edisi #10
Oleh Aditya Surya Putra dan Maria Anindita
SENI JALANAN YOGYAKARTA:
HARAJUKU DALAM KANVAS, ASPAL, TEMBOK, DAN SENG
Perkembangan seni jalanan Kota Yogyakarta dalam 10 tahun terakhir ini bisa dibilang maju pesat. Selain Pemkot Yogyakarta yang “membebaskan” beberapa ruang publiknya untuk dihiasi (baik dalam bentuk gambar, mural, seni stensil, poster, pamflet, dan lain-lain), antusiasme masyarakat Yogyakarta dalam mengapresiasi seni juga terbilang tinggi. Tak heran kalau pada akhirnya kota ini mendapat julukan sebagai Kota Seniman, selain sebutan lain seperti Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota Budaya, Kota Sepeda, mengingat banyaknya seniman-seniman tersohor Indonesia berasal dari kota ini, sebut saja Affandi, Herliani, Nasirun, Kartika, Bunga Jeruk, dan (tentu saja) Mas Greg Sindana yang ‘gagah perkasa’. Komunitas-komunitas seni juga menjamur: Komunitas Taring Padi, Mes-56, JogjaCrowter, Komikaze, dan lain-lain.
Nah, melalui rubrik ‘Fotolingugrafi’ kali ini, Tim DwiKodak akan menyorot bagaimana para seniman jalanan Yogyakarta menggunakan bahasa dalam karya-karya mereka. Ternyata, ada fakta menarik yang bisa ditemukan, misalnya penggunaan bahasa Inggris yang sangat dominan. Selain itu, penggunaan bahasa Jawa ternyata mengungguli bahasa Indonesia (mungkin karena faktor demografis bahwasannya Yogyakarta terletak di pulau Jawa dan sebagian besar warganya adalah suku Jawa atau mungkin karena bahasa ibu yang dominan di kota ini adalah bahasa Jawa). Lebih lanjut, penggunaan bahasa masing-masing pun dapat tersegmentasi sesuai dengan sasaran dari pesan-pesan yang ingin disampaikan. Bahasa Indonesia digunakan untuk menyampaikan pesan layanan masyarakat secara umum, bahasa Jawa lebih mengarah kepada apresiasi filosofis terhadap kehidupan penggunaanya, sedangkan bahasa Inggris sekadar digunakan untuk menyampaikan keluh kesah, walaupun penggunaan bahasa Inggrisnya salah.
Bagaimana fenomena seperti ini bisa terjadi? Menurut analisis Prof. Frank Raden, praktisi seni dan dosen FISIP Universitas Indonesia, dalam film dokumenter tentang pergerakan musik dan seni populer (cult), berjudul Global Metal garapan Samuel Dunn, masyarakat Indonesia ibarat anjing yang lepas setelah dipasung selama 32 tahun dengan tumbangnya rezim Orba. Anjing itu akan berlari sekencang mungkin, menggonggong sekeras mungkin, klaim pengencingan wilayah di mana-mana (territorial pissing), dan sebagainya. Indonesia pasca-1998 mengalami perubahan drastis di segala aspek, termasuk seni. Seiring dengan dibebaskannya urat berekspresi mereka, seniman-seniman mulai berani menuliskan pesan-pesan di jalanan. Dilihat dari karya-karyanya, pengaruh pergerakan seni avant-garde (garda-depan) sangat terasa seiring dengan kencangnya impor kebudayaan yang masuk ke Indonesia, mulai dari karakter-karakter yang bernafaskan komik ala Amerika, penempatan huruf-huruf dalam gambar-gambarnya dengan metode penyejajaran (juxtaposition), misalnya kata INFORMATION dipenggal-penggal menjadi INF/ORMA/TIO/N, dan sebagainya. Penggunaan bahasa Inggris yang lebih dominan juga dapat menjadi tolok ukur bahwa seniman jalanan di Yogyakarta sudah sangat jauh terpengaruhi oleh aliran Barat, seolah-olah mereka mengidolakan sesuatu yang kebarat-baratan. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah: mengapa banyak seniman jalanan Yogyakarta masih mempertahankan penggunaan bahasa Jawa, bahkan sampai mengalahkan jumlah penggunaan bahasa Indonesia dalam karya-karyanya?
Fenomena yang terjadi di Yogyakarta ternyata juga terjadi di Harajuku, distrik Shibuya, Jepang. Di kawasan ini, Anda bisa melihat sekumpulan anak muda mengenakan pakaian yang meniru tokoh-tokoh komik dan film, rambut dicat warna-warni, melakukan aktivitas yang dianggap keren, seperti breakdance, yo-yo freestyle, atau bermain papan seluncur (yang tampaknya diimpor dari budaya Barat). Namun, Anda tidak akan menemui satu manusia pun yang berbicara bahasa Inggris. Bahkan, sebagian besar dari mereka sama sekali buta bahasa Inggris. Ya, walaupun mereka hidup dengan cara Barat, mereka menggunakan bahasa nasional mereka, bahasa Jepang, untuk percakapan sehari-hari. Di satu sisi, mereka mengidolakan budaya Barat. Namun, di sisi lain, mereka masih berpegang pada identitas mereka sebagai orang Jepang yang berbahasa Jepang.
Kembali ke pergerakan seni jalanan di Yogyakarta. Selama proses perburuan gambar, Tim DwiKodak juga merasakan hal sama seperti yang terjadi di Harajuku. Tabrakan budaya dalam karya-karya seniman jalanan Yogyakarta (khususnya penggunaan bahasa) sangat jelas terlihat. Ada satu gambar Jolly Roger (tengkorak dan tulang) dengan tulisan “God Save the Faithful Departed” di satu sisi gang pasar Beringharjo dan di sisi yang lain, kita bisa menemukan gambar tokoh wayang dengan garis tepi khas komik Amerika yang dilengkapi dengan pepatah Jawa, “Cahyane Sumringah Atine Kudu Bungah, Cahyane Seneng Tandhange Gayeng”. Ada pula gambar karakter monster dilengkapi kotak dialog berbahasa Inggris, namun dengan latar belakang aksara Jawa. Hal-hal semacam ini menunjukkan kesamaan antara fenomena seni jalanan Yogyakarta dengan apa yang terjadi di Harajuku-obsesi terhadap budaya Barat disertai dengan dipertahankannya budaya lokal.
Sampai kapankah fenomena semacam ini akan berlangsung? Atau, mungkinkah lima atau sepuluh tahun lagi semua jalanan Yogyakarta akan dipenuhi dengan mural-mural gaya Amerika dengan tulisan-tulisan bahasa Inggris? Atau, malah sebaliknya? Atau para pembaca yang budiman punya pendapat lain? Berhubung Tim DwiKodak bukanlah Tuhan yang bisa menentukan masa depan, jadi kami tidak bisa menjawabnya. Namun, jangan kaget jika di kemudian hari para pembaca menemui gambar Salvador Dali mengenakan beskap, atau lirik lagu “Declare Independence” milik Bjork dituliskan di tembok jalanan Yogyakarta dengan aksara Jawa karena itu sangat mungkin terjadi.