<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Lidahibu.com</title>
	<atom:link href="http://www.lidahibu.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lidahibu.com</link>
	<description>Linguistik Berfaedah dan HIBURAN</description>
	<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 11:38:35 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>BaBe: Bahasa Berencana</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/babe-bahasa-berencana/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/babe-bahasa-berencana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 11:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tulisan Musiman]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=789</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Wahyu Adi Putra Ginting
Pembuka: tentang judul
Saat memutuskan untuk menamai tulisan ini dengan judul Bahasa Berencana, saya membiarkan judul tersebut mengendap selama satu malam, tanpa berani untuk mulai menulis isiannya. Topik yang ingin saya bahas di halaman khusus Hari Bahasa Ibu Internasional 2010 ini memang tentang &#8216;Perencanaan Bahasa&#8217;, sebuah aksi yang diselenggarakan sebagai &#8220;perubahan bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_790" class="wp-caption alignleft" style="width: 359px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/ilustrasi-bahasa-berencana.jpg"><img class="size-large wp-image-790 " title="ilustrasi-bahasa-berencana" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/ilustrasi-bahasa-berencana-499x448.jpg" alt="bahasa berencana" width="349" height="314" /></a><p class="wp-caption-text">bahasa berencana</p></div>
<p><em><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/wahyu-adi-putra-ginting/">Oleh Wahyu Adi Putra Ginting</a></em></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pembuka: tentang judul</span></strong></p>
<p>Saat memutuskan untuk menamai tulisan ini dengan judul <em>Bahasa Berencana</em>, saya membiarkan judul tersebut mengendap selama satu malam, tanpa berani untuk mulai menulis isiannya. Topik yang ingin saya bahas di halaman khusus Hari Bahasa Ibu Internasional 2010 ini memang tentang &#8216;Perencanaan Bahasa&#8217;, sebuah aksi yang diselenggarakan sebagai &#8220;perubahan bahasa yang <em>disengaja</em>; yaitu, perubahan pada sistem kode bahasa atau sistem wicara atau keduanya yang direncanakan oleh lembaga-lembaga yang dibangun untuk tujuan-tujuan itu atau yang diberi mandat untuk memenuhi tujuan-tujuan itu,&#8221; (Rubin dan Jernudd, editor, 1975; terjemahan saya).</p>
<p>Sebuah perubahan yang &#8216;disengaja&#8217;. Saya awalnya memang bermain-main dengan istilah &#8216;Keluarga Berencana&#8217; saat memilih judul <em>Bahasa Berencana</em>. Baru saat saya kembali melihat judul pilihan saya inilah saya menyadari kengerian yang boleh jadi bersembunyi di balik kata-inti <em>berencana</em> itu. Dengan memakai logika &#8216;Keluarga Berencana&#8217; di Indonesia, yang di dalamnya terdapat nalar untuk &#8216;menekan&#8217; laju pertumbuhan penduduk dengan resep-dapur &#8216;cukup dua anak saja&#8217; itu, saya jadi membayangkan: jangan-jangan, &#8216;Bahasa Berencana&#8217; di Indonesia juga punya tujuan-samar untuk &#8216;menekan&#8217; laju pertumbuhan bahasa(-bahasa vernakular) dengan resep-dapur yang lebih ekstrim: &#8216;cukup satu bahasa saja&#8217;.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Apa Rencanamu, Bahasa Berencana?</span></strong></p>
<p>Mari kita tilik satu lagi makna &#8216;perencanaan bahasa&#8217;, kali ini dari B. Weinstein, seperti yang dikutip Ronald Wardhaugh dalam pustakanya <em>An Introduction to Sociolinguistics</em>: &#8220;Perencanaan bahasa adalah sebuah usaha yang diberi wewenang oleh pemerintah, berjangka-panjang, berkelanjutan, dan dilakukan dengan sadar untuk mengubah fungsi sebuah bahasa dalam masyarakat dan bertujuan untuk memberi jalan keluar bagi masalah-masalah komunikasi,&#8221; (1992, hal. 345; terjemahan saya). Wardhaugh lalu melanjutkan bahwa &#8220;perencanaan bahasa telah menjadi bagian dari bina-bangsa modern karena usaha untuk membuat bahasa dan bangsa muradif adalah sebuah tren di dunia modern,&#8221; (<em>ibid</em>.).</p>
<p>Sebelum saya lanjut, agar tidak terjadi kebingungan istilah dan agar istilah yang dipakai untuk keperluan risalah ini tetap konsisten, saya akan menggunakan frasa &#8216;bahasa berencana&#8217; untuk mengacu pada &#8216;perencanaan bahasa&#8217;. Di akhir risalah ini, akan saya beritahukan alasannya. Saya lanjutkan. Kata-inti baru telah muncul: modern. Pemodernan adalah nada dasar dari bahasa berencana (seterusnya saya sebut &#8216;BaBe&#8217;). Sebuah bangsa berusaha untuk menjembatani sambung-wicara antar warga negaranya karena sambung-wicara yang mudah dan lancar adalah sebuah syarat untuk menjadi sebuah negara yang modern; bangsa yang warganya bersatu dalam bahasa adalah bangsa yang telah memiliki fitur-identitas - ingat (!) bahasa adalah penanda-diri. Maka itu, terutama di sebuah negara yang warganya punya latar belakang budaya dan bahasa yang beragam, Babe menjadi penting. Kemudian, dalam prosesnya, BaBe membutuhkan banyak hal yang harus dilakukan: mulai dari penyepakatan ejaan, pemerkayaan kosakata, penyesuaian lafal, penyusunan kamus, sampai pada pembentukan sistem (penciptaan, bila perlu) tata bahasa. BaBe adalah sebuah proyek besar, yang dilakukan oleh orang-orang &#8216;besar&#8217;.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">BaBe di Eropa</span></strong></p>
<p>Di banyak negara berkembang (untuk menyebut negara bekas jajahan), Babe adalah produk yang didukung oleh kebijakan pemerintah. Hal ini berbeda dengan proses BaBe di kebanyakan negara barat, yang menyelenggarakan BaBe lewat lembaga-lembaga pribadi atau publik (Rubin dan Jernudd, 1975). Satu contoh adalah BaBe yang terjadi di Perancis, yang tidak diselenggarakan lewat kebijakan pemerintahnya, melainkan oleh sebuah lembaga elegan bernama Akademi Perancis. Contoh yang unik dapat kita lihat di negara Turki. Pada masa pemerintahan Attaturk, Turki, dengan semangat pemodernan yang luar biasa, mengeropakan bahasa Turki dengan menganut ejaan Romawi (yang mengganti ejaan Arab). Hal ini tidak mendapat banyak protes dari warga-negaranya; bukan karena tindakan represif yang dilakukan pemerintahan Attaturk, tapi karena pada saat itu penduduk yang melek-huruf baru sekitar 10% saja. Untuk proses pemerkayaan kosakata, bahasa Turki dilengkapi dengan banyak sekali istilah dari bahasa-bahasa Eropa. Karena memiliki akar-budaya yang sangat erat dengan budaya Arab, hal ini, penyerapan kosakata dari bahasa Eropa ini, punya potensi protes yang tinggi. Untuk itu, dimunculkanlah satu teori yang agak lucu: Teori Bahasa Mentari. Teori garapan pemerintah Turki ini mendaku bahwa dulunya bahasa Turki adalah sumber dari semua bahasa-bahasa eropa, tapi banyak kosakata yang hilang karena pengaruh bahasa Arab. Maka, tindakan penyerapan istilah-istilah bahasa eropa untuk melengkapi kosakata Turki, yang saat itu butuh banyak terminologi di bidang administrasi, teknologi, dan sains (namanya juga ingin &#8216;modern&#8217;!), tak lebih hanya sekedar tindakan &#8216;memungut&#8217; kembali apa yang tercecer dari karung kosakata mereka.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">BaBe di Indonesia</span></strong></p>
<p>Tentunya, Indonesia termasuk negara berkembang (untuk mengatakan negara bekas jajahan). Bangsa ini telah memilih sebuah <em>lingua franca</em> (bahasa Melayu) untuk diangkat statusnya sebagai bahasa nasional: Bahasa Indonesia. Seperti yang dinyatakan Rubin dan Jernudd, BaBe di kebanyakan negara berkembang diselenggarakan lewat kebijakan pemerintah, bukan lewat lembaga-lembaga tan-pemerintah. Maka, kita tidak usah heran mengapa di Indonesia ada sebuah lembaga garapan pemerintah sejenis Pusat Bahasa dan Balai Pustaka. Apa yang dilakukan pemuda Indonesia dalam Sumpah Pemuda 1928 dapat dikatakan sebagai pengangkatan status bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia; dalam bahasa BaBe hal ini disebut <em>perencanaan status</em>. Tetapi, dalam logika BaBe, perencanaan status saja seringkali tidak cukup; pengangkatan status, dari vernakular menjadi nasional, harus diikuti dengan perencanaan korpus. Yang dimaksud dengan perencanaan korpus tidak lebih dari yang sudah saya paparkan tadi: dari penyepakatan ejaan sampai pembakuan tata bahasa. Tentu saja! Bahasa yang merupakan produk BaBe memang diarahkan untuk menjadi konsisten. Mengapa? Karena nantinya bahasa rekaan inilah yang akan diajarkan di sekolah-sekolah; dipakai sebagai bahasa untuk undang-undang; dipakai sebagai bahasa ilmiah, dipakai sebagai bahasa teknologi, dipakai sebagai bahasa politik; singkatnya, dipakai sebagai bahasa yang membentuk pandangan penutur dalam melihat dunianya.</p>
<p>Ejaan, contohnya. Suku-bangsa Indonesia sebetulnya banyak yang telah memiliki sistem ejaan yang baku, dan ingat (!) sistem ejaan adalah salah satu penanda kemodernan sebuah masyarakat. (KBBI ed. ke-4 mencatat selusin aksara nusantara). Namun, mungkin dengan alasan mencari aksara yang &#8216;netral&#8217; lagi &#8216;modern&#8217;, aksara Romawi dipilih. Proses pembakuan tata bahasa Indonesia lebih rumit lagi. Sutan Takdir Alisyahbana (STA) bahkan menyebut proses pembentukan tata bahasa Indonesia sebagai sebuah karya kreatif (dalam artikel berjudul &#8220;Some Planning Processes in the Development of Indonesian-Malay Language&#8221; dalam <em>Can Language Be Planned</em>, Rubin dan Jernudd, 1975, hal. 179-187). Begitupun, paradoksnya, para perencana tata bahasa Indonesia banyak melandaskan kerja mereka dari pembakuan tata bahasa Melayu yang telah dilakukan oleh ahli tata bahasa yang berasal dari Belanda. STA bahkan mengatakan, &#8220;Jika para penulis tata bahasa punya niat untuk menerima pengaruh dari bahasa lokal (<em>yang ada di Nusantara</em>), tata bahasa Indonesia akan tampil tidak konsisten,&#8221; (1975, hal. 184; keterangan saya). Maka, janganlah kita heran dengan sistem S-P-O-K yang ada pada tata bahasa Indonesia baku. Maka, wicara di tanah melayu di Sumatera Utara sana, seperti &#8220;Makan nasi aku tadi&#8221; (P-O-S-K) hanya ditempatkan sebagai ragam tak baku saja.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">BaBe, kenape lu tinggalin gue?</span></strong></p>
<p>Tentunya, ada lubang makna yang memisahkan &#8216;pemersatuan&#8217; dengan &#8216;penyeragaman&#8217;. Bahasa Indonesia, yang diangkat statusnya untuk memersatukan suku-bangsa di Indonesia, lewat BaBe, kini menganut tabiat &#8216;penyeragaman&#8217;. Promosi bahasa nasional yang tidak sehat hanya akan menyebabkan semakin terpinggirkannya bahasa daerah. Kita juga harus mencurigai jiwa-dan-raga yang ada dibalik bahasa nasional kita sekarang. Ya, memang wajar bila, demi bertahan menghadapi genjotan dunia modern, sebuah negara membutuhkan bahasa pemersatu, yang baku dan konsisten. Pertanyaan besarnya: mengapa tidak ada &#8216;perencanaan bahasa&#8217; untuk bahasa daerah? Perencanaan bahasa dalam nalar BaBe (Bahasa Berencana) saya rasa memang mirip dengan nalar KaBe (Keluarga Berencana). Untuk hidup modern, kita memang harus punya rencana. Dan rencana itu baiknya satu-dan-seragam saja. Tidak usah banyak-banyak, nanti sukar mengaturnya. Inilah alasan saya menggunakan istilah BaBe. Yang diBaBe cukup satu bahasa saja. Biarkan yang lainnya sekarat. Kalau perlu mati. Wajar saja kan kalau bahasa itu mati karena tidak bisa memenuhi rencana hidup penuturnya? Nantinya, kalau bahasa-bahasa lain itu sudah sekarat, nah, terbentanglah sebuah proyek besar (yang langsung menjadi tren) di depan mata para linguis itu: DOKUMENTASI BAHASA. Maka kita harus bertanya: apakah Dokumentasi Bahasa yang sedang tren ini adalah &#8217;sebuah efek-tak-terduga&#8217; dari BaBe,atau justru merupakan sebuah bagian dari proyek besar Perencanaan Bahasa; yaitu, pengartefakan bahasa-bahasa sekarat. Lagi-lagi, proyek baru. Bah, macam <em>botul</em> <em>aja</em>!</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=BaBe%3A%20Bahasa%20Berencana&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Fbabe-bahasa-berencana%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/babe-bahasa-berencana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kritik untuk Dokumentasi Bahasa</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/sebuah-kritik-untuk-dokumentasi-bahasa/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/sebuah-kritik-untuk-dokumentasi-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 11:02:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tulisan Musiman]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=787</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Wahmuji


 
Dokumentasi Bahasa
Hari Bahasa Ibu Internasional selalu dipenuhi narasi-narasi mengenai pemertahanan bahasa, dan praktik dari pemertahanan bahasa yang paling menonjol adalah Dokumentasi Bahasa. Menurut P. Himmelmann, tujuan dokumentasi bahasa adalah untuk menyediakan rekaman karakteristik praktik linguistik yang komprehensif dari suatu komunitas penutur. Secara mendasar, dokumentasi bahasa berbeda dengan deskripsi bahasa yang bertujuan untuk merekam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/wahmuji/">Oleh Wahmuji</a></em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dokumentasi Bahasa</strong></p>
<p>Hari Bahasa Ibu Internasional selalu dipenuhi narasi-narasi mengenai pemertahanan bahasa, dan praktik dari pemertahanan bahasa yang paling menonjol adalah Dokumentasi Bahasa. Menurut P. Himmelmann, tujuan dokumentasi bahasa adalah untuk menyediakan rekaman karakteristik praktik linguistik yang komprehensif dari suatu komunitas penutur. Secara mendasar, <strong>dokumentasi bahasa</strong> berbeda dengan <strong>deskripsi bahasa</strong> yang bertujuan untuk merekam sebuah bahasa sebagai sebuah sistem elemen, konstruksi, dan aturan yang abstrak.</p>
<p>Proses dokumentasi bahasa adalah sebagai berikut: pertama, menemukan orang yang bisa berperan sebagai guru bahasa, atau konsultan bahasa, atau &#8216;narasumber&#8217;, dan bekerjasama dengan mereka untuk mempelajari bahasa yang akan didokumentasikan. Kedua, kata-kata dan ekspresi direkam, ditranskrip, dan dianalisis untuk mengetahui struktur dan fungsi bahasa yang bersangkutan. Selain kata-kata dan ekspresi, pencarian data juga dilakukan dengan mengumpulkan teks-teks, seperti cerita, sejarah pribadi, penjelasan mengenai aktivitas kultural, pidato dan bentuk-bentuk teks yang lain, termasuk puisi dan lagu. Biasanya, fokus pendokumentasian bahasa adalah percakapan atau ekspresi-tulis. Dengan demikian, bentuk dokumentasinya bisa berupa tulisan, video, dan audio. Semua hasil rekaman akan ditranskrip, dianalisis, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa yang komunitas penuturnya lebih banyak sehingga bisa digunakan untuk tujuan yang lebih luas.</p>
<p>Kenapa sampai ada dokumentasi bahasa? Kenapa orang-orang mau repot melakukan penelitian bertahun-tahun untuk merekam bahasa kelompok penutur tertentu? Secara formal, ada tren yang berkembang di dunia bahasa, yaitu kepunahan bahasa. Bahasa dikatakan punah jika penutur terakhir bahasa itu telah meninggal; bahasa dikatakan hampir punah jika penggunaannya mengalami penurunan drastis. Yang kedua ini biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan generasi muda penutur suatu bahasa untuk menjadi penutur aktif. Berdasarkan data dari UNESCO (2009), lebih dari 200 bahasa telah punah selama tiga generasi terakhir; 583 bahasa hampir punah; 502 bahasa sangat cepat punah; 632 bahasa pasti punah; dan 607 bahasa tidak terselamatkan. Keprihatinan atas gejala ini membuat pemerintah, LSM-LSM, pusat-pusat budaya, ilmu pengetahuan dan pendidikan membangun kerjasama menyelamatkan bahasa.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Saya sangat heran: kenapa kematian bahasa tidak dibiarkan saja? Bukankah kematian bahasa adalah sesuatu yang wajar? Bukankah, menurut beberapa ahli bahasa, jumlah bahasa di dunia ini memang akan mengerucut? (Beberapa ahli bahasa berteori bahwa jumlah bahasa manusia awalnya sedikit, bahkan hanya satu. Seiring penyebaran manusia, jumlah bahasa meningkat. Di kondisi mutakhir ini, karena perkembangan teknologi, khususnya internet, dan tak terbendungnya globalisasi, jumlah bahasa yang dipakai mengalami perampingan). Jika demikian, bukankah bahwa bahasa yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan manusia akan mati sudah menjadi takdir? Namun, saya juga berpikir: apa salahnya pendokumentasian bahasa? Apa salahnya produk budaya didokumentasikan? Bukankah ia akan abadi, bisa dipelajari sebagai hasil peradaban budaya kelompok manusia tertentu?</p>
<p>Dan inilah yang dikatakan oleh Vigdis Finnbogadottir, Duta Bahasa UNESCO:<em> Setiap orang kehilangan jika sebuah bahasa lenyap karena kemudian sebuah bangsa dan budaya kehilangan ingatan mereka, dan juga (kehilangan) permadani rumit yang menjadi penjalin dunia dan yang membuat dunia menjadi tempat yang menyenangkan.</em></p>
<p><strong>Perjuangan Mempromosikan Bahasa</strong></p>
<p>Tidak bisa lain, di Hari Bahasa Ibu Internasional ini, ingatan kita akan tertuju pada <em>Ekushey </em>(istilah bahasa Bengali yang bermakna harfiah &#8216;21 Februari 1952&#8242;). Pikiran kita akan menjelajah ke tahun-tahun ketika sebagian besar negara jajahan memerdekaan dirinya. Pun di Asia Selatan.</p>
<p>Di tahun 1947, Inggris <em>terpaksa </em>angkat kaki dari Pakistan. Negara baru ini bisa diibaratkan memiliki dua blok masyarakat (sebutlah, Pakistan Timur dan Pakistan Barat). Kedua blok masyarakat ini berbeda dalam suku dan bahasa. Blok pertama, Pakistan Timur, dihuni oleh masyarakat yang sebagian besar berbahasa Bengali. Orang-orang yang tinggal di wilayah barat berbahasa Punjabi, Pasthu, Sindhi, dan Urdu. Sebagai bagian dari identitas baru negara-bangsa, bahasa nasional harus dicipta. Karena banyak pemimpin politik Pakistan berasal dari Pakistan Barat, diambillah keputusan untuk menjadikan bahasa Urdu sebagai bahasa nasional. Kebijakan ini mengabaikan keinginan penduduk Pakistan Timur, yang jumlahnya lebih dari 50% dari seluruh penduduk Pakistan, untuk menjadikan bahasa Bengali salah satu bahasa nasional.</p>
<p>Ekushey adalah peristiwa berdarah yang terjadi karena tindakan beringas polisi Pakistan dalam menyikapi demonstrasi memperjuangkan bahasa Bengali. Tiga orang demonstran meninggal dunia. Peristiwa ini membuat masyarakat kota mendirikan sebuah tugu peringatan, yang kemudian diratakan oleh polisi, dan memicu timbulnya demonstrasi dan penembakan lagi.</p>
<p>Perjuangan bahasa gaya Ekushey adalah perjuangan yang umum ada dalam narasi sejarah kemerdekaan suatu bangsa. Para pejuang kemerdekaan merasa bahwa kontrol atas bahasa masih merupakan instrumen potensial untuk menguasai budaya. Dalam sejarah penjajahan, penguasaan atas budaya melalui bahasa dilakukan dengan cara mengganti bahasa lokal, atau dengan cara menanamkan bahasa penjajah ke daerah jajahan.</p>
<p>Bahasa menyediakan istilah-istilah untuk mengetahui dan menamai dunia. Bahasa merupakan dunia. Dalam perjuangan linguistik anti-penjajahan, beberapa cara dilakukan untuk melakukan perlawanan, yaitu: menolak menggunakan bahasa penjajah (seperti yang dilakukan Ngugi wa Thiong&#8217;o di Afrika) atau menggunakan bahasa penjajah untuk kepentingan masyarakat terjajah (seperti yang dilakukan oleh Chinua Achebe di Afrika dan Raja Rao di India).</p>
<p>Ekushey adalah simbol dari &#8216;usaha menggunakan bahasa sendiri guna menyampaikan semangat diri&#8217;. Konteksnya memang bukan konfrontasi bahasa negara terjajah dan negara penjajah, tetapi kesatuan suatu bangsa yang diwakili oleh penggunaan bahasa.  Penutur bahasa Bengali sebagai bagian dari rakyat Pakistan waktu itu (tahun 1972 daerah Pakistan timur ini memerdekakan diri dengan nama Bangladesh) ingin akar budayanya menjadi bagian eksplisit dari negara-bangsa Pakistan. Penutur bahasa ini sadar bahwa bahasa yang diperjuangkan merupakan bagian dari sebuah perjuangan besar: keadilan budaya.</p>
<p><strong>Ekushey dan Dua Contoh Lain dari Perjuangan Bahasa</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Apa yang terjadi di Pakistan tahun 1952 itu bisa saja terjadi di Indonesia beberapa tahun sebelumnya jikalau negara Indonesia tidak memiliki sejarah panjang penggunaan bahasa Melayu sebagai<em> lingua franca</em>. Terlepas dari pendikotomian tinggi-rendah di bahasa Melayu, buah dari pengaturan yang dibuat oleh Charles van Ophuysen dari melayu Riau, dan penstandaran bahasa melayu tinggi oleh balai pustaka, tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat Nusantara memang sudah terbiasa menggunakan bahasa perantara. Inilah yang justru menjadi kekuatan pemersatuan diri dalam bahasa di sejarah perjuangan Indonesia. Orang Indonesia menyepakati bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan (seperti yang tertulis dalam butir ketiga Sumpah Pemuda 1928). <strong></strong></p>
<p>Dan tragedi di Pakistan itu juga bisa terjadi di Afrika Selatan karena keragaman bahasa dari masyarakatnya. Namun, itu tidak terjadi. Afrika Selatan menyepakati lebih dari satu bahasa nasional, tepatnya 11 bahasa. Bahasa penjajah, bahasa Inggris, masuk menjadi salah satu bahasa nasionalnya. Keputusan memberlakukan lebih dari satu bahasa nasional ini dilakukan untuk mengakomodasi beragamnya bahasa di sana, dan juga mencegah perang saudara. Bahasa Inggris dibakukan juga karena alasan yang sama. Berbeda dengan di India atau Pakistan atau Indonesia, masyarakat kulit putih tidak hengkang begitu saja, pun ketika Afrika Selatan merdeka secara demokratis tahun 1994 dengan kepemimpinan Nelson Mandela. Maka, penutur bahasa Inggris juga menjadi bagian dari negara-bangsa Afrika Selatan.<strong></strong></p>
<p><strong>Dokumentasi Bahasa dan Ekushey</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Cukup jelas bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat penutur bahasa Bengali dan apa yang dilakukan oleh para pendokumentasi bahasa memiliki persamaan mendasar: keduanya paham bahwa bahasa adalah alat untuk menyatakan diri, alat untuk memahami dunia, dan merupakan bagian penting (bahkan pada konteks tertentu, misalnya perjuangan kemerdekaan, mungkin yang terpenting) dalam kebudayaan. Keduanya membicarakan dan melakukan pemertahanan bahasa.<strong></strong></p>
<p>Namun, ada hal lain yang saya pikir perlu dibicarakan di sini, yaitu nada &#8216;budaya&#8217; yang begitu ditekankan dalam narasi pendokumentasian bahasa. Pidato duta bahasa UNESCO yang telah saya tulis di atas adalah rujukannya; dan ratapannya mengenai pemertahanan budaya melalui pemertahanan bahasa dalam kutipan pidatonya itu juga diamini oleh para pendokumentasi bahasa, entah yang dari pemerintah semacam Pusat Bahasa maupun LSM semacam CELD Papua (sikap Pusat Bahasa dapat dilihat dari, misalnya, makalah yang dibuat oleh Wati Kurniawati berjudul <em>Menyelamatkan Bahasa Ibu dari Kepunahan </em> dan narasi CELD dapat dilihat secara lengkap di situs-web resminya).<strong></strong></p>
<p>Dalam tiga contoh perjuangan bahasa di atas (Bengali di Pakistan, Bahasa Indonesia di Indonesia, dan 11 bahasa di Afrika Selatan), kata <em>budaya</em> tidak menjadi nada dominan. Perjuangan itu lebih merupakan perjuangan yang menjadi satu bagian dari perjuangan yang lebih besar: kemerdekaan dan persatuan suatu bangsa.<strong></strong></p>
<p>Perbedaan nada dasar ini patut dikaji alasannya.<strong></strong></p>
<p align="center">***</p>
<p>Mari kita ambil perbedaan lain dulu sebelum mencoba menjawabnya. Bahasa Bengali dan Bahasa Indonesia diperjuangkan oleh masyarakatnya sendiri; dokumentasi bahasa, kebanyakan, dilakukan oleh orang luar (ahli bahasa dari luar komunitas penutur). Perbedaan ini penting mengingat pada akhirnya kita akan berbicara mengenai klaim ilmu, mengenai gerbang akhir justifikasi atas keabsahan ilmu, mengenai siapa ahli apa, mengenai siapa menguasai apa menguasai siapa.<strong></strong></p>
<p>Pertanyaan mendasarnya: kenapa budaya? Kenapa bukan politik? Apakah karena budaya sudah terpisah dari politik maka ia bisa berdiri sendiri terlepas dari realitas politik yang melingkupinya? Apakah penutur suatu bahasa bisa habis dan perlu diperjuangkan dari luar jikalau tidak ada perjuangan bahasa nasional yang meminggirkan bahasa daerah, jikalau ekspansi ekonomi sistem kapitalis tidak masuk ke  gunung-gunung dan menghancurkan sistem ekonomi lokal? Kalau budaya suatu suku bangsa penutur itu dilestarikan oleh orang luar, pelestarian itu dilakukan untuk kepentingan siapa? Apakah pelestarian dari luar ini tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk kegilaan atas yang eksotis, yang harmonis, dan Liyan yang belum dikenal &#8212; seperti kegilaan para peneliti barat sejak beberapa abad silam?<strong></strong></p>
<p>Saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan di atas dan membiarkan beberapa ruang di antaranya menganga, untuk menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menelitinya. <strong></strong></p>
<p>Penelitian atas apa yang disebut &#8216;budaya&#8217; sudah sejak lama dilakukan di dunia ini - dari <em>Java Instituut </em>di Jawa, penelitian bangsa Maori di Selandia Baru hingga, lebih awal lagi, penelitian Mesir oleh para ahli kiriman Napoleon Bonaparte. Selama bertahun-tahun, penelitian itu dilakukan atas nama budaya; dan karena klaim positivistik yang menjauhkan penelitian dari politik, tidak ada yang mencoba menghubungkan secara sistematis dan terperinci penelitian-penelitian yang &#8216;humanis&#8217; itu dengan politik praktis penaklukan-penjajahan selain Edward Said dengan Orientalisme-nya. Banyak peneliti lain, Sara Mills, misalnya, memakai nalar penguasaan yang sama dengan obyek berbeda.<strong></strong></p>
<p>Dalam tulisan di situs resmi UNESCO, ada kata kunci dalam pendokumentasian bahasa, yaitu <em>pluralisme bahasa</em> dan <em>multilingualisme</em>. Jika kemudian kita tarik lagi ke nada dasarnya, yang &#8216;budaya&#8217; tadi, bukankah akan menjadi &#8216;pluralisme budaya&#8217; dan &#8216;multikulturalisme&#8217;? Dan perlu diketahui bahwa penekanan dari kedua isme itu adalah perlunya toleransi. Lalu apa yang salah dengan toleransi dan multikulturalisme?<strong></strong></p>
<p>Menurut Slavoj Zizek, dalam esai <em>The</em> <em>Culturalization of Politics</em>, mengemukanya kata &#8216;toleransi&#8217;, dan bukan &#8216;emansipasi&#8217;, &#8216;perjuangan politik&#8217;, atau &#8216;perjuangan bersenjata&#8217;, adalah operasi ideologis dasar multikulturalisme liberal, yaitu &#8216;Pengkulturan Politik&#8217;, dimana perbedaan politik, perbedaan yang disebabkan oleh ketaksetaraan politik, eksploitasi ekonomi dan sebagainya, dinetralkan ke dalam perbedaan &#8216;kultural&#8217;, perbedaan &#8216;cara hidup&#8217;. &#8216;Budaya&#8217; dan &#8216;cara hidup&#8217; ini merupakan sesuatu yang terberi, sesuatu yang tidak bisa diubah, dan hanya bisa ditoleransi.<strong></strong></p>
<p>Dalam esai yang sama, Zizek mengatakan bahwa toleransi memiliki batasnya sendiri; dan menjadi toleran terhadap ketidaktoleranan berarti mendukung (&#8217;mentolerir&#8217;) ketidaktoleranan. Toleransi hanya mungkin ada dalam budaya individualis Barat dan, jadinya, toleransi bahkan melegitimasi serangan militer untuk menghadapi ketidaktoleranan liyan (beberapa feminis Amerika mendukung serangan Amerika ke Irak dengan dalih untuk membebaskan para perempuan Irak dari sistem Patriarkis).<strong></strong></p>
<p>Zizek mengemukakan banyak hal lain mengenai kelemahan toleransi sebagai dasar hubungan antar budaya dan juga kelemahan mazhab universalisme. Untuk kepentingan esai ini, keduanya tidak perlu dijabarkan. Intinya adalah jika nada dasar &#8216;budaya&#8217; dan kemudian &#8216;toleransi&#8217;, karena kelemahan-kelemahan dan jebakan filosofisnya, menyebabkan ketidakadilan, ketidaksetaraan, hilangnya kesadaran politik;  jika pendokumentasian bahasa tidak berbeda dengan bentuk lain pengartefakan budaya Liyan yang sudah berlangsung berabad-abad, yang akhirnya melegitimasi dan melancarkan penjajahan; dan juga jika pengetahuan masih milik para akademisi saja untuk kepentingan <em>mereka </em>saja, maka kita punya hak untuk bersikap kritis.</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Sebuah%20Kritik%20untuk%20Dokumentasi%20Bahasa&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Fsebuah-kritik-untuk-dokumentasi-bahasa%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/sebuah-kritik-untuk-dokumentasi-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>William Jones</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/william-jones/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/william-jones/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:58:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tokoh Bahasa]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Gideon Widyatmoko
Kali ini LIDAHIBU akan membahas tokoh bahasa yang sangat ciamik dari abad 18 bernama Sir William Jones. William Jones ini dikenal sebagai penemu rumpun bahasa Indo-Eropa, loh. Wow, siapakah dia? Bagaimana sepak-terjangnya di dunia bahasa? Mari kita simak bersama-sama.
William Jones lahir di London pada tanggal 28 September 1746. Dia diberi nama persis dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<div id="attachment_785" class="wp-caption alignleft" style="width: 261px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/foto-william-jones.jpg"><img class="size-medium wp-image-785" title="foto-william-jones" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/foto-william-jones-251x300.jpg" alt="william jones" width="251" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">william jones</p></div>
<p><em><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/gideon-widyatmoko/">Oleh Gideon Widyatmoko</a></em></p>
<p>Kali ini LIDAHIBU akan membahas tokoh bahasa yang sangat ciamik dari abad 18 bernama Sir William Jones. William Jones ini dikenal sebagai penemu rumpun bahasa Indo-Eropa, loh. Wow, siapakah dia? Bagaimana sepak-terjangnya di dunia bahasa? Mari kita simak bersama-sama.</p>
<p>William Jones lahir di London pada tanggal 28 September 1746. Dia diberi nama persis dengan nama ayahnya yang sudah meninggal dunia sejak Jones berusia tiga tahun. Ah, malang sekali. Tetapi kepergian ayahnya tidak membuat Jones kecil patah semangat; dia sangat giat belajar sehingga mampu menguasai banyak sekali bahasa. Berbeda dengan almarhum ayahnya yang seorang ahli matematika, kegemaran Jones kecil pada bahasa membuatnya sangat mahir berbahasa Latin, Persia, Arab, sampai dasar-dasar aksara Tionghoa. Semua itu sudah dikuasainya semenjak Jones masih muda belia. Sungguh awak LIDAHIBU terkesima sekali. Dengar-dengar <em>nih</em>, sampai akhir hayatnya, William Jones mampu menguasai 28 bahasa.</p>
<p>William Jones kuliah di salah satu universitas ternama di negaranya, yaitu Oxford; dan pada tahun 1764 dia lulus dan langsung berkarir sebagai penerjemah dan pengajar selama 6 tahun. Nah, di kala 6 tahun ini, dia menulis <em>Histoire de Nader Chah</em>, atau <em>Hikayat Syah Nadir</em>, sebuah karya sastra Persia yang kemudian dia terjemahkan sendiri ke dalam bahasa Perancis atas permintaan Raja Christian VII dari Denmark. Yah, pada usia 22, dia sudah dikenal sebagai seorang ahli Orientalis. Wah, hebat sekali.</p>
<p>Lalu, selama tiga tahun, dari tahun 1770 sampai 1773, dia belajar ilmu Hukum yang, pengetahuan yang kemudian membawanya ke India. Pas di India ini, dia kemudian tertarik dengan kebudayaan India yang sangat beragam dan ide-ide nakal mulai terbesit di kepalanya. Kebetulan juga pada waktu itu para pakar Eropa hampir tidak ada yang mengkaji tentang eksotisme India. Mulailah dia mendirikan Asiatik Society of Bengal. Lalu, selama sepuluh tahun kemudian, dia banyak menulis tentang India dan meluncurkan studi modern dalam praktik semua ilmu sosial. Wuih, kepeduliannya terhadap India sangat mengharukan, dia coba angkat kebudayaan India yang sekarang bisa kita nikmati sebagai salah satu negara tujuan wisata yang terlaris.</p>
<p>Tidak berhenti di &#8216;tentang-India&#8217; saja tulisan yang dibuat oleh William Jones; masih ada berbagai tulisan tentang hukum, musik, sastra, botani, geografi, dan banyak hal lain yang tak cukup jari untuk menghitungnya. Tapi, terjemahannya yang paling membanggakan adalah terjemahan pertama beberapa karya penting dari kesusastraan India. Akh, seandainya Arundhati Roy hidup di zaman itu, pasti karyanya sudah langsung diterjemahkan ke banyak bahasa oleh William Jones ini. Memang orang satu ini bandel sangat!</p>
<p>Dari semua &#8216;kengerian&#8217; yang terdapat dalam karyanya, tetap yang paling diingat oleh sejarah adalah pernyataannya bahwa bahasa Sansekerta mirip dengan bahasa Yunani dan Latin. Mungkin bagi beberapa pembaca pernyataan di atas akan membuat dahi mengkerenyit; karena terdengar biasa saja. Tapi lihatlah zaman saat William Jones hidup. Dia adalah yang pertama menyatakan itu. Bahkan dalam bukunya, <em>The Sanscrit Language</em>, yang diterbitkan pada tahun 1786, Jones menyatakan dugaannya bahwa ketiga bahasa ini memiliki sumber yang sama; dan kemungkinan berkerabat dengan bahasa Gothik, bahasa Keltik, dan Bahasa Persia.</p>
<p>Makalah ketiganya, yang pada tahun 1798 diterbitkan oleh entah siapa, sering dikutip sebagai pembuka studi ilmu perbandingan bahasa dan studi Indo-Eropa. Yah, mungkin dia juga bisa kita sebut sebagai pencetus bahasa Indo-Eropa. Sayangnya dia sudah meninggal, kalau belum, mungkin dia juga akan bermain ke Indonesia dan menerjemahkan banyak karya sastra Indonesia, dari mahakarya Pramoedya Ananta Toer sampai pada, mungkin, novel-novel remaja yang sekarang kerap disebut <em>chicklit</em> itu. Ah, saya bisa membayangkan: William Jones pasti akan sangat tertarik dengan gejala bahasa yang terjadi di Indonesia. Dan, tentunya, LIDAHIBU akan sangat bahagia untuk menjadi narasumbernya. Haha&#8230;</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=William%20Jones&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Fwilliam-jones%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/william-jones/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Analisis Wacana Pragmatik</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/analisis-wacana-pragmatik/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/analisis-wacana-pragmatik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pustaka Gokil]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Wahmuji
Judul buku     : Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis
Pengarang     : I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi
Penerbit     : Yuma Pustaka
Kota Terbit     : Surakarta
Tahun Terbit     : 2009
Tebal Halaman : 310
Saat membaca judul buku Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis yang ditulis oleh I Dewa Putu Wijana dan Muhammad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<div id="attachment_782" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/foto-buku-pustaka-gokil-ed-11.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-782" title="foto-buku-pustaka-gokil-ed-11" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/foto-buku-pustaka-gokil-ed-11-150x150.jpg" alt="analisis wacana pragmatik" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">analisis wacana pragmatik</p></div>
<p><em><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/wahmuji/">Oleh Wahmuji</a></em></p>
<p>Judul buku     : Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis</p>
<p>Pengarang     : I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi</p>
<p>Penerbit     : Yuma Pustaka</p>
<p>Kota Terbit     : Surakarta</p>
<p>Tahun Terbit     : 2009</p>
<p>Tebal Halaman : 310</p>
<p>Saat membaca judul buku <em>Analisis Wacana Pragmatik: Kajian Teori dan Analisis </em>yang ditulis oleh I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rohmadi, saya ingat pada perkataan seorang teman editor bahwa yang diperlukan saat ini untuk mahasiswa jurusan bahasa adalah buku-buku yang menghadirkan teori sekaligus contoh-contoh analisisnya. Saya menyetujui pendapat teman saya itu. Untuk poin penghadiran teori dan praktik analisis, buku ini layak diapresiasi. Model seperti ini sungguh dibutuhkan.</p>
<p>Buku ini terbagi dalam dua Bagian. Bagian 1 adalah &#8216;Konsep Dasar Anawa Pragmatik&#8217;. Bagian ini terdiri dari 8 Bab, yang kesemuanya merupakan wacana teoretis mengenai Pragmatik. Bagian 2 dalam buku ini diberi judul &#8216;Praktik Analisis Wacana Pragmatik&#8217;, dan berisi 10 Bab (tidak dijelaskan kenapa diberi nama &#8216;Bab&#8217;, padahal setiap judul dalam Bagian 2 merupakan esai yang berbeda). Bagian ini, seperti judulnya, merupakan bagian praktik analisis. Bagian ini memuat 75 persen dari keseluruhan isi buku. Artinya, buku ini memang sengaja mengutamakan aspek praktik daripada teori.</p>
<p>Di 8 bab dalam &#8216;Konsep Dasar Anawa Pragmatik&#8217;, pembaca akan disuguhi konsep-konsep pragmatik, mulai dari situasi tutur, tindak tutur, presuposisi, implikatur, <em>entailment</em>, prinsip kerjasama, prinsip kesopanan dan parameter pragmatik, hingga wacana tekstual dan kontekstual. Secara umum, semua konsep dijabarkan dengan singkat (hanya butuh 72 halaman untuk menjelaskan <em>semua</em> konsep teoretis dari Pragmatik).</p>
<p>Dalam bagian analisis, sebagian besar objek kajiannya adalah fenomena bahasa yang terjadi di Surakarta dan Yogyakarta. Objek kajiannya secara lengkap adalah sebagai berikut: Dagadu; Peribahasa; Wacana Pojok; Kesantunan dan Humor; Angka, Bilangan, dan huruf dalam permainan bahasa; Berita Artis dalam media massa cetak; Permainan Bahasa; Rubrik Wong Solo Ngudarasa; Wacana &#8216;Sungguh-sungguh terjadi&#8217;; dan Wacana Kampanye Politik Pemilu.</p>
<p>Ketika membuka lembar-demi-lembar buku ini, saya butuh banyak jeda untuk menghela nafas sehingga saya kehilangan begitu banyak waktu. Ini karena gaya menulis yang dipakai adalah gaya yang kaku, diulang-ulang, tidak efektif, dan hasilnya: tulisan yang membosankan. Gaya-tulis-ala-jurnal yang kaku ini dilengkapi lagi dengan terlalu banyak kutipan yang tidak berguna, yang dipakai sebagai pengantar dalam setiap analisis. Sebagian besar kutipan berisi konsep umum mengenai bahasa, yang tidak memiliki sangkut-paut yang signifikan terhadap analisis yang sedang dilakukan. Contoh paling baik untuk antologi kutipan ini dapat ditilik dalam Bagian 2 Bab VII berjudul &#8216;Implikatur-implikatur dalam Wacana Rubrik &#8220;Wong Solo Ngudarasa&#8221; Solopos&#8217;.</p>
<p>Di Bagian 1 ada hal teknis yang sangat mengganggu. Dalam bab V, VI, dan VII, nomor wacana/kalimat contoh tidak cocok dengan nomor pada kalimat penjelasannya. Untuk gangguan ini, editor dan bagian pracetak-lah yang harus  bertanggungjawab.</p>
<p>Masih di Bagian 1, saya bertanya-tanya kenapa kata-tunjuk atau deiksis sama sekali tidak dibahas. Padahal, dari beberapa tulisan yang pernah saya baca, deiksis justru menjadi penting dalam struktur tulisan modern. A. Teeuw bahkan pernah memakainya untuk menganalisis struktur sajak modern Indonesia, dan, menurutnya, penggunaan deiksis merupakan salah satu ciri puisi modern Indonesia. Saya tidak tahu apakah struktur tulisan yang sama juga ditemui di media massa yang menjadi objek kajian terbesar dari buku ini. Saya menduga para penulis buku ini merasa deiksis tidak terpakai dalam analisis yang dilakukan pada objek kajiannya. Atau, mungkin ada alasan lain. Saya tidak tahu karena ketidakmunculan ini tidak dijelaskan.</p>
<p>Dalam Bagian 2, saya, dan mungkin pembaca nantinya, menemukan bahwa beberapa analisis yang dilakukan sama sekali tidak memberikan tafsir lanjutan yang jati dan segar. Analisis terlihat seperti <em>mencocok-cocokkan</em> fenomena berbahasa ke dalam teori yang ada. Gejala bahasa hanya jadi alat untuk legitimasi teori, bukan menggunakan teori untuk membaca gejala bahasa dan kemudian memberi tafsir yang segar dengan teori yang bersangkutan.</p>
<p>Dalam bagian analisis, saya juga menemukan dalil-dalil Sosiolinguistik Terapan dari J. A. Fishman sering muncul sebagai kutipan (yang, saya rasa, tidak jelas fungsinya dalam analisis keseluruhan). Akibatnya, mungkin pembaca bingung mengenali batas-batas antara Pragmatik dan Sosiolinguistik. Kalau, misalnya, dalam buku ini kedua disiplin linguistik ini memang sengaja digabung atau ada unsur-unsur dari teori Sosiolinguistik yang bisa dipakai untuk membantu kajian Pragmatik, pembaca tidak akan menemukan pernyataan yang menyuratkan maupun menyiratkan penggabungan ini. Lagi-lagi, buku <em>Analisis Wacana Pragmatik</em> tidak memberikan penjelasan&#8230;</p>
<p>Seseorang, pun pembaca yang budiman, boleh bilang <em>tiada gading yang tak retak </em>untuk menanggapi kekurangan-kekurangan dalam buku ini. Namun, ada batas-makna yang jelas antara <em>retak </em>dan <em>berlubang</em>; ada yang berhasil ada pula yang gagal. Pembacalah yang menentukannya.</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Analisis%20Wacana%20Pragmatik&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Fanalisis-wacana-pragmatik%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/analisis-wacana-pragmatik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mendadak Lawak</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/mendadak-lawak/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/mendadak-lawak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:45:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=772</guid>
		<description><![CDATA[



 
Oleh Armando Soriano
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_774" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/mendadak-lawak11.jpg"><img class="size-full wp-image-774" title="mendadak-lawak11" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/mendadak-lawak11.jpg" alt="Panel 1" width="500" height="336" /></a><p class="wp-caption-text">Panel 1</p></div>
<div id="attachment_775" class="wp-caption alignleft" style="width: 510px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/mendadak-lawak2.jpg"><img class="size-full wp-image-775" title="mendadak-lawak2" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/mendadak-lawak2.jpg" alt="Panel 2" width="500" height="361" /></a><p class="wp-caption-text">Panel 2</p></div>
<p><em><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/armando-soriano/">Oleh Armando Soriano</a></em></p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Mendadak%20Lawak&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Fmendadak-lawak%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/mendadak-lawak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tari Modern</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/tari-modern/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/tari-modern/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Khazanah Kata Bahasa Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=770</guid>
		<description><![CDATA[Pengantar Redaksi: Redaksi berbahagia karena ada seorang pembaca LIDAHIBU yang memberi sumbangan pemikirannya untuk rubrik Khazanah Kata Bahasa Indonesia ini. Redaksi senantiasa menyemangati para pembaca, yang bergelut dengan bidang ketertarikannya masing-masing, untuk menyumbang tawaran padanan kata Bahasa Indonesia bagi istilah-istilah asing yang terdapat dalam bidang itu. Berikut ini adalah tawaran padanan untuk beberapa istilah dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengantar Redaksi: Redaksi berbahagia karena ada seorang pembaca LIDAHIBU yang memberi sumbangan pemikirannya untuk rubrik Khazanah Kata Bahasa Indonesia ini. Redaksi senantiasa menyemangati para pembaca, yang bergelut dengan bidang ketertarikannya masing-masing, untuk menyumbang tawaran padanan kata Bahasa Indonesia bagi istilah-istilah asing yang terdapat dalam bidang itu. Berikut ini adalah tawaran padanan untuk beberapa istilah dalam dunia Tari Modern. Selamat membaca.</p>
<p>Dirgahayu! Kali ini, di dalam rubrik Khasanah Kata Bahasa Indonesia, saya ingin menambah perbendaharaan kata bagi pembaca LIDAHIBU yang juga penyuka, penikmat, penonton, maupun pengamat tari, khususnya Tari Modern.</p>
<p>Setelah dua minggu lamanya saya bergelut di dunia Tari Modern untuk beberapa pementasan, telinga saya menangkap banyak kosakata bahasa Inggris yang keluar dari mulut penata tari maupun para penari lainnya. Tidak hanya kosakata bahasa Inggris yang muncul dari mulut para penari saja, saya juga geleng-geleng kepala mendengar nama-nama kelompok tari yang 99% menggunakan bahasa Inggris, contohnya: <em>Shadow</em>, <em>Seven Sins</em>, <em>Naughty Baby</em>, <em>Rebellion</em>, <em>Popcorn</em>, <em>BMC</em> (baca: bi-em-si), <em>Step</em>, <em>Sweet Blue</em>, dan masih banyak lagi. Saya berpikir, kenapa begini, ya? Anehnya, yang membuat saya benar-benar tercenggang, saya mendapati seorang penari yang bertanya pada saya karena tidak mengetahui arti nama kelompoknya itu dan nama-nama kelompok lainnya! Saya hanya bisa mengelus dada. Parah!</p>
<p>Hal inilah yang mendorong saya membuat tulisan ini. Saya pun mencoba menggunakan perbendaharaan kata Bahasa Indonesia yang saya punya untuk membuat padanan untuk istilah-istilah bahasa Inggris di dunia Tari Modern tersebut. Berikut saya sajikan daftar beberapa kosakata seputar Tari Modern, dan padanan tawaran saya.</p>
<p>1.     <em>Dance</em> : <strong>Tari/tarian</strong></p>
<p>2.     <em>Modern</em> <em>Dance</em> :  <strong>Tari Modern</strong></p>
<p>3.     <em>Dancer</em> : <strong>Penari </strong>(bisa digunakan untuk menyebut penari laki-laki dan perempuan)</p>
<p>4.     <em>Sexy</em> <em>dancer</em> : <strong>Penari seksi</strong> (digunakan untuk penari perempuan)</p>
<p>5.     <em>Out (of)</em> <em>beat</em> :  <strong>Tak-Rampak</strong> (terjadi ketika gerakan keluar dari ketukan/irama musik)</p>
<p>6.     <em>Battle</em> : <strong>Tarung</strong> (pertarungan panggung antar dua kelompok tari, keduanya saling ejek lewat gerakan tari dan menunjukkan kelompok merekalah yang terhebat)</p>
<p>7.     <em>Stage</em> : <strong>Panggung</strong></p>
<p>8.     <em>Choreographer</em> : <strong>Penata</strong> <strong>tari</strong></p>
<p>9.     <em>Choreography</em> : <strong>Tata</strong> <strong>Tari</strong></p>
<p>10.  <em>Free</em> <em>style</em> : <strong>Gaya</strong> <strong>bebas</strong> (gerakan bebas langsung mengikuti irama lagu, tanpa tata tari)</p>
<p>11.  <em>Strength</em> <em>&amp;</em> <em>Power</em> : <strong>Kekuatan</strong> <strong>&amp;</strong> <strong>Tenaga</strong></p>
<p>12.  <em>Belly</em> <em>dance</em> : <strong>Tari</strong> <strong>perut</strong></p>
<p>13.  <em>Shake</em> : <strong>Goyang</strong></p>
<p>14.  <em>Rattle</em> : <strong>Derik</strong></p>
<p>15.  <em>Roll</em> : <strong>Liuk</strong></p>
<p>16.  <em>Break</em> <em>dance</em> : <strong>Tari</strong> <strong>patah</strong> (Gerakan tari ini tegas, maka: &#8216;patah&#8217;)</p>
<p>Baiklah, itu dia sekilas daftar 16 kosakata yang sering kali muncul dalam jagad Tari Modern. Saya telah melakukan tugas saya: membayar kegelisahan dengan tawaran. Dan, seperti namanya, tawaran pastinya tidak pernah memaksa. Selamat mempertimbangkan tawaran saya ini.</p>
<p><em>Oleh Desy Pramusiwi</em></p>
<p><em>Alumnus Jurusan Sastra Inggris</em></p>
<p><em>Universitas Sanata Dharma</em></p>
<p><em>Yogyakarta</em></p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Tari%20Modern&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Ftari-modern%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/tari-modern/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Stilistika 2</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/stilistika-2/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/stilistika-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kultukal]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=767</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan
Hola! Merindukan gaya tulisan encik dosen tamu? Hampir setengah mati encik menulis, dan tak ada satu pun yang merindukannya? Sempurna! Berarti memang encik harus menganalisis lagi ekspresi khusus yang encik gunakan dan mendeskripsikan lagi tujuan dan dampaknya bagi pembaca. Iya, kan? (Bukankah itu definisi Stilistika?)
Baiklah, encik dosen tamu kali ini dapat giliran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/nikodemus-wuri-kurniawan/">Oleh Nikodemus Wuri Kurniawan</a></em></p>
<p>Hola! Merindukan gaya tulisan encik dosen tamu? Hampir setengah mati encik menulis, dan tak ada satu pun yang merindukannya? Sempurna! Berarti memang encik harus menganalisis lagi ekspresi khusus yang encik gunakan dan mendeskripsikan lagi tujuan dan dampaknya bagi pembaca. Iya, kan? (Bukankah itu definisi Stilistika?)</p>
<p>Baiklah, encik dosen tamu kali ini dapat giliran menyambung bahasan sejarah Stilistika pada edisi sebelumnya dengan sesuatu yang lebih bergaya. Mari, pasang mata pasang telinga!</p>
<ol type="1">
<li>Analisis stilistika begitu setia memberikan      penjelasan yang objektif dan ilmiah, berdasar pada data yang dapat      dihitung, dan yang bermetode yang serba sistematis.</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Stilistika lebih menekankan hubungan antara bahasa      sastrawi dengan bahasa sehari-hari (pandangan ini berbenturan dengan      pandangan lain yang meyakini bahwa bahasa sastrawi berbeda dengan bahasa      sehari-hari, dan berusaha memisahkan teks sastra dan menganggapnya secara      murni sebagai objek seni yang bahasanya mempunyai aturan-aturan      tersendiri).</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Stilistika menggunakan istilah-istilah teknis dan      konsep khusus yang berasal dari linguistik, misalnya kolokasi (asosiasi      tetap antara kata dan kata lain di lingkungan yang sama; contohnya, jika      saya menyebut &#8216;hitam &#8230;&#8217;, Anda mungkin akan menambahkan kata lain yang      lazim menjadi sandingannya [mungkin saja kata <em>manis</em>]) dan kohesi (keterikatan antarunsur dalam struktur      sintaksis atau struktur wacana yang antara lain ditandai dengan konjungsi,      pengulangan, penyulihan, dan pelesapan [contohnya, <em>Budi tetap masuk sekolah, meskipun sakit</em>]).</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Para kritikus berpaham stilistika akan      mendeskripsikan aspek teknis dari bahasa dalam sebuah teks, misalnya      struktur tata bahasa, dan memakainya sebagai data dalam interpretasinya.</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Adakalanya, interpretasi tersebut bertujuan untuk      menyediakan data linguistik objektif yang mendukung pembacaan atau      pemahaman yang sudah ada mengenai karya sastra.</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Seperti yang telah disinggung sebelumnya,      stilistika tidak membatasi analisisnya hanya pada sastra, namun sering      menyejajarkan karya sastra dengan wacana jenis lain, misalnya,      membandingkan unsur-unsur bahasa yang digunakan dalam puisi dengan unsur      yang ada dalam iklan.</li>
</ol>
<ol type="1">
<li>Stilistika terbang melampaui &#8216;tata bahasa kalimat&#8217;      dan mendarat pada &#8216;tata bahasa teks&#8217;, mempertimbangkan cara sebuah teks      utuh mencapai tujuannya dan menyelidiki unsur linguistik yang berperan      dalam proses tersebut.</li>
</ol>
<p>Ayo, siapa yang lebih gaya sekarang?</p>
<p>Sumber: Barry, Peter. 2002. <em>Beginning Theory</em>. Manchester: Manchester University Press.</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Stilistika%202&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Fstilistika-2%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/stilistika-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemertahanan Bahasa Ibu Non-Bahasa-Nasional, Apa Perlu?</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/pemertahanan-bahasa-ibu-non-bahasa-nasional-apa-perlu/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/pemertahanan-bahasa-ibu-non-bahasa-nasional-apa-perlu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tajuk Rencana]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=765</guid>
		<description><![CDATA[Februari telah menjejak, Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh pada tanggal 21 sudah di depan mata. Saat untuk memperingatinya telah tiba.
Penetapan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional tentu tak dapat dilepaskan dari rentetan panjang yang melatarinya, mulai dari peristiwa berdarah dalam penuntutan bahasa Bengali menjadi bahasa nasional, ketika Bangladesh masih menjadi salah satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Februari telah menjejak, Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh pada tanggal 21 sudah di depan mata. Saat untuk memperingatinya telah tiba.</p>
<p>Penetapan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional tentu tak dapat dilepaskan dari rentetan panjang yang melatarinya, mulai dari peristiwa berdarah dalam penuntutan bahasa Bengali menjadi bahasa nasional, ketika Bangladesh masih menjadi salah satu provinsi negara Pakistan (<em>Ekushey</em> [21 Februari 1952]), sampai pada permohonan Ikatan Pecinta Bahasa Ibu Dunia pada UNESCO agar <em>Ekushey</em> ditetapkan sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional serta penetapan tanggal tersebut oleh UNESCO.</p>
<p>Belum tiba hari peringatannya, berita tentang bahasa ibu (atau bahasa) di Indonesia hampir selalu menawarkan narasi yang sama dan didominasi dengan data statistik atau hasil survei yang (lebih) menebarkan peringatan, atau ratapan kalau boleh disebut demikian, mengenai ancaman punahnya suatu bahasa dan imbauan pelestarian bahasa.</p>
<p>Tak dapat dimungkiri, khususnya untuk bahasa ibu nonbahasa nasional, kenyataan yang digembar-gemborkan oleh berita-berita tersebut memang benar adanya. Bahasa ibu nonbahasa nasional menghadapi persoalan keberadaan yang cukup pelik di tengah dominasi bahasa ibu yang bahasa nasional dan serbuan bahasa asing yang sudah mantap tertancap dalam konsep globalisasi (dan lambat-laun akan menjadi bahasa ibu juga di Indonesia). Migrasi penutur dari bahasa ibu nonbahasa nasional menuju bahasa ibu yang bahasa nasional atau bahasa asing pasti akan terus terjadi.</p>
<p>Jika melihat tabiat penggunaan bahasa di Indonesia, maka mudah saja terlihat bahwa pembedaan bahasa ibu yang bahasa nasional dan bahasa ibu nonbahasa nasional, salah satunya, terletak dalam gagasan yang berkaitan dengan ilmiah atau tidak ilmiahnya suatu bahasa. Gagasan ini akan terlihat lebih jelas lagi manakala kita berkaca pada sistem pengajaran yang lebih menekankan penggunaan bahasa ibu yang bahasa nasional sehingga hampir dapat dipastikan bahwa bahasa ibu yang bahasa nasional akan lebih berkesan ilmiah daripada bahasa ibu nonbahasa nasional, yang selanjutnya dianggap seperti anak tiri dan dipinggirkan menjadi bahasa yang lebih bersifat verbal saja-bahasa untuk &#8220;hidup&#8221; saja, bukan untuk mengejar hal-hal yang ilmiah.</p>
<p>Dengan kata lain, bahasa ibu nonbahasa nasional pun sudah mengalami keterasingan dengan fungsi yang sebenarnya. Padahal, jika ditinjau lebih lanjut, bahasa ibu nonbahasa nasional ini sangat dekat hubungannya perjuangan pencarian identitas yang akarnya lahir dan dikembangkan dalam bahasa ibu nonbahasa nasional. Dominasi bahasa lain pada bahasa ibu nonbahasa nasional ini memaksa penuturnya untuk memasuki medan asing, membuatnya menjadi manusia mengambang dalam tatanan yang belum sepenuhnya mantap terbentuk.</p>
<p>Pada akhirnya, peran yang lebih besar dan penghancuran gagasan kuno bahasa ibu nonbahasa nasional memang patut mendapatkan dukungan dan tindakan. Penggunaan bahasa ibu nonbahasa nasional dalam surat kabar, dalam mesin pencari, dan dalam jejaring sosial sudah menyiratkan gagasan bahwa strategi pelestarian bahasa ibu nonbahasa nasional masih terbuka sangat lebar. (<strong>red</strong>)</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Pemertahanan%20Bahasa%20Ibu%20Non-Bahasa-Nasional%2C%20Apa%20Perlu%3F&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Fpemertahanan-bahasa-ibu-non-bahasa-nasional-apa-perlu%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/pemertahanan-bahasa-ibu-non-bahasa-nasional-apa-perlu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kerbau (dan) SBY</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/kerbau-dan-sby/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/kerbau-dan-sby/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 10:18:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita Gejala]]></category>

		<category><![CDATA[#11]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[



 

Oleh Wahyu Adi Putra Ginting
Di Kodya Tebing Tinggi, Sumatera Utara, ada sebuah gedung cukup megah yang terletak di Jalan Sutomo, persis berada di samping SMPN 1 Tebing Tinggi, dan hanya berjarak satu atau dua lemparan batu dari rumah dinas walikota dan Tanah Lapang Merdeka (lapangan umum di kota kecil itu). Bangunan itu punya atap-depan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em></em></p>
<p><em> </em></p>
<div id="attachment_756" class="wp-caption alignleft" style="width: 347px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/kebo.jpg"><img class="size-full wp-image-756 " title="kebo" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/kebo.jpg" alt="kebo (dan) sby" width="337" height="350" /></a><p class="wp-caption-text">kebo (dan) sby</p></div>
<p><em></em></p>
<p><em><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/wahyu-adi-putra-ginting/">Oleh Wahyu Adi Putra Ginting</a></em></p>
<p>Di Kodya Tebing Tinggi, Sumatera Utara, ada sebuah gedung cukup megah yang terletak di Jalan Sutomo, persis berada di samping SMPN 1 Tebing Tinggi, dan hanya berjarak satu atau dua lemparan batu dari rumah dinas walikota dan Tanah Lapang Merdeka (lapangan umum di kota kecil itu). Bangunan itu punya atap-depan yang unik, berwarna gelap seperti ijuk, dan di pucuk kerucutnya tertancap satu ornamen berupa kepala kerbau. Dulu, gedung itu digunakan sebagai kantor Bank Bumi Daya. Krisis moneter tahun 1998 menyebabkan Bank Bumi Daya, bersama beberapa bank lain, harus melebur ke dalam satu bank baru bernama Mandiri. Gedung itu pun menjadi kantor Bank Mandiri. Gedung dipugar disolek sana-sini, seperti hendak menghapus jejak ingatan akan krisis keuangan yang menyesakkan dada. Sampai sekarang ini, kepala kerbau itu masih tertancap di sana.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Bundaran Jakarta, 28 Januari 2010. Hari itu tepat 100 hari masa kerja pemerintahan jilid dua Susilo Bambang Yudhoyono. Di hari itu pula demonstrasi terjadi di Jakarta, Makassar, Yogyakarta, Medan, dan beberapa daerah lainnya. Demonstrasi di Bundaran Jakarta punya cerita khusus. Seekor kerbau menginjak nadi Jakarta, sejenak memacetkan aliran darahnya yang sibuk, mencuri perhatian para penghuninya. Kerbau tersebut tidak tampil polos. Di perutnya ada coretan cat-semprot putih, terbaca &#8216;SiBuYa&#8217;. Di bokongnya tertempel kertas putih bergambar wajah pria berpeci hitam, berjas biru, sedang tersenyum lebar. Di atas peci hitamnya itu, berteriak sebuah tulisan: &#8216;TURUN!!!!&#8217;</p>
<p>Kecuali warga negara Republik Indonesia yang bermukim di pulau-pulau terluar negara-bangsa ini (mereka yang masih mengira presiden Indonesia adalah Gus Dur atau Megawati karena keterbatasan fasilitas informasi), warga Indonesia pasti dengan mudah bisa mengenali gambar pria berpeci hitam tersebut, sama mudahnya seperti mengenali inisial ikonik dari kata-rekaan &#8216;SiBuYa&#8217; yang terpampang di perut kerbau Bundaran Jakarta itu. Ya, gambar itu adalah gambar presiden Indonesia masa-kerja 2009-2014: <strong>S</strong>usilo <strong>B</strong>ambang <strong>Y</strong>udhoyono.</p>
<p>Sontak penghuni Istana Negara itu terhenyak. Selasa pagi, 02 Februari 2010, saat membuka rapat kerja pemerintah dengan seluruh menteri dan para gubernur se-Indonesia di Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat, SBY tak tahan bila tak melontarkan komentar khasnya, tentang unjuk rasa yang terjadi di Indonesia belakangan ini. SBY ternyata mengusulkan agar masalah unjuk rasa dibahas dalam rapat kerja pemerintah.</p>
<p>&#8220;Kita bahas juga, misalkan, unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini,&#8221; usulnya. Unjuk rasa yang seperti apa? Menurut SBY, yang seperti ini: &#8220;Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas,&#8221; itu lengkapnya. Seperti apa hasil pembahasan masalah &#8216;unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila&#8217; itu? Sampai sekarang tidak ada kabar tentangnya.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Apa yang membuat LIDAHIBU tertarik dengan peristiwa ini? Coba perhatikan perkataan SBY yang satu ini: &#8220;Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau.&#8221; Perhatikan cara dia memberi tekanan pada simile &#8216;kerbau&#8217; sebagai &#8216;SBY malas, badannya besar&#8217;. Dari mana asosiasi ini berasal? Di jagad makna kata <em>kerbau</em>, dalam konteks demonstrasi, inilah ketertarikan LIDAHIBU berpusat. Bersama, kita akan coba periksa apakah di negeri Pancasila ini <em>kerbau</em> memang &#8216;berbadan besar&#8217; dan &#8216;malas&#8217;. Atau, adakah tautan makna yang lain?</p>
<p>Mari kita tengok cara <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia</em> (KBBI) edisi ke-4 mengartikan lema <em>kerbau</em>. <em>Kerbau</em> (kata benda) adalah &#8216;1 binatang memamah biak yang biasa diternakkan untuk diambil dagingnya atau untuk dipekerjakan (membajak, menarik pedati), rupanya seperti lembu dan agak besar, tanduknya panjang, suka berkubang, umumnya berbulu kelabu kehitam-hitaman; <em>Bos bubalus</em>; 2 (<em>kiasan</em>) orang bodoh.&#8217;</p>
<p>Sekarang, mari cerna berbagai peribahasa yang menggunakan <em>kerbau</em>, masih dengan acuan KBBI ed. ke-4: <em>kerbau menanduk anak</em>, &#8216;hanya pura-pura saja&#8217;; &#8216;tidak dengan sungguh-sungguh&#8217;; <em>&#8211; punya susu, sapi punya nama</em>, &#8217;seseorang yg berbuat kebaikan atau bersusah-payah, tetapi orang lain yang mendapat pujian&#8217;; <em>&#8211; runcing tanduk</em>, &#8216;orang yang telah terkenal kejahatannya&#8217;; <em>&#8211; seratus dapat digembalakan, manusia seorang tiada terkawal</em>, menjaga seorang perempuan [sic!] lebih sukar daripada menjaga binatang yang banyak&#8217;; <em>membeli &#8212; di padang</em>, &#8216;membeli sesuatu dengan tidak melihat barang yang akan dibelinya&#8217;; <em>menghambat &#8212; berlabuh</em>, &#8216;mencegah sesuatu yang akan mendatangkan keuntungan atau kesenangan kepada orang; <em>seperti &#8212; dicocok hidung</em>, &#8216;menurut saja&#8217;.</p>
<p>Peribahasa yang tercantum di KBBI ed. ke-4 menunjukkan bahwa kata <em>kerbau</em> dapat dipakai untuk mengumpamakan sesuatu yang baik maupun buruk. Lihat peribahasa <em>kerbau punya susu, sapi punya nama</em> dan <em>menghambat kerbau berlabuh</em>. Kedua peribahasa itu menyiratkan bahwa kerbau dipakai untuk mengumpamakan hal-hal yang baik. Namun, lihat juga peribahasa <em>kerbau runcing tanduk</em> dan <em>membeli kerbau di padang</em>. Dalam dua peribahasa itu, kerbau digunakan untuk menjelaskan perihal yang tidak baik.</p>
<p>Yang menarik adalah cara KBBI ed. ke-4 memberi makna kiasan untuk lema <em>kerbau</em>: &#8216;orang bodoh&#8217;. Dari mana makna kiasan ini berasal? Apakah mungkin dari peribahasa seperti <em>kerbau dicocok hidung</em>, yang menyiratkan sebuah keadaan &#8216;takluk, menurut, kehilangan kemampuan untuk kritis, tak berdaya apa-apa lagi&#8217; - maka: &#8216;bodoh&#8217;? Sebelum menjawab pertanyaan ini, baiknya kita tilik dulu seperti apa suku-suku di Nusantara ini memaknai kerbau.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Kita berlabuh di Sumatera. Setidaknya, ada dua suku besar di Sumatera yang memberi penghargaan tinggi pada <em>kerbau</em>. Sebutlah Batak dan Minang. Di Sumatera Utara, kerbau (Toba: horbo) menjadi entitas penting bagi masyarakat Batak Toba, Simalungun, dan Karo. Bagi masyarakat Simalungun, kerbau, disebut <em>Pinar Uluni Horbou</em>, dipakai sebagai hiasan rumah adat. Tidak berhenti sebagai ornamen saja, kerbau diambil sebagai sebuah lambang atas keberanian dan kesabaran; bahkan, kerbau juga dianggap sebagai penangkal roh jahat. Peletakan kepala kerbau (sebenarnya hanya bagian tanduknya saja yang asli, bentuk kepala dibuat dari anyaman ijuk) di pucuk atap rumah adat, sebagai hiasan, juga terdapat pada masyarakat Karo (disebut <em>ayo-ayo</em>) dan Toba (disebut <em>ulu palung</em>). Sebagai simbol sebuah nilai, kedua masyarakat adat itu menggunakan kerbau untuk melambangkan keperkasaan dan keselamatan.</p>
<p>Di tanah Minang, Sumatera Barat, kerbau juga memainkan peranan penting, contohnya pada upacara pengangkatan penghulu dan saat seseorang sedang mencari (melamar) menantu. Masyarakat suku Dayak Ngaju (Kalimantan), Toraja (Sulawesi Selatan), dan Sumba (Nusa Tenggara Barat) juga menempatkan kerbau sebagai bagian dari kehidupan adat mereka. Bahkan, bagi manusia Toraja, kerbau menjadi penanda bagi tingkat status sosial seseorang. Hal ini sangat kentara pada upacara kematian <em>rambu solo</em>. Dalam upacara itu, kerbau, yang suka berkubang dan &#8216;menurut saja setelah dicocok hidungnya&#8217; itu, punya harga yang sangat tinggi - sampai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.</p>
<p>Bagaimana dengan kerbau di pulau Jawa? Penuturan Bramantyo Prijosusilo (seorang kolumnis dan petani), seperti yang dikutip LIDAHIBU dari situs-web bbcindonesia.com, dapat dijadikan bahan rujukan. Ia menyatakan bahwa pada abad ke-19, kerajaan-kerajaan Jawa memiliki budaya <em>rampogan</em>, sebuah perhelatan adu-kuat yang diisi pertarungan seekor kerbau dengan 6 ekor harimau. Dan kerapkali yang tetap bertahan hidup adalah sang kerbau. Ia melanjutkan bahwa dalam sejarah Jawa sosok kerbau digunakan untuk melambangkan kebudayaan Jawa, sementara harimau jadi perlambang penjajah.</p>
<p>Melihat cara masyarakat Nusantara menaruh makna pada sosok kerbau, kita seharusnya bertanya: lalu, dari mana datangnya fitur makna-kias &#8216;orang malas&#8217;, seperti yang dicatat KBBI ed. ke-4 itu? Bila pembaca merupakan pemerhati sastra Indonesia, mungkin pembaca tidak asing dengan sebuah prosa karya Djamil Soeherman yang berjudul <em>Sakerah</em> (1985), hikayat seorang pendekar Madura di masa penjajahan Belanda. Dalam <em>Sakerah</em>, Djamil Soeherman menggambarkan beberapa dialog yang terjadi antara seorang Belanda pemilik perkebunan tebu dengan buruh-buruh bumiputera yang bekerja padanya. Di situ, pembaca akan menemukan kata <em>kerbau</em> muncul beberapa kali, terucap dari mulut tokoh tuan tanah yang Belanda itu sebagai makian yang menggambarkan buruh bumiputera sebagai &#8216;orang bodoh, lamban, dan pemalas&#8217;, sama seperti &#8216;kerbau&#8217;. Makian-makian seperti ini banyak tercatat dalam karya-karya sastra Indonesia, yang mengambil latar waktu masa penjajahan Belanda. Dari sumber ini, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa makian tersebut memang muncul pada zaman itu.</p>
<p>Nama-nama hewan memang kerap digunakan sebagai bahasa kiasan, baik dalam bentuk metafora maupun simile, untuk memaki seseorang. Indonesia memiliki sederet panjang nama hewan yang acapkali dipakai untuk memaki: dari <em>anjing</em> sampai <em>bangsat</em> alias <em>kutu</em> <em>busuk</em>. (Tentang hal ini, baca artikel Sitok Srengenge yang berjudul &#8220;Binatang&#8221;, di Majalah <em>Tempo</em> edisi 8-14 Februari 2010)</p>
<p>Makian adalah bentuk tutur kasar yang menohok, maka mudah lekat pada ingatan, dan akan lebih mudah bertahan dalam perbendaharaan kata sebuah bahasa. Jika sudah begitu, usahlah kita heran kalau <em>kerbau</em> sekarang justru lebih tenar dimengerti sebagai makian, yang bermakna &#8216;bodoh, lamban, malas&#8217;, seperti yang dikira SBY ditujukan padanya itu.</p>
<p>Sementara itu, Yosep Rizal, sang &#8216;gembala&#8217; yang membawa Kerbau SiBuYa ikut demonstrasi di Bundaran Jakarta itu, menanggapi keluhan SBY dengan santai. Seperti yang dikutip LIDAHIBU dari voa-islam.com, Yosep malah menantang balik SBY. &#8220;Kalau dia tidak merasa (gendut dan lamban), jangan tersinggung dong,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Kita, sebagai hadirin yang menonton &#8216;lakon&#8217; Kerbau SiBuYa pada unjuk rasa tanggal 28 Januari 2010 lalu, tidak harus bertungkus-lumus dengan motif makna yang dibawa oleh pengunjuk rasa yang mengajak kerbau untuk mendobrak pintu besi angkuh yang membentengi kota Jakarta. Yang justru harus kita curigai adalah cara SBY dalam menanggapi kejadian itu. Kita harus mempertanyakan wawasan kebudayaan nusantara yang dimiliki SBY, yang pernah diberi gelar elegan <em>The Thinking General</em> ini. Tidakkah SBY memahami makna-makna liyan kerbau yang berserakan di masyarakat adat Indonesia? Mengapa dia justru menanggapi simbol kerbau sebagai sebuah makian, yang dulunya diproduksi (diatur makna kiasannya) oleh para <em>Meneer</em> atau Tuan Sep Belanda itu? Tidakkah SBY, sebagai seorang Jawa saja setidaknya, memahami bahwa masyarakat adat Jawa sendiri punya cara positif memaknai kerbau? Tidakkah dia memahami peran kerbau dalam jagad pertanian Indonesia? Atau dia telah kehilangan ingatan tentang hal itu karena sekarang traktor sudah berseliweran di sawah para petani Indonesia? Malaskah kerbau, yang telah membantu banyak petani Indonesia menggarap lahan tani mereka?</p>
<div id="attachment_757" class="wp-caption alignright" style="width: 284px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/kebo-pulang-kampung.jpg"><img class="size-large wp-image-757 " title="kebo-pulang-kampung" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/kebo-pulang-kampung-456x499.jpg" alt="kebo pulang kampung" width="274" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">kebo pulang kampung</p></div>
<p>Masuknya kerbau ke Jakarta memang membawa segudang makna. Kerbau, sebagai simbol pertanian tradisional nusantara, dibawa ke pusat nadi hidup ibu kota (Bundaran Jakarta); tentunya ini bukanlah sebuah aksi-sok-aksi tanpa alasan yang <em>yahud</em> punya. Beberapa makna dapat kita catat, di sini LIDAHIBU hadirkan dua saja: (1) kerbau tersebut diibaratkan sebagai SBY, yang memang harus menjadi &#8216;kerbau&#8217;-nya Indonesia, meniti langkah-demi-langkah menggarap pekerjaan di &#8217;sawah&#8217; nusantara; dan (2) sebagai sebuah kritik pedas, kerbau tersebut diibaratkan sebagai &#8216;rakyat Indonesia&#8217;, yang diperas tenaga dan kantongnya oleh pemerintahan tak tahu diri yang menggunakan rakyatnya untuk membajak &#8217;sawah pribadinya sendiri&#8217;. Tidakkah memaknai simbol dengan cara ini lebih indah, lebih cerdas, dan lebih <em>thinking</em> daripada harus mengeluh-kesah tidak jelas, mengajukan tabiat &#8216;unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini&#8217; dalam agenda pembahasan di sebuah rapat kerja pemerintah?</p>
<p align="center">***</p>
<p>Anda penggemar musik <em>reggae</em>? Bila ya, Anda pasti sangat mengenal sebuah garapan musik yang dicipta oleh Bob Marley ini: <em>Buffalo Soldier</em>. Bob Marley, seniman dari Jamaika itu, menyadari semangat dan kerja-keras yang dimiliki dan diperbuat oleh sosok kerbau. Maka itu, ia menamai &#8216;prajurit&#8217; yang dibayangkannya dalam lagu itu sebagai &#8216;prajurit kerbau&#8217;, yang &#8216;dicuri dari Afrika, dibawa ke inti-jantung Amerika&#8217;. Bagi Bob Marley, budak-budak Afrika, yang dibawa oleh para penjajah kulit putih untuk &#8216;dicocok hidungnya&#8217; dan dipekerjakan di lahan-lahan perkebunan di Amerika itu, adalah para &#8216;prajurit&#8217;, yang melakukan pertempurannya langsung di kandang musuh. Mereka bukan &#8216;kerbau&#8217; (dalam pemahaman SBY), walau tenaganya diperas, walau kebebasannya dan hak-hidupnya dipasung, walau nyawanya rentan terhadap maut.</p>
<p>Harusnya SBY mendengarkan lagu tersebut, terutama pada lirik yang ini:</p>
<p><em>If you know your history,</em></p>
<p><em>Then you would know where you coming from,</em></p>
<p><em>Then you wouldn&#8217;t have to ask me,</em></p>
<p><em>Who the &#8216;eck do I think I am.</em></p>
<p>Ah, mungkin angan-angan itu berlebihan, presiden RI masa-kerja 2009-2014 kita ini lebih senang menciptakan lagu-lagu bernada pop berlirik elegan-normatif, yang dinyanyikan biduan-biduan pop. Dia juga lebih suka terharu-tersedu, disorot media, menitikkan air mata saat menoton film pop seperti <em>Ayat-ayat Cinta</em>. Apakah dia menitikkan air mata saat melihat kondisi para petani miskin dan anak buruh yang tak sekolah? Alamak!</p>
<p align="center">***</p>
<p>Kepala dan tanduk kerbau di gedung Bank Mandiri di Kodya Tebing Tinggi itu sampai kini masih tertancap di pucuk atap gedung itu. Semakin lama dilihat, rupanya semakin mirip dengan salah satu gambar-lambang yang tertera di dada Garuda Pancasila; gambar yang melambangkan sila ke-4 &#8216;Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan, perwakilan&#8217;; gambar yang sampai sekarang masih kita sangka sebagai gambar &#8216;banteng&#8217;. Hah? Banteng? <em>Apaan</em>?!</p>
<p>Kalau kepala kerbau ada di dada Garuda Pancasila, maka akan sangat lucu sekali bila SBY mengeluh-kesah tentang para pengunjuk rasa di negeri Pancasila yang menggunakan kerbau sebagai bahasa simbolik dalam aksi kritiknya.</p>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Kerbau%20%28dan%29%20SBY&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F24%2Fkerbau-dan-sby%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/24/kerbau-dan-sby/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Sponsor</title>
		<link>http://www.lidahibu.com/2010/02/06/pesan-sponsor/</link>
		<comments>http://www.lidahibu.com/2010/02/06/pesan-sponsor/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 14:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lidahibu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<category><![CDATA[#10]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lidahibu.com/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Armando Soriano
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lidahibu.com/kerabat-kerja/armando-soriano/"><em>Oleh Armando Soriano</em></a></p>
<div id="attachment_749" class="wp-caption alignleft" style="width: 287px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/komik01.jpg"><img class="size-medium wp-image-749" title="panel 1" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/komik01-277x181.jpg" alt="panel 1" width="277" height="181" /></a><p class="wp-caption-text">panel 1</p></div>
<div id="attachment_751" class="wp-caption alignleft" style="width: 287px"><a href="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/komik02.jpg"><img class="size-medium wp-image-751" title="panel 2" src="http://www.lidahibu.com/wp-content/uploads/2010/02/komik02-277x204.jpg" alt="panel 2" width="277" height="204" /></a><p class="wp-caption-text">panel 2</p></div>
<div class="addtoany_share_save_container"><ul class="addtoany_list"><li><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=Lidahibu.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F&amp;linkname=Pesan%20Sponsor&amp;linkurl=http%3A%2F%2Fwww.lidahibu.com%2F2010%2F02%2F06%2Fpesan-sponsor%2F"><img src="http://www.lidahibu.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Save/Bookmark"/></a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lidahibu.com/2010/02/06/pesan-sponsor/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
