Edisi #11

POSTER DAN SPANDUK UNTUK SBY

Oleh Aditya Surya Putra dan Maria Anindita Pranoto

Tanggal 28 Januari 2010 menjadi penanda akhir program 100 hari pertama pemerintahan SBY - Boediono. Banyak janji telah ditebarkan sebelumnya, namun realisasinya kurang bisa dipertanggungjawabkan. Menurut beberapa media cetak, pencapaian program 100 hari tersebut tidak lebih dari 10%, itupun belum mencakup sektor-sektor yang dianggap vital (sektor pendidikan, misalnya). Bahkan menurut survei para pengeblog di Indonesia, selama program 100 hari tersebut Presiden SBY malah terkesan sibuk “mencari muka” di depan para petinggi dunia, yaitu dengan selalu hadir pada pertemuan-pertemuan internasional ataupun dengan rencana pembelian pesawat RI-1 senilai US$85,4 juta, yang konon hanya untuk membuat Presiden AS Barrack Obama terkesan. Banyak reaksi kemudian bermunculan dari berbagai elemen masyarakat untuk mempertanyakan janji program. Puncaknya, aksi unjuk rasa secara besar-besaran yang juga dilakukan di berbagai daerah di Indonesia terjadi pada tanggal tersebut.

Pada hari yang sama, Mat Kodak bersama beberapa awak LIDAHIBU mencoba meliput fenomena penuntutan janji program 100 hari kabinet SBY - Boediono yang terjadi di Yogyakarta. Dua lokasi yang dipilih untuk aksi adalah Bundaran UGM dan monumen Serangan Umum Satu Maret, yang menjadi titik perhentian aksi setelah iring-iringan massa sepanjang jalan Malioboro. Tentu saja, sebagai majalah bahasa, LIDAHIBU menaruh perhatian lebih untuk penggunaan bahasa dalam orasi, poster,  dan spanduk yang dipakai oleh para pengunjuk rasa. Ternyata, walaupun sebagian besar pengunjuk rasa adalah mahasiswa-yang notabene berpendidikan, mereka tetap saja tidak bisa menghindari kesalahan-kesalahan berbahasa, baik dalam orasi atau tulisan yang diusungnya.

Karena media yang tersedia hanya kertas dan tinta, kami tidak dapat menunjukkan orasi-orasi yang dimaksud. Namun, kami akan mencoba menampilkan tulisan-tulisan dalam poster dan spanduk yang digunakan sebagai sarana komunikasi rakyat kepada pemerintahnya. Silakan dinikmati!

Komentar Foto

Foto 1, Foto 2, Foto 3: Tulisan-tulisan semacam inilah yang paling sering dilihat-SBY dinilai gagal dalam menjalankan pemerintahannya. Bahkan, di barisan depan para pengunjuk rasa, muncul poster besar yang memerintahkan SBY-Boediono untuk turun dari jabatannya dengan tulisan “TURUNKAN” yang diikuti dua tanda seru.

Foto 4: Singkatan SBY sudah lumrah digunakan untuk menggantikan nama presiden sejak masa kampanye tahun 2004. Namun, pengunjuk rasa yang satu ini mengubah kepanjangannya menjadi “Sri Mulyani-Boediono-Yudhoyono”-dua orang pertama yang ditulis dalam poster adalah orang-orang kesayangan SBY yang disebut-sebut terlibat dalam kasus Bank Century. Dalam unjuk rasa kali ini, kasus Century juga dikukuhkan sebagai tolok ukur kegagalan pemerintahan SBY.

Foto 5: Lagi-lagi singkatan SBY digunakan oleh salah satu pengunjuk rasa. Tapi, kepanjangannya, kok, agak maksa, ya, Mas?

Foto 6: Bukannya terkesan menuntut, lumrah dilakukan oleh pengunjuk rasa, kalimat dalam foto ini ini terkesan seperti kalimat berita biasa.

Foto 7: Istilah dalam permainan catur, checkmate (berasal dari bahasa Arab sah mata, ‘raja tak berdaya’) berusaha digunakan oleh pengunjuk rasa untuk mengekspresikan ketidakberdayaan SBY-Boediono pada masalah-masalah yang melanda pemerintahannya selama 100 hari pertama ini. Namun, alih-alih menuliskan checkmate, atau skakmat, mas yang satu ini malah memilih penulisan yang… amburadul. Skackmath?

Foto 8, Foto 9: Sungguh! Sampai majalah ini diterbitkan, Mat Kodak tidak tahu maksud dari tulisan-tulisan ini!

Foto 10: Apoloji? Hmm…Apakah PERMINTAAN MAAF sebagai ekspresi bahasa Indonesia untuk kata APOLOGY tidak bisa dipertimbangkan? Mungkin sang pengunjuk rasa hanya ingin menghemat ruang tulisan, mengingat kata-kata yang lain sudah berdesak-desakan.

Foto 11: Dua kata yang mengasosiasikan ‘penjahat’ digunakan dalam satu baris sebagai predikat tanpa diikuti objek, mengakibatkan Mat Kodak kebingungan selama beberapa menit. Yang diibaratkan sebagai ‘maling’ jelaslah SBY, Boediono, dan Sri Mulyani. Lalu, siapakah yang kemalingan? Rampok? Nah, rampoknya itu siapa, hayo…?

Foto 12: Dalam stilistika, kalimat poster haruslah mencolok, tegas, jelas, dan padat. Nah, kalimat dalam foto ini justru akan membingungkan pembacanya. Sudah kecil dan tertulis tipis hurufnya, jumlah uraiannya pun banyak.

Foto 13: Entah apa maksudnya, hanya sekadar olok-olok atau membuktikan melek iklan, mbak-mbak pengunjuk rasa yang satu ini menggunakan kata-kata dalam sebuah iklan rokok yang akhir-akhir ini gencar disiarkan di media massa.

  • Share/Save/Bookmark