garang melawan yang alay tapi memble melawan kekuasaan!</p>
<p>Orang-orang yang menulis atau menggubah cara eja alay berpikir mereka kreatif karena mereka memang kreatif. Dan gaya eja itu, menurut saya, menunjukkan kompetensi penuh atas ortografi Bahasa Indonesia. Gaya eja alay bekerja pada tataran linguistik bahasa. Perhatikan saja: bukankah gaya eja itu menggunakan anasir-anasir serupa homofon, atau bahkan semiotika? Gaya eja alay memperlakukan abjad, tanda baca, dan bilangan sebagai simbol yang memanifestasikan bunyi atau huruf tertentu. Saya sendiri menikmati kekreatifan linguistik semacam ini. Gaya eja alay justru menyemangati saya untuk memecahkan sandi yang digunakan dalam penulisan. Ya, saya menganggap tulisan alay sebagai sandi, dan hanya butuh sedikit kesabaran dan waktu untuk terbiasa dengannya dan untuk mampu memecahkannya.</p>
<p>Pengguna gaya eja alay pun telah mempraktikkan gaya ejanya di tempat yang semestinya. Mereka berbahasa alay bukan dalam laporan ilmiah atau pidato resmi. Mereka berbahasa alay dalam ruang-ruang bahasa yang sifatnya lebih santai seperti di situs jejaring sosial, obrolan pribadi, dan pesan singkat.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar sarkasme tak bertanggung jawab dapat dilakukan dalam mengkaji fenomena ini. Coba Anda bayangkan, sebegitu bencinya orang-orang anti-alay sampai mereka mengekspresikannya dalam kata-kata emosional semacam &#8216;cuma cari sensasi&#8217;, &#8216;merusak&#8217;, &#8216;harus dimusnahkan&#8217;, dlsb. Di situs jejaring sosial semacam Facebook sendiri telah lama terbentuk Grup Anti Alay. Dan tindakan-tindakan &#8216;anti&#8217; semacam ini telah berujung pada tindakan aniaya-karakter terhadap seorang siswa SMU di Banyuwangi sana, bernama-maya Ophi A. Bubu, yang dirujuk sebagai Ratu Alay. Bukankah jauh lebih berharga bila kita mencurahkan energi kita untuk berbuat sesuatu terhadap gejala tindakan fasis seperti ini, dan bukan cuma dengan gagap dan latah mengatakan bahwa bahasa alay merusak bahasa nasional kita?</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Aq%204L4Y%20%26%238212%3B%20QM%20Maw%20Ap4h%3F%21&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F07%2F30%2Faq-4l4y-qm-maw-ap4h%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/07/30/aq-4l4y-qm-maw-ap4h/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Membayangkan Diri sebagai Martir (Wawancara dengan Eko Endarmoko)</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/06/01/saya-membayangkan-diri-sebagai-martir-wawancara-dengan-eko-endarmoko/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/06/01/saya-membayangkan-diri-sebagai-martir-wawancara-dengan-eko-endarmoko/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 06:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Serba-Serbi]]></category>

		<category><![CDATA[#14]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Redaksi: Pembaca, artikel ini redaksi kutip dari catatan Sdr. Wandi Yusuf (salah seorang pewawancara) di akun Facebooknya. Artikel ini sebelumnya dimuat-cetak di Radar Bekasi, 27 Mei, 2010. Atas izin Sdr. Eko Endarmoko, redaksi memuatnya di rubrik Serba-Serbi, dengan sedikit penyuntingan aksara dan format tulisan. Selamat membaca.
Di tengah pemulihan stroke yang dideritanya sejak 2002, Eko [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Pengantar Redaksi: Pembaca, artikel ini redaksi kutip dari catatan Sdr. Wandi Yusuf (salah seorang pewawancara) di akun Facebooknya. Artikel ini sebelumnya dimuat-cetak di Radar Bekasi, 27 Mei, 2010. Atas izin Sdr. Eko Endarmoko, redaksi memuatnya di rubrik Serba-Serbi, dengan sedikit penyuntingan aksara dan format tulisan. Selamat membaca.</em></p>
<div id="attachment_902" class="wp-caption alignleft" style="width: 286px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/06/eko-endarmoko-pengarang-tesaurus-bahasa-indonesia.jpg"><img class="size-full wp-image-902" title="eko-endarmoko-pengarang-tesaurus-bahasa-indonesia" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/06/eko-endarmoko-pengarang-tesaurus-bahasa-indonesia.jpg" alt="Eko Endarmoko (foto diambil dari akun Facebook beliau)" width="276" height="194" /></a><p class="wp-caption-text">Eko Endarmoko (foto diambil dari akun Facebook beliau)</p></div>
<p>Di tengah pemulihan <em>stroke</em> yang dideritanya sejak 2002, Eko Endarmoko mendapati karyanya ditiru oleh Pusat Bahasa. Pertama kali ia menemukan karyanya ditiru justru ketika ia berniat ingin merevisi kamus Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) yang ia tulis pada 2006. Desember 2009, ketika Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia (TABI) karya Pusat Bahasa yang diterbitkan Penerbit Mizan dirilis, Eko langsung membeli.</p>
<p>Ia membayangkan karya itu akan memperkaya edisi revisi TBI yang direncanakan terbit pada 2013. Tak dinyana, TABI justru tak lebih kaya dari TBI. Ia geram mendapati banyaknya susunan lema yang ia temukan dijiplak paripurna oleh Pusat Bahasa.</p>
<p>Betapa tidak, 26 tahun ia menyusun TBI. Sejak masih kuliah pada 1980, Eko sudah rajin mengumpulkan sinonim yang awalnya ditugaskan dosennya, Anton Moeliono. Saat berprofesi sebagai wartawan, kebiasaan mengumpulkan sinonim tak bisa dihentikan. Ia selalu menyempatkan diri untuk memungut lema, mencari sinonimnya, lalu meletakkannya di kertas folio yang dibagi empat.</p>
<p>Di tahun 1987, saat Eko bergiat di Komunitas Utan Kayu, keranjingan mengumpulkan sinonim makin tak terbentung. Dan puncaknya pada 2001. Setelah mengikat kontrak dengan Penerbit Gramedia, setengah hidupnya ia dedikasikan untuk mengumpulkan sinonim. Penyakit <em>stroke</em> yang ia derita tak lepas dari kerja kerasnya mengumpulkan sinonim. Jadi, sangat aneh jika Eko memandang remeh dugaan plagiarisme yang dilakukan Pusat Bahasa.</p>
<p>Ditemui Wandi Yusuf dan L. Uneputty di rumahnya di Blok A4/5, Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara, Eko yang badannya ringkih itu, menjawab pertanyaan yang diajukan dengan meletup-letup. Berikut hasil wawancaranya.</p>
<p><em>Kapan pertama kali Anda sadar kalau karya Anda dijiplak?</em></p>
<p>Saya beli buku itu (kamus Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia, atau TABI) untuk revisi buku saya (Tesaurus Bahasa Indonesia, atau TBI). Saya beranggapan begitu banyak kamus baru yang lengkap yang bisa dijadikan referensi. Tapi setelah mengecek, saya justru jadi gerah. Banyak susunan lema yang sama dengan yang saya temukan.</p>
<p><em>Anda yakin mereka menjiplak?</em></p>
<p>Sumbernya memang sama, bahasa Indonesia. Memang bisa terjadi ada kesamaan. Tapi, kalau kesamaannya persis <em>plek </em>seperti ini, namanya bukan lagi kebetulan. Indikator kuat ada penjiplakan. Plagiarisme.</p>
<p>=Eko kemudian menunjukkan contoh lema dari TABI yang diambil sama persis dari kamus karyanya=</p>
<p>(Lema) yang saya tandai dengan merah muda, semua sama sampai pada tanda bacanya. Mereka mengambil terlalu banyak dari TBI. Mengambil banyak dari satu kamus, bukan mengambil sedikit dari banyak kamus. Apalagi kata dari serapan bahasa asing. Banyak sekali. Ambillah kata <em>ideal</em>. Anda bisa lihat sendiri, <em>keliatan</em> sekali mereka tidak mericek. Semuanya sama seperti yang saya temukan.</p>
<p>Seharusnya, kamus yang terbitnya lebih kemudian dan punya tenaga yang banyak, lebih baik dan lebih lengkap. Tapi kalau cuma <em>kaya(k) </em>begitu <em>aja</em>, mohon maaf.</p>
<p><em>Ada contoh lain?</em></p>
<p>Pada pengelompokan makna misalnya. Ada nuansa yang membedakan antara satu kata dengan kata lain. Nah, kalau di TABI semua itu <em>gak </em>ada. Dibongkar. Jadi hancur lagi. (Pengelompokan) itu sebenarnya satu tawaran saya untuk mempertajam perbedaan makna. Mereka malah menghancurkannya.</p>
<p>Ada lagi. Jika di TBI ada lema dengan sinonim sebanyak lima kata, maka di TABI ada empat atau enam kata. Ini saya menduga agar tidak sama karena argumen mereka lemah. Ini ada polanya, lho. Semua yang kurang dan semua yang dilebihkan ada polanya. Dan saya menemukan itu.</p>
<p>Ini perbuatan nista senista-nistanya, rendah serendah-rendahnya. Bagaimana mereka bisa dengan bangga mengatakan bahwa ini disusun oleh ahli.</p>
<p>=Ia kemudian memberikan contoh yang menurutnya sangat menarik (lihat grafis)=</p>
<p><em>Apakah Pusat Bahasa mencantumkan nama Anda sebagai salah satu penyusun?</em></p>
<p>Tidak ada. Nama dan karya saya hanya ada di buku acuan. Seharusnya jika mereka mengambil sebanyak itu, mereka memberi tahu saya. Berdasarkan informasi teman, Pusat Bahasa pernah memanggil saya, tapi saya tak pernah merasa dipanggil. Mereka tak pernah mengontak saya. Ada juga teman yang usul agar saya menyurati mereka untuk mengingatkan. Maaf <em>aja</em>, itu namanya <em>ngemis-ngemis</em>. <em>Gak</em> mau saya.</p>
<p><em>Anda akan menggugat Pusat Bahasa?</em></p>
<p>Sebelum ke sana, saya minta saran ke HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Saya minta pandangan dan saran, apa langkah hukum selanjutnya dan apa konsekuensinya. Yang jelas persoalan ini belum final.</p>
<p><em>Saran HAKI?</em></p>
<p>Melayangkan somasi terlebih dahulu. Selanjutnya melayangkan surat kepada Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual. Salah satu yang menjadi anggota tim adalah Departemen Pendidikan Nasional. Ini menjadi lucu, saya kan akan menggugat mereka (Departemen Pendidikan Nasional, dalam hal ini Pusat Bahasa) karena melakukan pelanggaran. Ini menarik. Departemen Pendidikan Nasional menzalimi warganya.</p>
<p><em>Itu sudah Anda lakukan?</em></p>
<p>Sedang dalam proses.</p>
<p><em>Pusat Bahasa membantah menjiplak karya Anda dan siap membeberkan proses pembuatannya&#8230;</em></p>
<p>Mari kita lihat. Tidak ada gunanya berdebat kusir (di media). <em>Gak </em>mau saya. Nanti kita lihat di pengadilan. Di sana akan diketahui dengan jelas karena akan diukur melalui bukti yang dibawa masing-masing. Saya sudah siapkan bukti-buktinya. Kalau mereka mau berdebat ilmiah, saya siap <em>banget</em>.</p>
<p><em>Anda sudah menyiapkan pengacara?</em></p>
<p>Sudah, tapi saya belum mau menjawab siapa karena prosesnya belum sampai ke sana. Yang jelas, dia adalah pengacara independen. Pengacara yang punya kelaslah.</p>
<p><em>Sepengetahuan Anda, sebelum kasus plagiarisme terhadap TBI, adakah kasus yang sama yang dilakukan Pusat Bahasa?</em></p>
<p>Banyak sekali, tapi <em>gak</em> pernah ditindaklanjuti. Tidak pernah ada orang yang berani mempersoalkan. Mungkin kalau mereka mempersoalkan, mereka takut tidak diikutkan dalam proyek pembuatan buku selanjutnya. Banyak, banyak sekali. Beberapa adalah teman saya dan saya tahu dari mereka.</p>
<p><em>Berarti Anda yang pertama bereaksi?</em></p>
<p>Ya, saya membayangkan diri saya sebagai martir.</p>
<p><em>Apa yang Anda inginkan dari gugatan ini?</em></p>
<p>Penerbit mencabut kamus itu dari pasar jika terbukti benar (melakukan plagiarisme).</p>
<p><em>Dengan adanya dugaan plagiarisme, apakah persiapan Anda merevisi TBI terganggu?</em></p>
<p>Kasus ini jelas sangat mengganggu proses revisi TBI. Tapi target revisi harus tetap terbit tahun 2013. Semoga kasus ini tidak mengganggu proses penyusunan karena banyak <em>temen</em> yang membantu.</p>
<p><em>Anda berharap kapan kasus ini selesai?</em></p>
<p>Tahun ini harus selesai agar saya bisa lebih fokus menyelesaikan revisi TBI.</p>
<p><em>Apa yang akan Anda revisi di kamus TBI?</em></p>
<p>Saya akan menambahkan antonim. Antonim dianggap perlu karena pembaca perlu kontras untuk mempertegas makna. Selain itu, saya akan menambah sinonim-sinonim yang belum lengkap dan menyempurnakan nuansa makna. Banyak sekali yang <em>ngawur</em> di sini (TBI).</p>
<p><em>Apa sebenarnya obsesi Anda merevisi Tesaurus?</em></p>
<p>Saya ingin bahasa Indonesia memiliki tesaurus seperti bahasa lain punya tesaurus. Buat saya ini belum selesai. Saya kira apa yang saya buat ini masih bahan mentah untuk suatu tesaurus yang lebih sempurna dan lebih baik. Bahasa Indonesia itu ternyata kaya. Saya tak mau kekayaan bahasa kita punah karena jarang digunakan.</p>
<p><em>Adakah penerus Anda?</em></p>
<p>Belum ada yang mau menyusun tesaurus. Tapi itu harus ada. Dan asalkan jangan meniru yang sebelumnya.</p>
<p><em>Jika sedang bosan mengerjakan tesaurus, apa yang Anda lakukan?</em></p>
<p>Biasanya saya menulis karangan bahasa dan dikirimkan ke media. Atau kadang-kadang diminta orang untuk mengisi seminar.</p>
<p>=====</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Contoh Dugaan Plagiarisme yang Serampangan:</span></strong></p>
<p>(Versi TBI) <em>predisposisi</em> n 1 kecenderungan, kecondongan, kegemaran, kesukaan; 2 Dok kerentaan (tubuh)</p>
<p><em>preferensi</em> n 1 alternatif, opsi, pilihan, seleksi; 2 pengutamaan, prioritas</p>
<p>(Versi TABI) <em>predisposisi</em>: 1 alternatif, opsi, pilihan, seleksi; 2 pengutamaan, prioritas</p>
<p>(Kamus TABI terlihat teledor dalam memasukkan sinonim lema <em>predisposisi</em>. Gugus sinonim yang dimasukkan justru merupakan sinonim dari lema <em>preferensi</em> yang tertera di kamus TBI. Dan penyusunan sinonimnya pun sama.)</p>
<p>///</p>
<p>(Versi TBI) <em>profit</em> n 1 keuntungan, laba, margin, persentase, surplus; 2 faedah, kegunaan, manfaat, nilai</p>
<p><em>profitabel</em> a 1 komersial, menguntungkan, remunerative; 2 berguna, bermanfaat, bernilai, produktif</p>
<p>(Versi TABI) <em>profit</em> n 1 keuntungan, laba, margin, persentase, surplus; 2 berguna, bermanfaat, bernilai, produktif</p>
<p>(Kesalahan kembali dilakukan penyusun kamus TABI. Mereka secara serampangan memasukkan gugus lema <em>profitabel</em> yang berbentuk kata sifat ke dalam lema <em>profit</em> yang berbentuk kata benda. Di TABI, lema <em>profitabel</em> justru tidak dimasukkan)</p>
<p>=====</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Banyak Masalah di Pusat Bahasa</span></strong></p>
<p>Ternyata bukan hanya Eko Endarmoko yang dikecewakan Pusat Bahasa. Lembaga bahasa yang bernaung di bawah Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional ini juga pernah membuat kecewa penulis lain. Ajip Rosidi, sebagai contoh. Pesastra asal Majalengka, Jawa Barat, ini pernah marah besar karena Pusat Bahasa mengambil tanpa izin karya yang ia buat.</p>
<p>&#8220;Namun, sebatas itu (marah-marah, red.). Pak Ajip tak melanjutkan masalah itu,&#8221; kata pegawai di Subbidang Pemasyarakatan Sastra, Bidang Pembinaan Bahasa dan Sastra, Pusat Bahasa, Sastri Sunarti Sweeney.</p>
<p>Walaupun sebagai pegawai Pusat Bahasa, Sastri mengakui lembaganya tidak dewasa menyikapi kekecewaan penulis. Dalam kasus dugaan plagiarisme yang menimpa Eko Endarmoko, Sastri justru mendukung Moko, begitu Eko biasa disapa.</p>
<p>&#8220;Jika Pusat Bahasa yakin tak menjiplak, seharusnya dibuktikan dengan memanggil Moko untuk adu data,&#8221; kata istri profesor pengkajian Melayu asal Irlandia, Amin Sweeney, ini.</p>
<p>Pusat Bahasa justru alpa. Mereka tak bereaksi. Sastri kecewa kepada Kepala Pusat Bahasa Dendy Sugono yang tak menindaklanjuti kekecewaan Moko. &#8220;Banyak masalah di Pusat Bahasa, baik internal maupun eksternal. Masalah dengan Moko hanya salah satunya,&#8221; kata dia. (ndi)</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Saya%20Membayangkan%20Diri%20sebagai%20Martir%20%28Wawancara%20dengan%20Eko%20Endarmoko%29&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F06%2F01%2Fsaya-membayangkan-diri-sebagai-martir-wawancara-dengan-eko-endarmoko%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/06/01/saya-membayangkan-diri-sebagai-martir-wawancara-dengan-eko-endarmoko/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>oleh munsyinakal</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/05/30/oleh-munsyinakal-9/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/05/30/oleh-munsyinakal-9/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 17:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Lidah Tak Bertulang]]></category>

		<category><![CDATA[#14]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=898</guid>
		<description><![CDATA[- Sandi belakang truk&#8230; &#8220;hanya bisa dibaca dan dipahami segala-sesuatu tentangnya bila kunci-pembongkar sandi itu telah dikuasai pembaca.&#8221;
Sayang Whorf sudah mangkat. Kalau belum, setelah baca edisi ini di lidahibu.com, pasti dia langsung berangkat ke pesisir Pantura untuk meneliti gejala bahasa &#8216;teka-teki&#8217; ini.
- &#8220;Apa hubungan Benjamin Lee Whorf dengan Bruce Lee?&#8221;
Sama-sama tidak takut api!
- &#8230;dan kambing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>- Sandi belakang truk&#8230; &#8220;hanya bisa dibaca dan dipahami segala-sesuatu tentangnya bila kunci-pembongkar sandi itu telah dikuasai pembaca.&#8221;</p>
<p><em>Sayang Whorf sudah mangkat. Kalau belum, setelah baca edisi ini di lidahibu.com, pasti dia langsung berangkat ke pesisir Pantura untuk meneliti gejala bahasa &#8216;teka-teki&#8217; ini.</em></p>
<p>- &#8220;Apa hubungan Benjamin Lee Whorf dengan Bruce Lee?&#8221;</p>
<p><em>Sama-sama tidak takut api!</em></p>
<p>- &#8230;dan kambing hitam itu bernama Lapen.</p>
<p><em>Minum Kambing Putih sajalah&#8230;</em></p>
<p>-Murid: Cik, bahasa Inggrisnya <em>bensin </em>apa?</p>
<p>Encik Dosen: Gampang, pasti <em>gas!</em></p>
<p>Murid: Bukannya <em>petrol</em>, Cik?</p>
<p><em>Hahaha&#8230; Salah semua! Yang benar itu O.I.L.</em></p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=oleh%20munsyinakal&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F05%2F30%2Foleh-munsyinakal-9%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/05/30/oleh-munsyinakal-9/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kata-Kata Ajaib</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/05/23/kata-kata-ajaib/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/05/23/kata-kata-ajaib/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 14:47:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<category><![CDATA[#14]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=894</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Armando Soriano

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/armando-soriano/">Oleh Armando Soriano</a><br />
</em></p>
<div id="attachment_895" class="wp-caption alignleft" style="width: 407px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/05/komik-ed14.jpg"><img class="size-full wp-image-895 " title="Kata-Kata Ajaib" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/05/komik-ed14.jpg" alt="Kata-Kata Ajaib" width="397" height="475" /></a><p class="wp-caption-text">Kata-Kata Ajaib</p></div>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Kata-Kata%20Ajaib&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F05%2F23%2Fkata-kata-ajaib%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/05/23/kata-kata-ajaib/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kartun (Non) Komunikasi</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/05/23/kartun-non-komunikasi/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/05/23/kartun-non-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 14:32:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pustaka Gokil]]></category>

		<category><![CDATA[#14]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=887</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gideon Widyatmoko
Judul: Kartun (Non) Komunikasi
Pengarang: Larry Gonick
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2007
Buku yang LIDAHIBU ulas kali ini sangatlah istimewa karena tidak melulu tulisan yang menjadi isinya. Namanya juga komik, pastilah ada gambarnya. Tetapi jangan dibayangkan seperti komik-komik yang sangat normatif dengan garis tegas dan gambar yang rapih seperti komik Doraemon, karena gambar di sini hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/gideon-widyatmoko/"><em>Oleh Gideon Widyatmoko</em></a></p>
<div id="attachment_888" class="wp-caption alignleft" style="width: 207px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/05/foto-pustaka-gokil-ed14.jpg"><img class="size-full wp-image-888" title="Kartun (Non) Komunikasi" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/05/foto-pustaka-gokil-ed14.jpg" alt="Kartun (Non) Komunikasi" width="197" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">Kartun (Non) Komunikasi</p></div>
<p>Judul: Kartun (Non) Komunikasi</p>
<p>Pengarang: Larry Gonick</p>
<p>Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia</p>
<p>Tahun: 2007</p>
<p>Buku yang LIDAHIBU ulas kali ini sangatlah istimewa karena tidak melulu tulisan yang menjadi isinya. Namanya juga komik, pastilah ada gambarnya. Tetapi jangan dibayangkan seperti komik-komik yang sangat normatif dengan garis tegas dan gambar yang rapih seperti komik <em>Doraemon</em>, karena gambar di sini hanya untuk memudahkan para pembaca memahami maksud dari komunikasi itu sendiri. Gambarnya <em>sih</em> jelek, tetapi benar-benar efektif untuk membuat para pembacanya tenggelam ke lautan komunikasi. Nah, Anda siap? Kita mulai ulasannya. <em>Yuuk&#8230;</em></p>
<p>Siapakah sebenarnya Larry Gonick ini? Sebenarnya beliau ini hanya orang biasa yang kebetulan lulus dari Jurusan Matematika, Universitas Harvard, dan sekarang hanya bekerja di beberapa laboratorium farmakologi dan juga mungkin sesekali memprogram komputer. Kesehariannya ya hanya seperti itu saja, tidak banyak yang dilakukannya selain bekerja dan menonton TV serta, tentunya, menggambar kartun. Sangat banyak waktu yang dia gunakan untuk menggambar kartun. Mungkin keseharian seperti inilah yang membuat Gonick menghasilkan banyak buku kartun, seperti 3 seri Kartun Riwayat Peradaban, Kartun Riwayat Peradaban Modern, Kartun Fisika, Kartun Biologi. Kartun Kimia, Kartun Statistika, hingga Kartun Lingkungan. Wuih, dahsyat!</p>
<p>Karena LIDAHIBU adalah majalah bahasa, maka yang dibahas oleh LIDAHIBU adalah buku Kartun (Non) Komunikasi. Banyak yang disampaikan oleh Gonick dalam buku ini. Mungkin tidak terlalu teperinci, tetapi secara garis besar buku ini sangat baik penyampaiannya. Gonick menjelaskan kebingungan bahasa pada masa-awal dulu dengan gambar pembangunan Menara Babel yang tingginya sangatlah tinggi. Orang yang membangun Menara Babel dulu, ceritanya, berasal dari daerah yang berbeda, dan tentunya dengan bahasa yang berbeda juga. Jadi kuli bangunan yang satu dengan yang lain berbicara dengan bahasa masing-masing yang sama sekali tidak dimengerti lawan-bicara. Maka gagallah pembangunan Menara Babel ini.</p>
<p>Dari gambar Menara Babel itu, pembaca sudah bisa langsung menyiapkan pikirannya untuk mendapatkan penjelasan tentang sejarah pembentukkan bahasa, dan ternyata, menurut Gonick, bahasa verbal pertama dikeluarkan oleh seekor katak purba, ha!</p>
<p>Jauh sebelum katak itu berbicara, mikroorganisme hanya menggunakan bahasa tubuh dan bahasa isyarat untuk memenuhi kebutuhannya. Awalnya tentu saja untuk memenuhi kebutuhan seksual, lalu berkembang untuk kebutuhan akan sebuah status kekuasaan, berkembang lagi untuk memenuhi kebutuhan jasmani - seperti menunjukkan kalau kita kelaparan, lalu berkembang lagi untuk memenuhi kebutuhan emosional kita.</p>
<p>Nah, setelah kita belajar sejarah, Gonick mengajak kita untuk belajar bagaimana manusia mulai belajar memahami makna &#8212; makna atas simbol dan berbagai macam hal lainnya. Apakah memang otak manusia sejak dulu tercipta untuk dapat memahami makna secara instan, atau harus melalui proses yang cukup panjang dan menjemukan? Tidak terlalu panjang sebenarnya, hanya mungkin saja cukup menjemukan, karena ada banyak hal yang harus dimengerti untuk menemukan jawabannya. Tetapi untunglah ini berupa buku bergambar, jadi mudah untuk dimengerti.</p>
<p>Masih banyak lagi isi dari buku ini, seperti terciptanya simbol komunikasi yang paling sederhana, yaitu bahasa, hingga perkembangannya sampai masa modern ini. Juga dibahas tentang bagaimana manusia akan lebih mudah memahami bahasa dan simbol apabila terdapat citra yang jelas, yang secara visual kasatmata. Karena Gonick berpikir bahwa dengan melihat berarti percaya. Yah, terbukti dengan Gonick yang membuat buku menggunakan gambar yang jumlahnya cukup dominan.</p>
<p>Menarik sekali buku ini. Memang <em>sih</em> gambarnya tidak sebagus Kartun Riwayat Peradaban, karena buku Kartun (Non) Komunikasi ini sebenarnya buku ilmiah dengan ilustrasi yang cukup dominan, untuk memudahkan pembaca memahami apa yang ingin diungkapkan oleh Gonick. Sementara, buku Kartun Riwayat Peradaban adalah buku komik ilmiah. Nah, bisa membedakannya?</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Kartun%20%28Non%29%20Komunikasi&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F05%2F23%2Fkartun-non-komunikasi%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/05/23/kartun-non-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
